Friday, November 5, 2010

Upaya Mengelola Hati (Pasangan Suami Istri)

Banyak pasangan suami istri (pasutri) yang lebih senang tenggelam dalam permainan hati. Bukan mereka yang mengelola hati, tetapi justru hati yang mempermainkan mereka. Masing-masing pasutri sesungguhnya harus belajar tentang cara mengelola hati. Atau lebih tepatnya, membiasakan diri mengelola hati.


Sebagai contoh, saat seorang istri merasa sedih dan mendongkol, mendengar kata-kata suaminya yang cenderung kasar. banyak istri yang saat mengalami hal itu, justru mengikuti permainan hati. Kondisi hati yang sedang mendongkol, sengaja diperturutkan dengan melakukan hal-hal yang menurut dugaannya akan mampu meredam dan menenangkan jiwanya, padahal justru sebaliknya: membuat hati semakin membara.


Sebagian melampiaskannya dengan mengubah raut wajah menjadi seseram mungkin. Sebagian dengan menangis habis-habisan dan enggan menjawab pertanyaan suami yang kebingungan melihat istrinya tiba-tiba berubah karakter. Sebagian memilih diam seribu bahasa. Ada juga yang memilih 'mengulek' sambal sehalus mungkin.


Pelampiasan itu, sering dianggap sebagai jalan terbaik mengungkapkan rasa dongkol. Begitu juga seorang suami, yang melihat istrinya membandel, karena tidak mau mendengar nasihat suaminya. padahal bisa jadi, pendengarannya agak sedikit berkurang dan melemah, karena jatah uang belanja terlambat lama sekali. Bisa jadi, karakternya berubah drastis, karena kebutuhan privatnya terkebiri.


Banyak suami yang melampiaskannya dengan marah-marah, membentak-bentak, atau berkhotbah panjang lebar. Ada juga yang melampiaskannya dengan membanting pintu, mendiamkan istri, melotot, atau mungkin memilih menyetir kendaraan sekencangnya, atau membaca koran terbalik.


Padahal, hati itu harus dikelola. Saat seseorang bersedih, hendaknya ia mencari jalan mengatasi kesedihannya. Dengan mengingat-ingat berbagai kenikmatan yang diberikan oleh ALLAH SWT, misalnya dengan berdzikir dan menghibur diri dengan ayat-ayat ALLAH.


Bila hati mendongkol, seharusnya seseorang mengatur nafas, berusaha menekan emosi, lalu mencari-cari berbagai kebaikan pasangan yang membuatnya mengubah rasa mangkel menjadi senyuman indah di bibir. Bila perlu berdo'alah kepada ALLAH SwT.


Kesedihan, kedongkolan, emosi, amarah, kesuntukan, dan berbagai kondisi buruk dari hati, bukanlah untuk diperturukan. Semakin diperturutkan, kita akan semakin dipermainkan oleh hati kita sendiri.


Cobalah sesekali, saat marah sedang membara, saat emosi tidak terkendali, sebelum melampiaskannya dengan sumpah serapah, coba lihat wajah kita di cermin. Akan terlihat betapa memalukannya wajah kita. Saat melampiaskan kesedihan dengan menangis, batasilah tangisan itu dengan kebersahajaan dan batas-batas kenormalan.


Cobalah telaah, bahwa usai merasa puas dengan melampiaskan amarah, seseorang pasti dirundung penyesalan. Artinya, pelampiasannya itu bukanlah suatu hal yang normal. Menyesali adalah karakter pecundang. Orang yang hebat adalah orang yang mampu mengelola hati dan mengendalikan emosi, meski saat emosi sedang berkobar menyala-nyala.



Taken From: Majalah Nikah

No comments:

Post a Comment