Showing posts with label Books.... Show all posts
Showing posts with label Books.... Show all posts

Thursday, December 5, 2019

Menolak Takdir dengan Takdir



Menurut Syaikh Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah, Orang yang pandai (dalam agama) akan menolak takdir dengan takdir, mendorong takdir dengan takdir, dan menghadang takdir dengan takdir. Lebih dari itu, ia tidak dapat hidup kecuali dengan takdir. Maka segala kondisi, berupa lapar, haus, dingin, dan hal-hal lain yang menakutkan dan mengkhawatirkan berasal dari takdir pula. Manusia pada umumnya lupa untuk menolak takdir dengan takdir.

Ada dua poin penting tentang takdir. Pertama: mengetahui rincian sebab-sebab kebaikan dan keburukan. Jika kita mengetahui rincian ini, terbukalah kesadaran kita tentang takdir yang terjadi di alam semesta, apa yang kita alami dan kabar yang kita dengar dari umat yang terdahulu dan sekarang. Kedua: agar kita selalu waspada untuk mengintrospeksi diri berkaitan dengan sebab musabab takdir ini. Seorang hamba mengetahui bahwa maksiat dan kealpaan adalah penyebab datangnya mudharat.

Orang yang dikaruniai kepandaian oleh Allah dan diilhami petunjukNya akan dapat menolak dan mencegah takdir. Ia akan dapat mencegah takdir hukuman akhirat dengan takdir tobat, iman, amal sholeh, sedekah, dan do'a. Inilah perimbangan takdir. Serta sangat penting untuk memelihara takdir baik dengan sebaik-baiknya.

Wallahu a'lam bishshowwab

Tuesday, May 20, 2014

Kata-kata Cetar dalam Buku Inkspell & Inkdeath



Inkspell (Tintenblut) adalah buku ke-2 dari Trilogi Inkheart karya Cornelia Funke. Dan Inkdeath (Tintentod) adalah buku ke-3 dari Trilogi tersebut. Berikut ini beberapa kutipan kata-kata cetar dalam kedua buku tersebut, ada yang merupakan kata-kata dari Cornelia Funke sendiri & ada pula beberapa yang dikutip dari kata-kata cetar penulis lain...


Andai kutahu,
Dari mana asal puisi,
Ke sana lah aku akan pergi
(Michael Longley)


Bait demi bait
Padang pasirku sendiri
Bait demi bait
surgaku
(Marie Luise Kaschnitz, Ein Gedicht)



Kalau kau ingin mengubah sebuah cerita, kau hanya boleh menggunakan kata-kata yang memang sudah ada dalam cerita itu... (Cornelia Funke)


Aneh ya, kenapa buku yang dibaca berkali-kali sepertinya jadi lebih tebal? Seakan ada sesuatu yang tertinggal di antara halaman buku setiap kali kita menyentuhnya. Perasaan-perasaan, pikiran-pikiran, suara-suara, aroma-aroma,...dan kalau bertahun-tahun kemudian kau membuka halaman-halaman itu lagi, kau akan menemukan dirimu di dalamnya, kau yang sedikit lebih muda, sedikit berbeda, seolah buku itu mengabadikanmu...asing sekaligus akrab... (Cornelia Funke)



"Hatimu seorang petualang" itu yang selalu dikatakan Roxane kepada Staubfinger. ~ Inkspell


Dunia ini kelihatannya penuh sesak oleh kehidupan, namun pada saat yang sama terasa sangat hening, benar-benar keheningan yang tenteram, seakan-akan waktu tidak berwujud, seakan-akan tidak ada awal atau akhir untuk masa sekarang... (Cornelia Funke)


Mungkin menurutmu ini konyol, tapi barangkali kau sering mendengar betapa aku percaya bahwa suara setiap orang memiliki makna. (James Fenimoore Cooper, The Last of the Mohicans)


Kegelapan selalu memiliki peranan. Tanpanya, bagaimana kita tahu bahwa kita sedang menuju cahaya? ~ Clive Barker, Abarat


Ya, kasihku,
Dunia kita ini berdarah
Dengan kepedihan yang lebih besar daripada kepedihan cinta...
(faiz Ahmed Faiz, The Love I Gave You Once)


Ingatan yang paling kuat lebih lemah
daripada tinta yang paling pucat
~Pepatah Cina


Percayalah padaku. Terkadang saat hidup kelihatannya berada di titik tergelap, ada terang tersembunyi di tengah semua itu.
~ Clive Barker, Abarat


Dunia ada untuk dibaca. Dan aku membacanya.
~Lynn Sharon Schwartz, Ruined by Reading


Ketika kau pergi, ruang waktu tertutup seperti air di belakangmu,
jangan melihat ke belakang,
tidak ada apa-apa di luar dirimu,
ruang hanyalah waktu yang tampak dengan cara yang berbeda,
tempat-tempat yang kita cintai yang tak pernah bisa kita tinggalkan...
~Ivan V. lalic, Places We Love


Aku menulis namamu...
Namamu menggelembungkanmu, lebih besar daripada dirimu.
Kau beristirahat di sudut, tidur;
Namamu membangunkanmu.
Aku menuliskannya.
Kau tidak bisa dinamai dengan nama yang lain.
Namamu adalah intisari hidupmu, rasamu, baumu.
Bila dipanggil dengan nama lain, kau menghilang.
Aku menuliskannya.
Namamu.
~quoted by Susan Sontag, The Letter Scene



Terkadang seribu instrumen berbunyi sengau,
akan berdendang di telingaku.
dan terkadang suara-suara,
Bahwa, bila aku terbangun setelah tidur panjang,
akan membuatku tertidur lagi, dan kemudian, dalam mimpi,
awan-awan dalam benakku akan terbuka dan menunjukkan kekayaan (jiwa)
yang siap tercurah atasku, sehingga, ketika kuterbangun,
aku menangis ingin bermimpi kembali.
~William Shakespeare, The Tempest




Wednesday, March 5, 2014

Buku "Bunda Sayang" (recommended for every mom) ^_~


Buku ini direkomendasikan buat para ibu dan calon ibu di seluruh Indonesia. Ini Produknya IIP (Institut Ibu Profesional). Buku ini memuat 12 teknik cerdas dan menarik dalam mendidik anak, di antaranya: bagaimana melatih kemandirian anak sejak batita, memotivasi anak untuk belajar matematika dengan teknik yang mudah, mengasah kreativitas anak, menumbuhkan kesadaran anak untuk peduli lingkungan sekitarnya, menanamkan sikap postif pada anak dalam segala hal, mengatasi gangguan tidur pada anak, dll. Oh iya, niy Buku Seri 1, jadi insyaAllah akan ada edisi berikutnya nih ibu-ibu sekalian... (gak sabar baca seri berikutnya). Istimewanya, buku ini memberikan teori dalam satu bab, dan contoh praktek nyata pada bab berikutnya, mantapks dech ^^

Buku ini sangat memudahkan para ibu untuk mengoptimalkan perannya dalam Parenting. Sehingga cocok dan saling melengkapi dengan program 'Menjadi Ayah Hebat'-nya pak Irwan Rinaldi yang ada bukunya juga, hehehehe....

