Saturday, March 14, 2015

Jujur adalah Kedamaian...

Jujur adalah kedamaian, sedangkan kebohongan adalah kegundahan. Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan dan kebohongan adalah kegundahan (keraguan)" merupakan isyarat untuk selalu jujur dalam segala hal, termasuk ketika menjawab suatu pertanyaan, atau memberikan fatwa. Adapun tanda dari kejujuran adalah ketenangan hati, sedangkan tanda kebohongan adalah kegundahan yang menyebabkan hatinya tidak tenang.


sumber: Buku 'Al-Wafi'

Beberapa Sebab yang Memungkinkan Dikabulkannya Do'a

Berikut ini sebab dikabulkannya do'a:

1. Perjalanan Jauh --> Perjalanan jauh menjadi sebab dikabulkannya do'a karena beban yang dirasakan kerap kali sangat berat. Semakin lama suatu perjalanan, do'a akan semakin dikabulkan.

2. Baju yang kusut dan kondisi tubuh yang sangat lelah --> dalam sebuah hadits disebutkan bahwa orang yang kondisinya seperti ini (karena lelah atau pun kemiskinan) andai ia berdo'a, tentulah Allah akan mengabulkan.

3. Menengadahkan kedua tangan --> Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya Allah itu Pemalu dan Pemurah. Ia malu untuk tidak mengabulkan permohonan hamba-Nya yang mengangkat kedua tangannya dalam berdo'a." (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi).

4. Benar-benar (sungguh-sungguh) berharap kepada Allah.


Sumber: Al Wafi

Aneka Pertanyaan...

Berikut ini adalah macam-macam pertanyaan:

1. Pertanyaan yang Diperintah

--> a. Bersifat fardhu 'ain, karena setiap orang wajib menanyakannya. Adapun pertanyaan yang bersifat fardhu 'ain adalah pertanyaan yg berkenaan dg urusan agama yg harus ia lakukan. Seperti yg berkaitan dg bersuci, sholat, puasa Ramadhan, zakat, haji, jual beli, nikah, dan perkara-perkara lain sesuai dg kebutuhan masing-masing mukallaf (org yg sudah terbebani kewajiban)


--> b. Bersifat Fardhu kifayah, artinya tidak semua orang wajib menanyakan, cukup sebagian saja. Yg terpenting, ada yang menanyakannya. Karena jika tidak ada yg bertanya, maka seluruh kaum muslimin mendapat dosa. Pertanyaan yg sifatnya fardhu kifayah ini adalah pertanyaan yang bertujuan untuk mendalami permasalahan. Misalnya mendalami masalah fiqih, hadits, tafsir, dsb. Pertanyaan seperti ini bertujuan untuk menjaga kemurnian agama, mengeluarkan fatwa, mengemban amanah dakwah, dan untuk mengajarkan kepada masyarakat berbagai masalah yg diperlukan, hingga mereka tidak terperosok ke dalam lembah kesesatan.


--> c. Bersifat Mandub (dianjurkan), artinya seorang muslim dianjurkan untuk menanyakannya. Contoh: menanyakan berbagai amalan sunnah, atau utk memperjelas hal-hal seputar sah atau batalnya satu perbuatan.


2. Pertanyaan yang Dilarang

--> a. Pertanyaan yang Haram, artinya orang yg bertanya akan mendapatkan dosa. Pertanyaan ini adalah pertanyaan tentang sesuatu yg dirahasiakan Allah. Misalnya tentang waktu tibanya hari kiamat, hakikat ruh, rahasia qadha dan qadar, dsb.

--> b. Pertanyaan yang bertujuan untuk mengejek

--> c. Bertanya tentang mukjizat dengan sikap menentang, sebagaimana yg telah dilakukan oleh orang-orang musyrik.

--> d. Menanyakan sesuatu yg rumit dan hampir tidak bisa dijawab.



3. Pertanyaan yang makruh (lebih baik ditinggalkan) --> pertanyaan yang sebenarnya tidak dibutuhkan, bertanya tentang sesuatu yg didiamkan oleh syara'



Sumber: Buku 'Al-Wafi'

Tuesday, March 10, 2015

Hikmahnya Baru Dirasakan Sekarang...

