Saturday, August 7, 2010

Lebih Produktif dan Efektif saat Puasa (taken from Majalah Femina)


Bulan Ramadhan sudah di depan mata. Belum apa-apa, sudah terbayang betapa beratnya menahan rasa kantuk yang mendera gara-gara harus bangun di saat sahur. Jangankan berprestasi, untuk menyelesaikan tugas dan kewajiban rutin sehari-hari saja sudah menjadi beban berat.

Jika kita berpikiran seperti deskripsi di atas, sungguh merupakan suatu pemikiran yang keliru. Berpuasa mungkin membuat tubuh lemas dan lesu. Tapi, biasanya hanya berlangsung di hari-hari pertama. Lagi pula, puasa (shaum) sama sekali tidak ada hubungannya dengan produktivitas kerja. Malah, puasa bisa dijadikan momen untuk mengubah kebiasaan kerja kita menjadi lebih baik.



LEBIH PRODUKTIF

Menurut ajaran Islam, inti sari puasa bukan sekedar menahan rasa haus dan lapar, tetapi juga hawa nafsu. Termasuk di sini adalah menahan kebiasaan atau perbuatan yang dipandang buruk, baik untuk kehidupan sehari-hari maupun di kantor.

Puasa juga disebut sebagai cara untuk keluar dari tatanan hidup yang ada. Tapi bukan dalam arti negatif. Misalnya, bangun sahur untuk persiapan puasa pada pukul tiga pagi. Di satu sisi, kegiatan ini bisa menyebabkan rasa lelah atau mengantuk saat bekerja di siang hari. Tapi di sisi lain, kegiatan bangun pada waktu dini hari ini bisa membuat pikiran lebih terbuka. Beberapa pemikir dunia menemukan ide cemerlang justru pada saat dini hari.

Ada empat dimensi puasa yang memiliki pengaruh baik pada produktivitas kerja kita.


1. Dimensi Spiritual. Saat puasa, biasanya seseorang menjadi lebih takzim dan khusyuk dalam beribadah. Ini bisa menulari kebiasaan kerja, karena membuat kita lebih terfokus dalam menyelesaikan tugas.

2. Dimensi mental. Pembicaraan yang tak berguna, apalagi yang mengarah pada gosip, sering kali kita hindari. Akibatnya, waktu bekerja kita pun jadi lebih efektif, karena pembicaraan yang tidak perlu sebaiknya juga hilang dari jadwal kerja kita.

3. Dimensi fisikal. Selama setahu, perut diisi dengan makanan apa pun. Namun, selama bulan puasa, kebiasaan makan sembarangan tidak bisa dijalankan dengan bebas. Mau tak mau, untuk menunjang kesehatan dan kebugaran selama berpuasa, kita harus selektif dalam memilih makanan. Ini bisa membuat pencernaan kita menjadi lebih baik. Manfaatnya, secara fisik, justru tubuh kita lebih sehat untuk bekerja.

4. Dimensi Sosial. Dengan menahan rasa lapar, kita menjadi lebih mawas diri. Penglihatan dan perasaan menjadi lebih tajam. Tak mengherankan, di bulan puasa membuat rasa peduli terhadap sesama, apalagi yang lebih kekurangan daripada kita, biasanya kepedulian kita jadi lebih tinggi. Bahkan, tak jarang pula, kita lebih mendahulukan kepentingan orang lain ketimbang kepentingan kita sendiri. Pengaruhnya dalam kehidupan dunia kerja, kita akan menghindari kompetisi kerja yang tidak sehat. Rasa malu pun muncul saat akan menyikut rekan kerja. Terlebih, di bulan puasa, sering diadakan buka puasa bersama rekan satu kantor. Ini merupakan momen yang sangat baik untuk menumbuhkan rasa kebersamaan di antara rekan sekerja, dan keakraban di antara atasan dan bawahan.



ATUR WAKTU

Untuk lebih mudahnya, masukkan rencana kerja ke dalam matriks manajemen waktu. Selama bulan puasa, usahakan pekerjaan kita selalu berkisar dalam kuadran I dan II (genting dan tidak genting, namun penting).

Di pagi hari, saat energi masih banyak, lakukan segala aktivitas yang membutuhkan energi dan kreativitas tinggi. Misalnya rapat penting dan pertemuan dengan klien. Sorenya, lakukan hal-hal ringan yang termasuk rutinitas setiap harinya. Yang terpenting, jangan menunda-nunda pekerjaan.


Wallahu a'lam bish showwab...

No comments:

Post a Comment