InsyaAllah dengan menjadi Ibu Profesional dan Ayah Hebat, akan bermunculan ribuan bahkan jutaan generasi muda mendatang yang luar biasa, cerdas, kreatif, dan inovatif untuk mengangkat bangsa ini menjadi lebih maju di segala bidang.... :D

Sunday, January 12, 2014

Sinopsis Buku 'Dua Belas Pasang Mata'

Dua Belas Pasang Mata ~ by. Sakae Tsuboi



Sebagai guru baru, Bu Guru Oishi ditugaskan mengajar di sebuah desa nelayan yang miskin. Di sana dia belajar memahami kehidupan yang sederhana dan kasih sayang yang ditunjukkan murid-muridnya. Sementara waktu berlalu, tahun-tahun yang bagai impian itu disapu oleh kenyataan hidup yang memilukan. Perang memorak-morandakan semuanya, dan anak-anak kini beserta guru mereka harus belajar menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Friday, January 3, 2014

Sastra (Klasik) Paling Romantis...

1. Jane Eyre, by Charlote Bronte



2. Emma, by Jane Austen



3. Gone With The Wind, by Margaret Mitchell


4. Don Quixote, by Miguel De Cervantes



5. Anna Karenina, by Leo Tolstoy



6. Wuthering Heights, by Emily Bronte




7. Doctor Zhivago, by Boris Pasternak



8. Two Part Invention, by Madeleine L'Engle











Sunday, December 22, 2013

Resensi Buku: Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta ~ Karya Tasaro GK


Readers, lebih tepatnya apa ya, sebutan untuk ulasan kali ini? Resensi atau Review? Terserah Readers deh, boleh disebut Resensi karena cetakan tahun 2013, boleh juga disebut Review, kalo ternyata Readers dah baca juga, hehehehe :D

Tasaro GK adalah salah satu penulis favorit Bunga (selain Tere Liye, Kang Abik, dan Ilana Tan). Secara penampakan, buku ini unik, lebih cocok dibilang cantik. Karena kertasnya tebal, pinggiran buku didesain berborder warna-warni. Tiap Cerita dibedakan dengan warna border berbeda. Oiya, ini bukan novel, bukan pula kumcer. Biar bunga tebak, buku ini mengikuti pendefinisian karya pada 'Filosofi Kopi' karya Dee (Dewi Lestari). Tapi bedanya, 'Filosofi Kopi' memuat cerita-cerita yang sangat sangat pendek (bahkan belum bisa disebut Flash Fiction), sekaligus juga cerita yang sangat panjang, tapi belum bisa dikategorikan sebagai novel, jika didefinisikan sebagai cerpen, tentunya kepanjangan. Nah buku ini, memuat kumpulan cerita yang lebih panjang dari cerpen, tapi belum bisa disebut novel. Keunikan berikutnya adalah di halaman pembuka, Tasaro menuliskan: Untuk Dewi "Dee" Lestari. Mungkin karena alasan yang bunga sebutin tadi, semua yang ada lebih panjang dari cerpen, sehingga dibukukan. Atau mungkin dulu atau sekarang ini Tasaro dan Dee pernah temenan atau yang lainnya (gak perlu juga menduga-duga hehehe). Penampakan lain yang bisa didapat dari buku ini adalah: Lukisan Abstrak di setiap cerita baru akan dimulai. Lukisan-lukisan Abstrak ini merupakan karya jenius dari Dredha Gora Hadiwijaya.

Buku ini terdiri dari 9 cerita, di antaranya Puisi (Akhir Cerita ditutup dengan puisi karya Rahne Putri), Roman Psikopat, Galeri, Bukan Malaikat Rehat, Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta, Tuhan Nggak Pernah Iseng, Separuh Mati, Atarih, dan Kagem Ibuk. Di beberapa cerita, ada kemiripan dari segi tema (bisa dirasakan benang merahnya). Dan Tasaro kali ini berusaha membuat sensasi sad ending menjadi flat ending. Karena jujur saja, walaupun beberapa cerita sejatinya gak happy end, Tasaro menyulapnya menjadi terasa flat, gak nyakitin, jadi kita yang baca gak perlu mengurut dada. Tenang saja, ada kata-kata penenang di sana, dan...Thank God, jika diselami maknanya, bener banget deh tuh kata-kata.

Okay, ulasannya dimulai dengan menanggapi Cerita berjudul: Tetap Saja Kusebut (Dia) cinta. Kenapa bunga pilih mengulas yang ini? karena Cerita ini yang dijadikan cover (sederhana aja siyh alasannya :)). Kisah ini diawali dengan latar Gunung Tengger, kondisi demografis penduduknya, adat istiadat Tengger, dan penggambaran gunung Brahma (Bromo) secara geografis. Cerita ini sebetulnya secara tidak langsung mengajarkan agar kita tidak mengkambing hitamkan perbedaan, dikemas dalam perjuangan jiwa dua insan, adalah Angaraka dan Arumdhati, bergulat dengan pikiran-pikirannya, dengan keyakinan-keyakinannya, saling memikirkan meski tak bertemu hingga hampir 25 tahun. Hingga akhirnya dipertemukan kembali pun, tak serta-merta membuat mereka menyatu. Berakhir dengan kenyataan bahwa mereka memilih menikmati sensasi yang berbeda dari keadaan yang ada. Terlepas dari perbedaan yang disinggung-singgung, seperti biasa, bunga akan mengutip bagian-bagian berkesan dari buku ini (bukan soal perbedaan yang bunga soroti kali ini):

Gejolak Batin Arumdhati

Entah sudah berapa kali matahari tenggelam mereka saksikan, ketika langit keemasan dan siluet Gunung Batok bersinggungan dengan Pegunungan Tengger menjadi kehitaman. Ketika pikiran dan ingatan terhadap Angaraka begitu meringkusnya, bagi Arumdhati, mengirimkan bingkisan ke kaki Gunung Brahma (bingkisan untuk ibu Angaraka) adalah pelepasannya. Sebab, dia percaya, dengan Angaraka, tak mungkin lagi ia berjumpa. Kalau pun berjumpa, Arumdhati tak tahu lagi apa gunanya.