Dulu di masa kuliah S1, saya sempat bertanya-tanya ketika masih aktif di BEM Fakultas (baca: Badan Eksekutif Mahasiswa FMIPA Unpad), "kenapa ya, temen-temen atau pun kakak tingkat yang perempuan dari berbagai jurusan di fakultas ini ketika psikotest dan penempatan, lebih memilih untuk ditempatkan di Biro-biro semisal Kajian Strategis (Kastrat), Litbang, Kaderisasi, dan biro-biro kumpulan konseptor lainnya?" bahkan mereka 'terkesan' rela adu argumen di berbagai rapat, berdiplomasi sehebat mungkin, dan lagi-lagi 'terkesan' seolah ingin dinilai sebagai konseptor, intelek, visioner, dan layak ditempatkan di biro-biro potensial dan ujung tombak di BEM. Melihat kondisi seperti itu, saya memilih mengalah dan memilih untuk ditempatkan di biro yang kurang populer dan saya rela dianggap 'bukan konseptor' hanya untuk menghindari persaingan intelektualitas di berbagai forum-forum dan rapat-rapat para organisator fakultas. Saya rela juga mendapat predikat aktivis 'teknis' atawa aktivis lapangan yang lebih banyak menggunakan otot (baca: Biro entrepreneur kan kerjaannya jualan) dibanding argumentasi dan diplomasi. Sempat terlintas kekecewaan dan ketidak puasan dalam diri karena terkadang di rapat-rapat koordinasi saya tidaklah sedominan temen-temen yang berada di Biro-biro favorit tersebut. Di situ kadang saya merasa sedih (wkwkwk) :D

Hikmahnya baru saya rasakan saat ini, saya lihat-lihat kembali beberapa teman dan kakak tingkat dari berbagai jurusan alumni MIPA Unpad angkatan 2001 - 2003 (liat-liat di FB maksudnya, hehehehe :D), yang dulunya jebolan biro-biro potensial dan ujung tombak (motor) di BEM, ternyata kebanyakan mereka kini berprofesi menjadi entrepreneur, guru, motivator, dan lain-lain, serta bukanlah di lembaga-lembaga pemerintah atau birokrasi. Justru malah saya yang tadinya hanyalah aktivis kampus yang banyak berkiprah di urusan teknis, yang sekarang ini bekerja di bidang R&D (baca: Research & Development) a.k.a Litbang (Penelitian dan pengembangan) dan kerap kali juga saya menulis berbagai kajian strategis untuk perencanaan pembangunan, dan ketika saya ditugaskan untuk mengajar di salah satu perguruan tinggi milik Pemkab, saya rasa ada unsur dedikasi yang saya berikan pada mahasiswa berupa muatan pendidikan karakter yang dapat dikategorikan sebagai upaya kaderisasi dalam hal-hal positif.

Hikmahnya baru saya rasakan sekarang, begitulah adilnya Allah SWT, yang memberikan kesempatan pada teman-teman dan kakak-kakak tingkat saya di MIPA yang dulu itu untuk berkiprah di biro-biro potensial (Biro Kastrat, Litbang, dan Kaderisasi), sementara saya lebih ke teknis, Allah jualah Yang Maha Tahu, bahwa setelah lulus, ternyata mereka tidak lagi merasakan nuansa bekerja di biro-biro ujung tombak pada suatu badan/organisasi/birokrasi. Allah ingin memberikan mereka pengalaman manis dan sarat makna. Sementara saya, kini merasakan betul bagaimana rasanya berada di Litbang, beberapa kali mengikuti jalannya Musyawarah Perencanaan Pembangunan, dan merasakan bagaimana berkoordinasi dengan SKPD Teknis. Dan ini semua di dunia nyata, bukan lagi simulasi. Sasaran kegiatan sudah lebih luas, dibanding semasa di BEM dulu. Dan sekarang pun, insyaAllah saya tidak keberatan jika nantinya ada kesempatan berkiprah di SKPD Teknis (beberapa waktu yang lalu sempat kepikiran untuk pindah lapak, tapi gak jadi hehehe), untuk mendapatkan berbagai pengalaman nyata dan menjalani berbagai proses pembelajaran (satu-satunya hal yang membuat kita awet muda adalah terus belajar dan haus ilmu) ^_~

Apapun itu, yakinlah, menurut Allah itu terbaik. Kita mungkin terkadang mempertanyakan sisi-sisi keadilan dalam perjalanan hidup kita. Dan Allah menunda jawabannya di masa depan. Asalkan kita mau merenungkan kembali dan ambil hikmahnya ^_^

