Wednesday, November 5, 2008

Berkah Makanan

Mu’jizat Rasulullah S’AW: Makanan yang Diberkati

Ketika itu Rasulullah S’AW yang kita cintai tinggal di kota Madinah bersama para muslimin lainnya, Musuh-musuh Allah SWT di kota Mekkah berhasrat untuk menyerbu kota Madinah. Mendengar hal itu Rasulullah S’AW kemudian memerintahkan untuk menggali parit perlindungan di sekeliling kota Madinah. Pekerjaan yang berat itu pun dimulai, semua muslimin ikut serta dan membantu Rasulullah S’AW dengan sepenuh jiwa. Mereka bekerja keras sampai kelelahan. Cuaca yang sangat dingin membuat mereka semua kelaparan. Seorang Muslim berkata, “Oh Rasulullah! Kami sangat kelaparan. Kami mengikat batu-batuan di perut kami untuk menahan lapar.”

Rasulullah S’AW kemudian menunjukkan perutnya. Di bawah ikat pinggangnya Nampak dua buah batu, ternyata beliau pun kelaparan. Pada tahun itu memang terjadi masa kelaparan. Hingga berhari-hari tidak ada sesuatu pun untuk dimakan maupun diminum.

Suatu hari Jabir ra. – Sahabat Rasulullah – pulang ke rumah dan bertanya kepada istrinya: ”Istriku, adakah di rumah sesuatu untuk dimakan? Rasulullah S’AW tampak sangat kelaparan.” Istrinya menjawab: ”Selain seekor anak kambing dan segenggam gandum, kita tidak punya apa-apa lagi untuk dimakan.”

Jabir ra. Bergegas menyembelih anak kambing itu dan istrinya membuat tepung roti dari gandum. Ia meletakkan daging itu di dalam kuali dari tanah liat dan mencampur adonan roti dengan ragi. Kuali diletakkan dalam oven dari batu. Ketika Jabir ra. Hendak menemui Rasulullah S’AW, istrinya memperingatkannya: ”Suamiku, kamu tahu persis, di sini Cuma ada sedikit makanan. Saya tidak ingin mempermalukan Rasulullah S’AW! Makanan ini hanya cukup untuk beberapa orang.”

Jabi ra. Lalu menemui Rasulullah S’AW dan berkata padanya: ”Oh Rasulullah, saya memiliki sedikit makanan di rumah. Datanglah, kita makan bersama-sama.”

Rasulullah S’AW bertanya: ”Berapa banyak makanan yang kamu miliki?”

”Saya punya roti yang dibuat dari segenggam gandum, dan daging dari seekor anak kambing yang disembelih.”

Rasulullah S’AW berkata dengan senyum terpancar di wajahnya: ”Itu cukup banyak dan juga makanan yang lezat.” Kemudian beliau menambahkan: ”Pergilah dan katakan pada istrimu, jangan mengeluarkan daging dan roti dari oven sampai saya datang.”

Rasulullah S’AW kemudian membalikkan tubuhnya ke para muslimin, yang sedang bekerja di parit, dan berkata: ”Saudara-saudaraku, Jabir mengundang kita semua untuk datang pada jamuan yang sangat lezat. Ayo, kita berangkat sekarang.”

Ketika mendengar itu, Jabir ra. Merasa sangat kebingungan. Tapi ia tidak bisa mengubah keadaan. Makanan hanya cukup untuk beberapa orang dan tak mungkin dimakan oleh begitu banyak orang.

Dengan pemikiran yang berkecamuk itulah ia pulang ke rumah dan berkata pada istrinya: ”Rasulullah S’AW berkata padaku untuk menyampaikan pesan beliau agar tidak mengeluarkan daging dan roti dari oven sampai beliau datang. Rasulullah S’AW akan datang dengan semua orang yang bekerja menggali parit. Apa yang akan kita lakukan?”

Istrinya bertanya: ”Apakah kamu telah mengatakan berapa banyak makanan yang kita miliki?” ”Ya, saya telah mengatakannya.” Istrinya bertanya lagi: ”Jadi, kamukah yang mengundang semua orang atau Rasulullah yang telah melakukannya?”

Jabir ra. Menjawab: ”Rasulullah S’AW yang telah mengundang mereka semua.”

Istrinya berkata dengan nafas lega: ”Jika begitu, jangan kuatir! Rasulullah S’AW lebih mengetahui daripada kita.”

Beberapa lama kemudian Rasulullah S’AW datang bersama-sama dengan para muslimin lainnya. Beliau memberkati daging dan roti dengan doanya. Rasulullah S’AW berkata pada nyonya rumah: ”Bawalah satu loyang ke sini. Pangganglah roti bersama-sama. Ceduklah daging dari kuali sesendok penuh, tapi jangan sekali-kali mengeluarkan kuali dari dalam oven.”

Semua memandang Rasulullah S’AW dengan takjub. Beliau bangkit, dan mengambil sepotong demi sepotong roti dari dalam oven, mengisinya dengan sepotong daging dan membagi-bagikannya pada setiap muslim dengan porsi yang sama.

Setelah setiap orang mendapat bagiannya, berkatalah Rasulullah S’AW: ”Sebutlah nama Allah SWT sebelum mulai makan.”

Semua yang hadir makan hingga kenyang. Walaupun demikian roti dan daging tidak menjadi berkurang. Kemudian Rasulullah S’AW berkata pada nyonya rumah: ”Sisanya makanlah dan sebagian berikan kepada tetangga, karena seluruh penduduk saat ini sedang kelaparan.”

Jabir ra. Menjelaskan pada kami suatu hari: ”Saya bersumpah dengan nama Allah SWT, hari itu hadir sekurangkurangnya seribu orang. Semua merasa kenyang. Walaupun begitu, kuali kami tetap seperti sedia kala, seperti sebelum mereka datang. Roti kami juga tidak berkurang. Kami pun mendapat bagian dan dapat memberikannya juga pada tetangga-tetangga kami.”

Jika kita diundang oleh seseorang, hendaknya kita mendoakan tuan rumahnya, ’Allahumma baarik lahum fiima razaqtahum waghfirlahum warhamhum.’ Ya Allah, berkatilah apa yang telah Engkau berikan pada mereka. Ampunilah kesalahan mereka, dan kasihanilah mereka.”

Rasulullah S’AW bersabda, ”Barangsiapa yang percaya pada Allah SWT dan hari kiamat, maka ia hendaknya menghormati tamunya.” Menghormati di sini berarti, kita sebaiknya menyambut tamu kita dengan ramah, menghidangkan/menawarkan hal-hal yang baik, dan berbincang-bincang dengan nada yang sopan.

Sumber: majalah Alia

2 comments:

  1. subhanallah ya,,,indah jd inget beberapa hari yg lalu indah baru bgt denger kisah ini dr ceramah seorang ustadz,,
    mm,,,tidak ada yg tdk mungkin bagi allah,,,

    ReplyDelete
  2. yups.... bener banget....

    pasti hepi bgt y kalo qt bs ngejalanin semua ketentuan Allah dg ikhlas.

    Allah takkan menyia-nyiakan hamba-Nya :)


    trims ya ndah... commentnya (^_^)

    ReplyDelete