Bagi Arumdhati, menerima kehendak takdir bahwa dia tak berjodoh dengan Angaraka adalah satu hal, sedangkan melupakannya benar-benar adalah hal lain.

Arumdhati meniatkan diri untuk tidak pernah menyentuh kehidupan Angaraka, namun memohon kepada Penguasa Alam agar dibolehkan melepaskan energi kasih sayangnya. Tak akan mudah untuk dipahami. Sepuluh tahun, sepuluh bingkisan, sepuluh kebahagiaan. Dia lalu melakukan ini, sesuatu yang telah dia lakukan puluhan tahun lamanya. Memejamkan mata, lalu mengulang lagi kenangan-kenangan dalam benaknya. Dulu sekali, ketika senyum Angaraka begitu mengayomi, melunakkan hati Arumdhati.

Arumdhati hanya tahu, ketika perasaan itu datang, segala sendi kekuatan benar-benar terlumpuhkan. Tinggal airmata yang menjadi pelepasan. Juga do'a kecil agar Angaraka mendapat kehidupan yang cemerlang. Tapi malam ini, Arumdhati hendak mengetahui untuk dirinya sendiri, apakah memang benar di masa depan tak akan ada lagi cerita dan dia hanya akan mati tanpa penjelasan yang pasti.

Tepat di saat Arumdhati merasa udara begitu pepat dan keras menekan dada, dunia seperti habis berguncang di dalam ruangan tempat Angaraka menyelesaikan lukisannya.

Kepasrahan Arumdhati tidak pernah benar-benar selesai. Setiap dia membisik, "Pergilah, semoga bernasib baik. Aku akan tetap mengingatmu," pada saat bersamaan separuh batinnya pun bicara, "dia ada di sana, masih pula menungguku. Ingin mengatakan perasaan itu kepadaku."

Tetapi kini, ketika dia berhasil hidup jauh dari kenangan-kenangan itu, Arumdhati pun tahu dia hanya berusaha untuk menipu diri sendiri. Sebab, pada puncak kesadarannya, Angaraka ada dimana-mana. Arumdhati tidak pernah benar-benar beranjak dari masa lalu. Bahkan ketika dia berusaha untuk mencipta dengan seninya, tetap saja itu tentang... Angaraka. Pemikiran itu memercikkan sesuatu ke dalam mata Arumdhati.

Arumdhati merasakan kenikmatan dan ketersiksaan pada waktu yang sama. Setelah dua puluh lima tahun, ini pertama kali dia berhadap-hadapan dengan Angaraka. Mendengarkan suaranya, merasakan kejernihan kalimatnya, melihat bahasa tubuhnya.

"Kamu sudah bertemu gadis yang kamu pilih," Arumdhati menggeleng. "Aku tidak mau mengganggu hidup kalian." Bertemu di udara, pandangan Arumdhati dan Angaraka. Berdiam kedua-duanya.

"Hadiah-hadiah itu," Arumdhati menyusun kalimatnya lagi,"...tidak pernah menjadi hadiah yang biasa. Aku mengusahakannya sekuat tenaga."

"Aku tahu..."

Jawaban itu...

Dua kata yang dari bibir Angaraka itu, lebih dari apa pun diingini Arumdhati menggema di lorong telinganya, saat ini.

"Dia tahu..."


Arumdhati tertahan napasnya. Tapi ada kalimat panjang yang berderet pada pikirannya. Arumdhati pun tidak pernah tahu dua puluh lima tahun ini, apa sebenarnya makna perasaan yang mengeram dalam batinnya....Mungkin...tetap saja, kusebut dia cinta.



Getaran Jiwa Angaraka


Menatap lukisan tanpa judul itu, Angaraka merasa telah tersesat. Lukisan yang mencampur banyak warna dan bentuk itu membuatnya berhenti. Tak bisa bergerak lagi. Gunung putih dengan kubah lava menganga di kiri kanvas menyeretnya pada kenyataan bahwa ada hal yang belum selesai di masa lalu.

Karena Angaraka merasa dirinya bagian dari kebanyakan orang dalam menjalani usianya, dia pun sama tak terbiasa membicarakan apa yang dia rasa. Hal-hal yang menggetarkan perasaan, yang mengerut dan mengulur waktu, membuat mimpi-mimpinya tak tenang, kadang justru indah secara berlebihan.

"Lukisan itu...", pandangan Arumdhati tertahan pada lukisan yang sedari tadi memang telah menarik hatinya. "Itu lukisan kanvas pertamaku," Angaraka bangkit. Mendatangi lukisannya, mendekatkannya ke sumber cahaya di ruangan itu. "Aku melukisnya untukmu."

"Tadinya aku tak sanggup menemukan judul untuk lukisan ini," Angaraka mengelus bagian pinggir lukisannya, "...tapi aku sudah menemukannya." Angaraka tersenyum lagi. Pada dinginnya senja, senyumnya semacam bara yang menghangatkan suasana. "Tetap Saja Kusebut Dia...", Angaraka menoleh ke Arumdhati, "...Cinta."

Angaraka masih tersenyum. Bukan sebuah senyum kesedihan. "Ada waktunya perasaan itu mencapai klimaksnya ketika terjadi sebuah pengakuan, kesepahaman, tak melulu mesti berupa penyatuan."

Angaraka bersedekap. "Cinta kadang memiliki dimensi yang terbatas pada rasa saja. Kebutuhannya sampai di situ."

Angaraka tampak teramat bahagia, "...ketika kita tidak sanggup melupakan seseorang hingga berpuluh-puluh tahun, dan orang itu tahu apa yang kita rasakan. Lalu dia juga merasakan hal yang sama," Angaraka memasukkan dua telapak tangannya ke saku jeans-nya, "...itu sudah cukup."

"Hidup masih berjalan. Sedangkan sensasi cinta itu justru terletak pada ketidak bersatuan, ketidak bersamaan," Angaraka meneruskan senyumnya. "Apa yang harus dikhawatirkan?"

Angaraka melihat`lagi lukisan istimewanya dengan mata menyendu, juga dada yang berdeburan. "Ruh cinta mendarat dengan cara yang berbeda dan memberi efek yang berbeda juga, pada setiap hati anak manusia." Tatapan Angaraka seolah menembus lukisan itu, menghidupkan gunung Brahma, tempat Arumdhati pada saat yang sama tengah tertawa dengan suara bahagia. Rambut panjangnya tak berkepang, bebas berkibaran diterjang angin pegunungan. Di sekelilingnya, bocah-bocah Tengger mengikutinya, menuruti gerakannya, menarikan tangan dan kaki mereka.

Saturday, November 23, 2013

Kutipan Secangkir Puisi dalam Buku: Poet Cafe...