Wallahu a'lam bish showwab, mohon maaf jika ada salah kata, saya hanya tengah mengambil hikmah, merenung, dan berpikir (di situ kadang saya jadi happy, karena terus berpikir dan mencoba mengerti) ^^


*alumni BEM MIPA Unpad dari berbagai generasi, ayo dong mampir dimari & kasi comment dunk, biar rame, hehehe... ;)

Sunday, March 8, 2015

SURAT AL – ANFAAL

Surat Al – Anfaal (Surat Badar) termasuk surat Madaniyah, diturunkan setelah surat Al – Baqarah, secara urutan berada setelah surat Al A’raf dengan jumlah 75 ayat.

Perang Badar merupakan peperangan yang pertama kali dalam Islam. Allah Ta’ala menyebutkan surat ini Yaumul Furqan, karena ia adalah hari dimana Allah memisahkan antara hak dan bathil. Dialah hari yang menjadi bukti perbedaan antara 2 zaman, yakni zaman ketika Islam mengalami masa lemah, dan zaman saat Islam tampil dengan kekuatan dan memiliki umat yang banyak hingga sekarang.
Jika kemenangan diukur dengan materi, tentu kaum muslimin tidak akan mendapat kemenangan, mengingat jumlahnya hanya 313, sedangkan tentara kafir mencapai 1000 pasukan dengan peralatan perang yang lengkap.

Al Anfaal bermakna harta-harta rampasan perang (Al Ghanaa’im). Para sahabat memiliki pandangan yang halus mengenai surat Al Anfaal ini. Mereka mengatakan, “Ketika turun surat Al-Anfaal, kami semua dari kalangan sahabat Rasulullah S’AW berselisih pendapat tentang nafl (harta rampasan perang), dan sungguh buruk akhlak kami ketika itu.” Keburukan akhlak yang mereka bicarakan tidak seperti yang kita lihat sekarang. Mereka hanya hendak mengemukakan tentang perselisihan pembicaraan yang terjadi di kalangan mereka. Hal itu menunjukkan betapa agungnya etika dan ketawadhu’an mereka di kala itu.

Surat Al-Anfaal berbicara tentang beberapa faktor yang menunjang lahirnya suatu pertolongan. Kemenangan dapat dicapai melalui dua sebab utama berikut ini:

1.Yakin bahwa kemenangan (pertolongan) itu berasal dari Allah Azza wa Jalla, sebagaimana dalam firman-Nya, “Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah.” (Al-Anfaal: 10)

2.Mencari sebab-sebab atau melakukan usaha sungguh-sungguh untuk menyeimbangkan kekuatan yang dimiliki dengan kekuatan musuh, atau jika memungkinkan bisa melebihi kekuatan musuh. Selanjutnya membuat langkah-langkah dan perencanaan yang matang menurut ukuran materi apa saja yang dapat membantu tercapainya sebuah kemenangan.

Dalam surat ini ditegaskan pentingnya sikap tawakal kepada Allah, disertai sebuah keyakinan bahwa sesungguhnya hanya Allah yang dapat memberikan pertolongan. Hendaknya kita mengerahkan segala kemampuan semaksimal mungkin supaya kemenangan tersebut dapat diraih dengan kekuatan yang kita miliki (Keseriusan dalam perencanaan, dan kesungguhan dalam pelaksanaan.
Surat Al-Anfaal memberikan arahan kepada kita mengenai keharusan adanya keseimbangan di antara dua perkara yang berbeda. Pertama, kita harus mengimani adanya perencanaan Allah, dan kedua, kita harus mengusahakan faktor-faktor yang bersifat materi demi tercapainya kemenangan.

Dalam surat Al-Anfaal ini Allah SWT menjelaskan bahwa masalah pembagian ghanimah hanya bersifat far’iyyah (bukan sesuatu yang harus diutamakan) karena ia termasuk urusan duniawi.
Kemenangan pada Perang Badar terlahir berkat karunia dan keutamaan Allah SWT yang diturunkan kepada kaum muslimin, tercapai melalui:

1.Ketertiban Aturan Perang (Al-Anfaal ayat 5, 7, 8)
2.Persiapan Jiwa untuk Berperang (Al-Anfaal ayat 11)
3.Persiapan Mental Pasukan (Al-Anfaal ayat 43-44)
4.Turunnya Para Malaikat (Al-Anfaal ayat 9 dan 12)
5.Tempat dan Waktu Terjadinya Peperangan (Al Anfaal ayat 42)
6.Kemenangan hanya dari sisi Allah, Allah Yang Membinasakan musuh-musuh Islam (Al Anfaal ayat 10, 17, dan 24)
7.Siap menghadapi musuh dengan kekuatan (Al Anfaal ayat 60)

Faktor yang menjadi penopang tercapainya kemenangan adalah saling bantu dan meninggalkan perselisihan. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Anfaal ayat 46:

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu, dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Berdasarkan Al Anfaal ayat 62-63, disebutkan bahwa ukhuwah adalah termasuk faktor penting yang dapat menjadikan tercapainya kemenangan bagi orang-orang yang beriman.



Sumber: Buku 'Khowathir Qur'aniyah'

Friday, March 6, 2015

Sifat Orang Beriman Positif dan Aplikatif (dalam Surat Al Anfaal)

Ada banyak ayat dalam Surat Al Anfaal yang menunjukkan adanya keserasian di antara pengertian tawakal dengan melakukan usaha yang menjadi penopang tercapainya kemenangan. Di samping itu, terlihat pandangan yang sangat penting diketahui dalam surat ini.

Surat ini diawali dengan menyebutkan sifat orang-orang yang beriman dan penegasan terhadapnya: "...mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman." Juga pada ayat 74 menyebutkan mengenai sifat orang-orang yang beriman, "...mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman." Kedua ayat ini sama-sama menyebutkan tentang ciri-ciri orang yang beriman dalam bentuk yang berbeda.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal." (Al-Anfaal: 2)

Itulah sifat-sifat keimanan yang sangat halus. Bagian awal surat ini berbicara tentang sisi keimanan yang merupakan syarat tercapainya kemenangan.

Adapun pada bagian akhir surat berbicara tentang segi material yang merupakan faktor pendukung tercapainya kemenangan. Disebutkan sifat-sifat orang yang beriman adalah:

"...orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia." (Al-Anfaal: 74)

Orang-orang yang beriman adalah orang yang terkumpul padanya sifat-sifat yang disebutkan pada awal dan akhir surat. Mereka adalah orang-orang yang khusyu' (tunduk dan patuh) dalam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT. Mereka selalu berjihad di jalan-Nya, menolong agama-Nya, hidup demi Islam, dan terus berusaha secara konkret (dari segi material) mewujudkan tercapainya kemenangan. Ini ditegaskan dalam ayat yang secara fokus membicarakan hal itu. Allah SWT berfirman,

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu, dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung."

Dalam ayat ini disebutkan sejumlah faktor yang menjadi penopang tercapainya kemenangan. Perintah, 'Maka berteguh hatilah kamu' merupakan bagian dari usaha mencapai kemenangan. Perintah berdzikir dalam ayat, "dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya " meupakan bagian dari berserah diri kepada Allah sebagai Dzat yang menentukan kemenangan. Dan akhir ayat "agar kamu beruntung" bahwa keberuntungan berarti turunnya pertolongan (kemenangan) itu dari Allah. Aturan2 tersebut tetap berlangsung sepanjang sejarah. Hal itu tergambar dengan bentuk pengulangan pada ayat 52 dan 54,

"(keadaan mereka) serupa dengan keadaan Firaun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya...." (Al-Anfaal: 52 & 54)

Redaksi ayat tersebut diulang hingga dua kali sebagai bentuk penegasan maknanya. Ayat 52 menjelaskan bahwa sebab kebinasaan mereka adalah kufur kepada Allah SWT. Adapun ayat 54 menjelaskan bahwa sebab kebinasaan mereka adalah berbuat zhalim.

"... dan kesemuanya adalah orang-orang yang lalim." (Al-Anfaal: 54)

Monday, January 19, 2015

Syarat-syarat 'Kerja' yang Mengundang Ampunan Allah...

Ada beberapa syarat yang apabila terpenuhi pada suatu pekerjaan dan usaha maka pekerjaan yang kita lakukan itu dapat mengundang ampunan Allah.

1. Mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram. Karena ketika kita mengambil yang haram, maka kita tidak layak mendapatkan apa pun yang kita harapkan, apalagi ampunan dari Allah Ta'ala. Karenanya, Rasulullah S'AW selalu berpesan:

"Carilah rejeki dengan cara yang baik, ambillah yang halal dan tinggalkanlah yang haram." (HR. Baihaqi)


2. Pekerjaan itu tidak membuatnya lalai dari kewajiban-kewajiban lain sebagai seorang muslim, seperti sholat lima waktu dan sholat Jumat. Juga kewajiban lain sebagai seorang muslim, seperti sholat lima waktu, dan sholat Jumat.

Firman-Nya, "Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." (QS. Al-Jumu'ah (62):9)


3. Menunaikan apa yang menjadi kewajibannya dan meninggalkan hal-hal yang tidak sepatutnya dilakukan seorang pekerja atau pengusaha muslim, seperti mengambil apa yang menjadi haknya, dan tidak mengambil hak orang lain dengan cara yang bathil.

FirmanNya, "Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil, dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah (2): 188)

Senantiasa jujur dan tidak berdusta, menepati janji dan tidak menyalahinya, berusaha dalam sektor yang halal, bukan yang haram maupun syubhat, dan menggunakan hasil kerjanya untuk sesuatu yang baik dan halal, bukan untuk yang haram dan maksiat.


sumber: Syarah Lengkap Arba'in Tarbawiyah

Sunday, January 18, 2015

Fatimah Puteri Rasulullah S'AW

Fatimah adalah puteri pemimpin para makhluk, Abul Qasim, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim. Ibundanya Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid. Dia juga digelari Al-Batuul, yaitu yang memusatkan perhatiannya pada ibadah atau tiada bandingnya dalam hal keutamaan, ilmu, akhlak, adab, hasab, dan nasab. Dia adalah puteri keempat Rasulullah yang paling beliau cintai sehingga beliau bersabda, "Fatimah adalah darah dagingku, apa yang menyusahkannya juga menyusahkan aku, dan apa yang mengganggunya juga menggangguku."

Cinta Rasulullah S'AW kepada Fatimah terlukis dalam sebuah hadits dari Musawwar bin Mughramah, ia berkata: "Aku mendengar Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata ketika beliau sedang berdiri di mimbar, "Sesungguhnya Bani Hasyim bin Mughirah meminta izin kepadaku agar menikahkan puteri mereka dengan Ali bin Abi Thalib, aku tidak mengizinkan mereka. Kemudian tidak aku izinkan kecuali bila Ali menceraikan putriku dan menikah dengan putri-putri mereka. Sesungguhnya Fatimah adalah bagian dariku, meragukanku apa yang meragukannya, dan menyakitiku apa yang menyakitinya." (HR. Ash-Shahihain)

Fatimah lahir tahun ke-5 sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, bertepatan dengan peristiwa besar yaitu ditunjuknya Rasulullah S'AW sebagai penengah ketika terjadi perselisihan antara suku Quraisy tentang siapa yang berhak meletakkan kembali Hajar Aswad setelah ka'bah diperbaharui. Dengan kecerdasan akalnya beliau mampu memecahkan persoalan yang hampir menjadikan peperangan di antara kabilah-kabilah yang ada di Mekah.

Kelahiran Fatimah disambut gembira oleh Rasulullah S'AW dengan memberikannya nama Fatimah dan julukannya Az-Zahra, sedangkan kunyahnya adalah Ummu Abiha (Ibu dari bapaknya). Al Batuul (yang mencurahkan perhatiannya pada ibadah), Az-Zahra (yang cemerlang), Ath-Thahirah (yang suci), yang taat beribadah dan manjauhi keduniaan.

Ketika menginjak usia 5 tahun, terjadi peristiwa besar terhadap ayahnya, yaitu turunnya wahyu dan tugas besar yang diemban oleh ayahnya. Ia juga menyaksikan kaum kafir melancarkan gangguan kepada ayahnya. Sampai cobaan yang berat dengan wafatnya ibunda Khadijah. Ia pun sangat sedih dengan kepergian ibunya.