Poet cafe ~ Segentong Cinta Secangkir Puisi...
Penulis: Aen Trisnawati
Penerbit: Rumah Kreasi



Postingan kali ini akan mengutip puisi-puisi yang ada pada Buku Imut yang berjudul 'Poet Cafe'. Ada Berbalas puisi, dan ada juga puisi berbahasa Belanda. Menarik untuk dinikmati ;)


Secangkir Puisi


kubiarkan hatimu membunuhku dengan degupan yang teramat kencang
karena kerinduan menjadi usang pada malam-malamku
biar jiwa lalu bersama waktu
seperti seiris keju meleleh di atas kuku
dan cinta kunafikan pada baris-baris salju
membeku, menunggu maut...



selanjutnya dibalas dengan:

Perlahan aku paham kenapa kau tak lekang dalam ingatan
Karena kau begitu mawar pada lipatan kenanganku
bersama riuh kesunyian, kukenangkan bola matamu

Aku pun menulis rindu di atas gemuruh
menitipkannya pada buih
berharap kan sampai di pantai seberang
mungkin di sana kau menunggu
terdampar dan tak tahu jalan pulang

Genggamlah kerinduanku
Ia akan mengantarmu pada arah rumah
di mana kehangatan kan menyelimuti kepercayaan
kemudian, lupakan silsilah duka dan sejarah luka
sejenak ia mampir agar kita tak mati karena bosan
begitulah rumusan bahagia para pujangga...




Kerlap-kerlip di Perjuangan



waktu akan terasa lambat bagi mereka yang menunggu
terlalu panjang bagi yang gelisah
dan terlalu pendek bagi yang bahagia
namun waktu adalah kebahagiaan
bagi mereka yang mampu bersyukur


*Bait Puisi ini pembuka Bab 9, lalu mari beralih ke bait puisi berikut ini:

banyak hal telah dilakukan waktu
namun pelan-pelan akan kukemasi kerinduan ini hingga menjelma gerimis
meski kutahu tangisku tak sebening hujan
tapi rinduku akan kubawa hingga ke tanah basah...



Berikutnya Puisi berbahasa Belanda (buat readers yg penasaran, artiin sendiri pake google translate ya, hehehe :D)

Ik haat je niet. Lief heb ik je en gedood,
Zoals men vaker doet om te overleven
Je weet dat ik geen keuze had: 't was jij,
Of ik nu wilde of niet. Je had gezondigd.
Het was een vreemd soort sterven, vind je niet?



Kemudian Puisi tentang senja dan kopi

Ingatkah kau pada senja di kedai kopi?
kita berbincang tentang musim semakin dingin
tentang puisi absurd di dinding museum
tentang tugas yang menumpuk
tentang kerinduan
tentang kita

namun,
sekalipun kita terikat
seperti kopi dan cangkirnya
jika kau bukan untukku, maka berlalulah

kita serupa matahari dan rembulan
selalu berkejaran tanpa bisa bertemu
serupa siang dan malam
saling melengkapi, namun tak bersahabat

kau dan aku
adalah episode tak terdefinisikan



Puisi Penyair Belanda (Rudi Kousbroek) yang sedikit dimodif dalam Bab: Tersenyumlah maka kau Ada

Ik weet wel je nog niet slaapt,
Maat ligt te luisteren.
Het is niet de wind, die je om de bomen hoort ruisen,
Maar je naam.
Het zijn niet de regendruppels die jo hoort vallen,
Maar het verlangen.
Het zijn niet de schelpen die heen en weer rollen op de vloedlijn,
Maar de herinneringen.
Zullen we altijd bij elkaar zijn
Alles is al eens eerder gebeurd



yang ini dibantu translate deh:

aku tahu bahwa kamu belum tidur,
tetapi terbaring mendengar.
Bukan angin, yang kamu dengar berdesir di sekeliling pohon-pohon,
tetapi namamu,
bukan tetes-tetes hujan yang kamu dengar jatuh,
tetapi kedambaan.
Bukan kerang-kerang yang berguling bolak-balik di garis tinggi air pasang.
tetapi kenang-kenangan.
kita selalu akan bersama-sama.
semua pernah terjadi dahulu kala....



Nah, gimana readers, seru kan puisinya???? ^^







Wednesday, November 20, 2013

Puitis, Meaningful, & Sedihnya Kisah Sang Penandai ~ Tere Liye

Aku selalu semangat membicarakan tentang buku. Terutama Fiksi. Salah satu penulis favoritku adalah Tere Liye. hampir semua novel tulisan Tere Liye udah aku baca. Sebut saja: Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Sunset Bersama Rosie, Kau Aku dan Sepucuk Angpaw Merah, Ayahku (Bukan) Pembohong, Moga Bunda Disayang Allah, Negeri Para Bedebah, Bidadari-bidadari Surga, Hafalan Sholat Delisa, Eliana, Pukat, Negeri di Ujung Tanduk, Daun yang Jatuh Tidak pernah Membenci Angin, dll. Nah ada Novel Tere Liye yang secara cover terlihat jadul, judulnya 'Kisah Sang Penandai'. Covernya menggambarkan seorang tua dengan jenggot beruban bersama seorang anak muda yang memetik gitar Arab tengah memandang lautan. Kesannya seperti kisah petualangan di laut, aku awalnya kurang interest, jadi aku baru buka buku ini setelah berbulan-bulan lalu aku beli. Buku ini aku anggurin di rak buku. Setelah semua buku yang kubeli habis kubaca(ada sekitar 30 buku kuborong sekaligus, mpe kantong bokek n misua rada senewen), udah semingguan ini aku gak baca buku. Kemarin aku pengen baca buku lagi, Aku terpaksa baca buku Kisah Sang Penandai ini (coz semua novel udah dibaca). Tapi ternyata maknanya dalem banget. Makanya ada pepatah Asing yang bilang: Don't judge a book by it's cover. Nah, akhirnya aku selesei juga baca buku ini. Jam 3 malem aja aku masih baca Kisah Sang Penandai ini. Ending-nya nggak ketebak olehku (Baca: salah tebak akunya). Tapi Happy Ending koq ^^ Banyak kejutan juga di buku ini. Kalo sinopsis, resensi, dan review dari Kisah Sang Penandai ini, mungkin bisa ditemukan di beberapa blog lain yang seliweran di dunia cyber. Hm, Sang Penandai berasal dari kata andai. Uniknya, Tere Liye memilih kata 'Penandai' dan bukan 'Pengandai'. Mungkin agar lebih puitis dan membuat ambigu. Bukankah justru judul-judul yang seperti itu lebih membuat penasaran, sexy dibaca, dan lebih menjual, karena bisa beda2 penafsiran tiap orang. Oh iya, Aku kali ini bakal mengutip bagian-bagian yang ada kata-kata puitisnya, bagian-bagian sedih dalam buku ini, dan bagian-bagian yang menyiratkan ibroh (meaning/hikmah) a.k.a pembelajaran. Berikut ini kulikannya hehehe ^^


Bagian-bagian yang ada kata-kata puitisnya:

Senyap. Hanya semilir angin menelisik daun telinga. Bulan separuh menghias di atas sana. Tertutup gumpalan awan tebal....

Burung camar melenguh di kejauhan menyambut malam, pulang ke sarang. Desau angin malam mulai terasa kencang, membuat dingin...

Semua terlihat jingga. Matahari senja hampir terbenam di ufuk barat. Langit berwarna jingga. Buih ombak laut yang tenang memantulkan warna jingga. Bangunan-bangunan kota tersaput jingga. Gumpalan awan putih terlihat kemerah-merahan, jingga.

Malam itu, bahkan angin pun enggan bertiup. Laut senyap oleh ketegangan. Bulan dan bintang-gemintang tertutup mendung tebal...

Burung berkicau menyambut pagi. Kabut tipis mengambang di sela dedaunan pohon cemara....



Bagian-bagian sedih dalam Kisah Sang Penandai:

...Ingin menumpahkan semua kenangan menyedihkan dalam nyanyian....

Lihatlah! kematian itu datang begitu saja. Seolah-olah dengan demikian tidak ada lagi yang harus diratapi.

Lihatlah betapa banyak yang harus menderita oleh perasaan cinta. Terkungkung oleh sesuatu yang tidak pernah mereka inginkan. Terjebak dalam perasaan yang tidak terhindarkan, membuat hilang akal sehat. Apalah dosa para pencinta sehingga terkadang mereka harus menanggung beban perasaan itu seumur hidup?

...Entah mengapa bisa tersesat dalam semua takdir ini....

Seabadi apa pun kisah cinta yang kalian kenal, pastilah mengenal kata berpisah.... :(



Bagian-bagian yang menyiratkan ibroh (meaning/hikmah) a.k.a pembelajaran:

Ada miliaran orang di dunia ini yang setiap harinya menemukan cinta mendalam yang menggelora, menemukan belahan jiwanya, sayangnya, hanya satu dari seribu yang benar-benar bisa mewujudkan mimpi kisah hebat bersama cinta terdalamnya. Sisanya, ada yang bisa keluar dari jebakan itu secara baik-baik karena Pemilik Semesta Alam sedang berbaik hati, ada yang berpura-pura bisa mengikhlaskannya pergi.

Orang-orang yang kehilangan cinta terdalam, berpura-pura bilang kepada semua orang bahwa ia telah berhasil melupakannya. Pura-pura berlapang dada melepaskannya, tapi apa yang terjadi saat ia tahu sang kekasih pujaan hati telah menikah dengan orang lain. Hati mereka berdengking sakit. Saat mereka tak sengaja dipertemukan lagi, hati mereka juga sakit. Karena mereka berpura-pura.

Kita bisa selalu berdamai dengan masa lalu...
Mulailah dengan memaafkan diri sendiri...
Memaafkan semua kejadian yang telah terjadi...
Tidak ada yang patut disalahkan...
dan berhentilah menyalahkan diri sendiri...
Terimalah semua kenangan itu...
Letakkan di bagian terpenting hatimu...
Berikan singgasana dan mahkota...
Bukankah sebelum ada semua tembok-tembok penghalang itu...
Semua itu adalah kenangan yang indah?
paling berkesan dan paling membahagiakan....


Penerimaan akan penjelasan yang mungkin ada, bukanlah sesuatu yang sederhana. Banyak sekali orang di dunia ini yang berpura-pura menerima, tapi hatinya berdusta. Kita semua harus berlatih susah payah untuk belajar menerima.

Tak ada kebahagiaan di dunia ini, jika kita masih memiliki satu rasa sesal dalam hidup, sekecil apa pun penyesalan itu.

Belajarlah bersabar untuk hal-hal yang belum terjawab dalam hatimu.

Kalah atau menang, itu kuasa langit. Ada banyak sekali kekuatan di dunia ini yang tidak kita ketahui batasnya.

Musik yang indah tidak akan pernah mengganggu siapa pun. Namun terkadang lagu yang indah itu dapat membuat orang lain terlena.

Semangat itu adalah cerita bagaimana kita dapat melanjutkan hidup, walau tak mendapat cinta terdalammu. Bagaimana kita bisa melanjutkan hidup, meski harus menanggung beban masa lalu.

Bangga tidak selalu berarti sebuah keberanian.

Semakin bijak seseorang, maka semakin banyak ia memiliki pertanyaan yang tidak terjawab.

Hal-hal baru yang kita hadapi, suka atau tidak, sangat membantu banyak dalam rangka berbaikan dengan hati.

Saat kenangan mulai menyelusup, segera usir kenangan itu. Lupakan. Buat apa lagi sering-sering dikenang, itu hanya akan membuat hari-hari yang sudah berjalan baik kembali terasa getir. Semuanya sudah jauh tertinggal. Ribuan Mil di belakang.

Setiap kehidupan ditakdirkan memiliki satu cinta terdalam. Itu berarti, sebenarnya hampir dari seluruh kita memiliki cerita dengan alur yang sama.

Cinta adalah kata kerja, dan sebagai kata kerja, jelas ia membutuhkan tindakan-tindakan, bukan sekadar perasaan-perasaan.

Bagi yang sedang dimabuk cinta, tidak ada istilah cepat atau lambat. Semuanya tentang perasaan. Apalah artinya sebulan jika kalian sedang riang bercengkrama dengan sang kekasih, berlalu bagai sedetik. Sebaliknya, apa artinya sedetik, jika kalian sedang pilu merindu pujaan hati, bagai seabad.

Pencinta Sejati tidak akan pernah menyerah sebelum kematian sendiri datang menjemput dirinya....

Kematian tidak akan pernah bisa membunuh cinta terdalam.

Pemilik semesta alam menciptakan dunia dengan cinta. Dia mematikan yang hidup dengan kasih sayang. Menghidupkan yang mati juga dengan kasih sayang.

Bagi sebuah cinta sejati, kematian hanyalah ilusi anak muda.

Adalah kebodohan terbesar di dunia jika kau harus membunuh dirimu saat kekasihmu pergi, entah itu membunuh dalam artian yang sebenarnya atau pun bukan.

Setidaknya dengan berhenti sejenak, kita masih bisa menyisakan sedikit keyakinan dalam hati, menyisakan sedikit pengharapan. Satu harapan kecil bahkan bisa mengubah nasib seluruh dunia.