Pada saat kaum muslimin hijrah ke Madinah,Fatimah, dan kakaknya Ummu Kultsum tetap tinggal di Mekkah sampai Nabi S'AW mengutus orang untuk menjemputnya. Setelah Rasulullah S'AW menikah dengan Aisyah binti Abu Bakar, para shahabat berusaha meminang Fatimah. Abu Bakar dan Umar maju lebih dulu untuk meminang, namun Nabi menolak mereka dengan lemah lembut. Lalu Ali bin Abu Thalib datang kepada Rasulullah untuk melamar Fatimah, Nabi S'AW bertanya kepada Ali bin Abu Thalib, "Apakah engkau mempunyai sesuatu?" Ali pun menjawab, "Aku tidak memiliki apa-apa wahai Rasulullah." Beliau lantas bertanya lagi, "Dimana pakaian perangmu yang hitam, yang aku berikan kepadamu." Ali menjawab, "Masih ada padaku wahai Rasulullah." Nabi berkata, "Berikan itu kepadanya (Fatimah) sebagai mahar."

Lalu Ali pun bergegas pulang dan membawa baju besinya, setelah itu Nabi menyuruh menjualnya, dan baju besi itu dijual kepada Utsman bin Affan seharga 470 Dirham, kemudian, kemudian hasil penjualan itu diberikan kepada Rasulullah yang lantas beliau serahkan kepada Bilal untuk membeli perlengkapan pengantin.

Kaum muslimin merasa gembira atas perkawinan Fatimah dan Ali bin Abi Thalib, setelah setahun menikah mereka dikaruniai anak bernama Hasan, saat Hasan putranya genap berusia 1 tahun lahirlah Husein pada bulan Sya'ban tahun ke-4 H. Pada tahun ke-5 H ia melahirkan anak wanita bernama Zainab dan Ummu Kultsum.

Rasulullah S'AW sangat menyayangi Fatimah, setiap kali Rasulullah tiba dari bepergian ia lebih dulu menemui Fatimah sebelum menemui isteri-isterinya . Aisyah R'A berkata, "Aku tidak melihat seseorang yang perkataan dan pembicaraannya menyerupai Rasulullah selain Fatimah, jika ia datang mengunjungi Rasulullah, Rasulullah berdiri lalu mencium dan menyambutnya dengan hangat, begitu juga sebaliknya yang diperbuat Fatimah bila Rasulullah datang mengunjunginya."

Rasulullah S'AW mengungkapkan rasa cintanya kepada putrinya tatkala beliau berdiri di atas mimbar. "Sungguh Fatimah bagian diriku, Siapa saja yang membuatnya marah berarti ia telah membuat aku marah."

Setelah Rasulullah S'AW menjalankan haji wada' dan ketika ia melihat Fatimah, beliau menemuinya dengan ramah sambil berkata, "Selamat datang wahai putriku." Lalu beliau menyuruhnya duduk di samping kanan beliau dan membisikkan sesuatu, sehingga Fatimah menangis dengan tangisan yang keras, tatkala Fatimah sedih, beliau membisikkan sesuatu kepadanya yang membuat Fatimah tersenyum.

Tatkala Aisyah R'A bertanya tentang apa yang dibisikkan Rasulullah S'AW kepadanya, Fatimah menjawab, "Saya tak ingin membuka rahasia." Setelah Rasulullah S'AW wafat, Aisyah bertanya lagi kepada Fatimah tentang apa yang dibisikkan Rasulullah S'AW kepadanya sehingga membuat Fatimah menangis dan tersenyum. Lalu Fatimah menjawab, "Adapun yang beliau bisikkan kepadaku pertama kali adalah beliau memberitahu bahwa sesungguhnya Jibril 'AS telah membacakan Al Quran dengan hafalan kepada beliau setiap tahun sekali, sekarang dia membacakannya setahun 2 kali, lalu beliau bersabda, "Sungguh aku melihat ajalku telah dekat, maka bertakwalah dan bersabarlah, sebaik-baik salaf (pendahulu) untukmu adalah aku." Maka aku pun menangis, itu yang engkau lihat saat kesedihanku. Dan saat beliau membisikkan yang kedua kali, beliau bersabda, "wahai Fatimah, apakah engkau tidak suka menjadi penghulu wanita-wanita penghuni surga, dan engkau adalah orang pertama dari keluargaku yang akan menyusulku." Kemudian aku tersenyum.

Tatkala 6 bulan sejak wafatnya Rasulullah, Fatimah jatuh sakit, namun ia merasa bahagia karena kabar gembira yang diterima dari ayahnya. Tak lama kemudian ia pun kembali ke sisi Rabb nya pada malam selasa tanggal 13 Ramadhan tahun 11 H dalam usia 27 tahun.


Sumber: Mushaf Fatimah