Situasi yang tak terelakkan dan genting, selalu memaksa kita menyesuaikan diri dengan cepat.





Monday, April 15, 2013

Black Beauty: Kisah tentang kehidupan Kuda Hitam yang sarat makna....

Bunga beli buku ini di Toko Buku Sang Cerpenis (Toko Bukunya mba' Fanny). Bagus bangget :)

ini niy sinopsisnya:

Black Beauty bukanlah seekor kuda biasa. Ia berasal dari keturunan kuda terbaik dan sejak kecil diajarkan ibunya untuk mengabdi kepada sang majikan. Sejak masih anak-anak hingga dewasa, ia berpindah tangan dari Tuan yang satu ke Tuan yang lain. Dari yang menyayangi hewan hingga yang kerap bersikap kejam padanya. Ia pun berganti-ganti tugas, mulai dari kuda tunggangan, kuda pedati, hingga kuda taksi.

Setiap kali dibawa ke pasar untuk dijual, ia selalu berharap mendapat tuan yang baik, yang bisa memahami bahwa ia tidak perlu dipecut sampai kulitnya sobek supaya patuh, atau bahwa ia merasa makin terbebani ketika kepalanya dipasangi check-rein yang berat setiap kali mengangkut setumpuk barang. Bersama Ginger, kuda betina sahabatnya, Black Beauty menjalani kehidupan yang berwarna.Bercerita dari sudut pandang seekor kuda yang sabar dan baik hati, Black Beauty menjadi salah satu novel klasik paling menawan yang akan membuat emosi Anda terhanyut oleh tuturannya yang dalam dan indah.

Anda tak perlu menyukai hewan kuda untuk dapat menikmati novel ini, sebab pada dasarnya novel ini bertutur tentang ragam sifat dan perilaku manusia. Begitu banyak filosofi kehidupan dalam novel ini, juga bagaimana menyikapi hubungan manusia dengan hewan, dan manusia dengan manusia.

Wednesday, November 23, 2011

RESENSI BUKU: MERINTIS PENDIDIKAN GRATIS

MERINTIS PENDIDIKAN GRATIS

Judul: Merintis Pendidikan Gratis

Penulis: Drs. Wahyudi, MS, Drs. I. Hayat, dkk.

Penerbit: Wadi_Press, Jakarta

ISBN: 978-602-8348-01-0

Cetakan ke-1: Mei 2007

Cetakan ke-2: November 2008

Buku ini menggambarkan bagaimana suka duka merintis pendidikan gratis dan kesehatan gratis yang dimulai sejak tahun 2003 lalu di sebuah Kabupaten tertinggal di Provinsi Jambi. Bagaimana sulitnya mendobrak isolasi daerah dengan membangun jalan tembus ke provinsi sementara dukungan dana sangat terbatas. Justru di tengah keterbatasan itulah, Abdullah Hich yang merupakan putra terbaik Muara Sabak, yang sekaligus sebagai Bupati Tanjung jabung Timur membuat sebuah terobosan yang luar biasa.

Pada bulan Juli 2003 berhasil dikucurkan dan sebesar Rp. 1,1 Milyar yang digunakan untuk menggratiskan biaya SPP hampir delapan ribu pelajar SD, SMP, dan SLTA. Ini menjadi tonggak awal digulirkannya program pendidikan gratis yang kemudian terus disempurnakan dan ditingkatkan di tahun-tahun berikutnya.

Apa yang melatar belakangi lahirnya kebijakan pendidikan gratis dan layanan kesehatan gratis terungkap dalam buku ini. Bahkan sampai bagaimana sang Pamong abdullah Hichselaku Bupati mampu meyakinkan masyarakat dan wakil-wakilnya di DPRD untuk meluncurkan program layanan kependudukan gratis. Ini untuk meningkatkan layanan pemerintah kepada masyarakatnya berupa layanan Akte Kelahiran, KTP, KK, secara gratis bagi masyarakat Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Bagaimana kiat-suksesnya, termuat dalam buku ini...


Taken From: Majalah Pamong Readers

Thursday, October 21, 2010

Bustan As-Salathin


Bustan as-Salathin (Taman Para Sultan) adalah salah satu karya masterpiece Syeikh Nuruddin Muhammad ibnu 'Ali Ibnu Hasanji ibnu Muhammad Hamid ar-Raniry al-Quraisy yang ditulis pada tanggal 4 Maret 1638 dan selesai pada tahun 1643. Kitab ini dikerjakan atas permintaan khusus Sultan Iskandar Tsani (1636-1641), Penguasa Kesultanan Aceh setelah masa Sultan Iskandar Muda (1593-1636). Karya ini terdiri dari tujuh buku, merupakan karya terbesar yang pernah ditulis di bidang sejarah, bahkan di kalangan para Ulama Nusantara semasa ar-Raniry. Kitab ini menunjukkan perhatian ar-Raniry yang sangat besar terhadap pentingnya membuat sebuah rekonstruksi sejarah. Dua buku pertama dari Bustan as-Salathin berisi bahasan tentang sejarah dunia, mulai dari proses penciptaan dunia hingga periode perkembangan Islam di India dan Melayu-Nusantara. Selebihnya, lima buku dari Bustan as-Salathin, berisi nasehat-nasehat bagi para raja dalam menjalankan pemerintahannya.


Di sini, Syeikh ar-Raniry mengikuti pola karya al-Ghozali, Nasihah al-Mulk (Nasihat bagi para raja). Karya besar ar-Raniry di bidang sejarah ini merupakan sumbangan yang sangat berarti bagi Muslim Melayu-Nusantara. Melalui karya inilah atmosfer pemikiran bangsa Melayu tentang sejarah dan geografi, khususnya mengenai bangsa-bangsa lain di dunia, terbentuk dalam kesadaran mereka. Karya ini, yang meletakkan sejarah dan keberadaan Melayu Nusantara menjadi bagian dari sejarah dunia, lebih jauh menandai perkembangan penting dalam tradisi penulisan sejarah di Nusantara yang berbentuk babad untuk kasus Melayu. Maka Bustan as-Salathin berbeda, misalnya, dengan teks sejarah melayu yang cenderung menjadikan Kerajaan Malaka sebagai pusat dalam perkembangan sejarah Melayu yang disentralkan.


Pada bagian keempat Bustan as-Salathin yang diuraikan oleh Morley (1854), kitab ini memuat sejarah perkembangan Islam di luar Jazirah Arab, yaitu India dan Tanah Melayu. Pada pasal 11 Bustan as-Salathin memaparkan sejarah kesultanan Islam di India antara tahun 300 H sampai 1628 H. Sementara pada pasal 12 bab II menguraikan asal-usul raja Melayu. Pada bagian mengenai asal-usul Raja Melayu, Nuruddin ar-raniry tampaknya merujuk dari kitab tentang sejarah Melayu Sulalatus Salathin yang ditulis oleh Tun Sri Lanang pada bulan Februari 1614 saat menjadi tawanan di kawasan Pasai (beberapa sejarawan mengatakan Tun Sri Lanang bukan penulis asli Sulalatus Salathin, melainkan sebagai penyunting saja).


Penulisan Bustan as-Salathin menunjukkan penerimaan yang sangat baik sultan Aceh terhadap Syeikh Nuruddin ar-Raniry, yang datang ke Aceh sekitar tahun 1637 (ada yang meriwayatkan tahun 1577) dan diangkat menjadi mufti kesultanan. Syeikh ar-Raniry juga menulis banyak kitab lain yang ditujukan untuk melawan akidah 'wihdatul wujud' Hamzah Fansuri dan Syamsudin Sumatrani yang saat itu mendominasi kehidupan keagamaan masyarakat Aceh.


Selain karena keberanian dan ketegasannya dalam melawan akidah wihdatul wujud, Syeikh ar-Raniry juga menguasai berbagai cabang ilmu Islam, yang membuatnya sangat menonjol pada zaman pemerintahan Sultan Iskandar Tsani. Syeikh ar-Raniry ahli dalam bidang ilmu matiq (logika) dan ilmu balaghah (retorika). Dalam ilmu fikih, Syeikh ar-Raniry adalah penganut mazhab asy-Syafi'i, walaupun ia juga ahli dalam ajaran mazhab-mazhab yang lain. Dari segi akidah, Syeikh ar-Raniry adalah pengikut mazhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang berasal dari Syeikh Abul Hasan al-Asy'ari dan Syeikh Abu Manshur al-Maturidi.


Sumber: Majalah Annida

Buku: Snow, Orhan Pamuk/Faber and Faber

Di sebuah kota kecil di Turki, jurnalis Turki yang lama tinggal di Jerman bernama Ka mengadakan investigasi. Ia menyelidiki tingginya angka wanita bunuh diri. Penyebabnya masih misterius. Namun, di tengah tarik-menarik ideologi sekularisme dan tradisi agamis.

Ka menduga gadis-gadis itu bunuh diri karena adanya larangan mengenakan jilbab. Tetapi, penyelidikan itu harus menemui berbagai rintangan karena tekanan politik. Sebuah karya fiksi monumental dari seorang peraih Nobel sastra tahun 2006.

Thursday, April 1, 2010

Malin Kundang & Rancak di Labuah...


Cerita Malin Kundang dan Rancak di Labuah, adalah legenda rakyat Minangkabau yang sangat populer dan digemari. Cerita Malin Kundang membuka wawasan kita tentang kehidupan nelayan kecil yang menjadi latar awal cerita. Bagaimana kehidupan sosial, keagamaan, dan bagaimana Si Malin Kundang menempuh pendidikan dasar. Yang menarik juga dalam cerita Malin Kundang digambarkan secara rinci tentang dunia perdagangan antar pulau dengan sarana transportasi kapal laut dan bagaimana strategi memasarkan produk-produk hasil bumi di berbagai kota nusantara pada waktu itu. Dan pelajaran moral utama tentu saja adalah betapa buruknya balasan yang akan diterima seorang anak yang durhaka kepada orang tua terutama kepada ibu.

Dalam cerita kedua, Rancak di Labuah, isinya banyak mengandung nasehat, petunjuk, dan pendidikan terutama untuk anak-anak muda. Dapat dikatakan bahwa cerita ini sebenarnya adalah petunjuk tentang aturan adat-istiadat Minangkabau yang dijalin dalam suatu cerita. Jika diperhatikan adat istiadat terdebut, subhanallah sungguh mengagumkan, hampir semua liku-liku kehidupan ada aturannya, ada adatnya seharusnya dipedomani.

Dalam dua cerita legenda ini sungguh terdapat mutiara-mutiara berharga yang akan diperoleh pembaca. Tiada lain mutiara-mutiara itu adalah pelajaran tinggi tentang moral, tradisi luhur, dan praktek keagamaan yang sinergis dengan adat-istiadat. Sepertinya buku ini sangat baik dibaca para generasi muda di tengah menjamurnya fiksi-fiksi bernuansa percintaan.

Saturday, January 23, 2010

Panduan Menyehatkan Jiwa...

Judul: Menjadi Manusia Pilihan dengan Jiwa Besar [10 Langkah Praktis Menyehatkan Jiwa]

Penulis: Dr. Muhammad Thohir, SpKJ

Penerbit: Lentera Hati

Tahun: Agustus 2009

Volume 436 + xii halaman



"Wahai manusia, telah datang kepadamu Al-Quran sebagai pelajaran dari Tuhanmu dan obatnya apa yang di dalam dada (jiwa) serta hidayah dan rahmat bagi orang-orang yang beriman" [QS. Yunus [10]: 57].

Kebahagiaan hakiki manusia sebenarnya ada pada jiwa yang sehat. Betapa pun seseorang memiliki harta berlimpah, kalau jiwanya tidak sehat, pastinya bisa mengalami derita rohani yang hingga saat ini mewarnai kehidupan manusia. Banyak cara bisa dilakukan untuk menghindari stress atau depresi. Salah satunya dengan mengolah jiwa dengan pendekatan psikologi religius.

Buku bertajuk Menjadi Manusia Pilihan dengan Jiwa Besar (MMPdJB) 10 Langkah Praktis Menyehatkan Jiwa seolah membuka cakrawala pentingnya pendekatan psikologi religius untuk memelihara kesehatan jiwa manusia. Penulisnya, dr. Muhammad Thohir, SpKJ membeberkan psikologi religius tersebut dalam bab-bab yang membahas 10 poin menuju jiwa yang sehat. Misalnya, bab "10 Langkah Menuju Jiwa Sehat" [49-133] dan "Aplikasi Praktis 10 Langkah Menuju Jiwa Sehat" dalam berbagai Posisi dan Kedudukan [191-215].

Bahasan dalam buku ini bukan isapan jempol semata. Apalagi sebagai penulis, dokter Thohir sudah cukup lama malang-melintang dalam dunia kedokteran jiwa dan psikologi. Psikiater ini pun sudah memberikan banyak konsultasi psikologi bagi berbagai perusahaan dan organisasi. Maka, dalam bahasan "Aplikasi Praktis 10 Langkah Menuju Jiwa Sehat," dokter Thohir memberikan pencerahan bagi siapa saja sesuai dengan kapasitas dan jabatannya. Misalnya, kapasitas sebagai karyawan, dosen, atau guru, anggota TNI-POLRI, dan sebagai ulama, cendekiawan, serta pemimpin.


Taken From: Majalah ALiF

People of Sparks...

Judul: People of Sparks
Penulis: Jeanne Duprau
Harga: Rp. 45000
Penerbit: Mizan Fantasi
Tahun: 2005


Buku ini merupakan kelanjutan dari City of Ember, akhirnya Lina Mayfleet dan Doon Harrow telah berhasil menyelamatkan diri dari kota bawah tanah mereka yang sekarat.

Ketika kemudian mereka menemukan Desa Sparks, ternyata segala sesuatunya tak seperti yang mereka duga. Semuanya terasa asing, baru, dan berbeda. Bagaimana mungkin selama ini mereka hidup di dunia yang sangat berbeda dengan semua hal yang mereka lihat saat ini? Sesungguhnya dunia macam apa yang mereka akrabi seumur hidup silam? Itulah pertanyaan yang kerap terlintas di benak warga Ember dan tak pernah terjawab.

Awalnya, warga Desa Sparks bersedia menampung mereka semua. Namun ketegangan pun tak terhindarkan, kebencian mulai timbul. Doon dituduh sebagai pemicu prahara, sementara Lina sibuk memburu kota cahaya yang selama ini hadir dalam bayangannya, sehingga diam-diam menumpang kendaraan pengelana yang hendak mencari reruntuhan kota kuno. Mungkinkah Lina menemukan kota cahaya yang selama ini diimpikannya, dan yang diyakininya sebagai kota tujuannya?

Kisah dalam cerita ini beralur cepat dan menyajikan kisah yang menggugah mengenai hal-hal sederhana yang dapat menjadi benih dan terjadinya peperangan.

Penulis juga mencoba menunjukkan bahwa ada saatnya manusia harus berpegang teguh pada pendirian, digambarkan lewat tokoh Doon saat ia berjuang membuktikan kebenaran yang sesungguhnya, ditengah tuduhan banyak orang sebagai pemicu prahara.



Taken From: Tabloid Mom & Kiddie

City of Ember...

Judul: City of Ember
Penulis: Jeanne Duprau
Harga: Rp. 44500
Penerbit: Mizan Fantasi
Tahun: 2003


Kota bawah tanah tempat pelarian itu diberi nama Ember, di sana hanya ada malam hari, tanpa bulan dan bintang. Cahaya yang menerangi pun hanya berasal dari lampu jalan. Terbebas dari polusi di permukaan bumi, penduduknya hidup secara total dengan bergantung pada sebuah pembangkit listrik yang didesain dapat beroperasi ratusan tahun.

Menariknya, dalam buku ini ditekankan agar manusia tak tahu pernah tinggal di permukaan bumi, mereka pun dipisahkan sejak kecil dari generasi pertamanya.

Seiring berjalannya waktu, kekuatan pembangkit listrik pun kian melemah, keresahan menjalar karena persediaan makanan kian menipis. Adalah Lina dan Doon, dua remaja yang paling khawatir akan nasib kota Ember dan seluruh misteri yang ada. Pasalnya, tanpa sengaja Lina menemukan kotak misterius yang telah lama terbengkalai. Instruksi yang berada di dalamnya sudah robek dan tak lengkap, sehingga Lina dan Doon harus berusaha keras mengetahui isinya. Akankah mereka berdua berhasil menyelamatkan kota tercinta?

Buku ini didesain sebagai sebuah buku keluarga, maka tidak membuat kita terlalu mengernyitkan dahi. Ide ceritanya cukup menarik, karakter tokohnya meskipun cukup baik, tidaklah rumit. Penulis juga tidak banyak bermain di area science fiction sehingga ceritanya cukup masuk akal.

Buku ini telah difilmkan beberapa waktu lalu. Dalam filmnya, penggambaran tentang penciptaan sebuah kota juga divisualisasikan dengan apik, mengesankan sama seperti dalam bukunya. Memang sih, tak bisa dibandingkan dengan dunia dalam The Lords of The Rings yang sempat membuat penontonnya berhenti bernafas sejenak. Kota Ember mungkin gelap dan tak berwarna, namun buku ini begitu kaya akan deskripsi. Separuh misteri, separuh kisah petualangan, seru juga :)))


Taken From: Tabloid Mom & Kiddie

Thursday, September 10, 2009

Buku Pintar Sejarah Nabi Muhammad


Buku Pintar Sejarah Nabi Muhammad

Written by: Sayyid Muhammad bin 'Alawy


Nah... kalo di postingan sebelumnya bunga rekomendasiin Siroh Nabawiyah yang ditulis Al Buthy,, sekarang buku yg ini direkomendasiin bwt temen2 yg pengen bgt tau detailnya sejarah Rasulullah S'AW,,,tapi punya kendala bwt baca yg versi Al Buthy atawa yg versi al Mubarakfury,, maybe coz dah d dunia kerja (pulang2 dah capek bgt),, or emang ga betah liat yg tebel2 (sebenernya bunga jg lbh suka buku yg tipis). Buku ini juga bagus buat para tutor,,pementor,,ustadz/ustadzah,,guru ngaji,,dll,, yg tiba2 diminta bwt ngisi materi soal siroh rasul, tapi blm siap. Buku ini insya4wl mudah bgt dipahami,,cepet kelar bacanya,, rinci + lebih mudah nempel di otak.

Tapiiii...alangkah baiknya baca kedua versi ini,,, Al Buthyi & Sayyid Muhammad... :) kalo kita sempat (bahkan keranjingan) baca Harry Potter yg tebelnya ampyun dehh itu,,, knapa kita gak semangat (harusnya lebih smangat) bwt baca perjalanan Rasulullah S'AW. Bukan sulap bukan sihir... namun mukjizat & keajaiban2 yg ada dlm diri Rasulullah S'AW adalah bukti kecintaan Alloh SWT kepada beliau serta bukti kerasulan & kenabian yang hendaknya dpt menambah keimanan kita yg sering naik turun ini (yanzid wa yankus)..... wallahu a'lam bish showwab..... :)

Sirah Nabawiyah


Sirah Nabawiyah

Written by: DR.Sa'id Ramadhan al-Buthy


Bwt para penikmat sirah Nabawiyah,,, maybe baca buku ini b'ulang-ulang.... atawa bagi yg baca sirah nabawiyah tapi pengarangnya beda,,,, sebaiknya baca juga versi yg ini dech... soalnya,,, al-Buthy,, sang penulis,,, merangkum ibroh & hukum2 dari tiap bagian p'jalanan Rasulullah S'AW... buku ini tepat bwt penjagaan kondisi ruhiyah... Cinta Rasul bgt...