Sunday, September 5, 2010

Barirah,,,Sahaya Berjiwa Merdeka...

Salah satu miliknya yang paling berharga adalah kemerdekaan atas dirinya sendiri. Barirah pun merasakan hal itu. Barirah yang merupakan budak milik Bani Hilal kemudian memutuskan untuk menjadi orang merdeka dengan jalan menebus dirinya sendiri pada majikannya. Ia ikat dirinya dengan perjanjian seharga sembilan uqiyah. Jika sembilan uqiyah telah lunas, maka kemerdekaan menjadi milik Barirah. Dalam waktu satu tahun Barirah membayar dirinya sebanyak satu uqiyah.


Dorongan yang begitu kuat untuk merdeka membawa Barirah menemui istri Rasulullah S'AW, Aisyah R'A., untuk membantu menebus dirinya. "Katakan pada majikanmu bahwa aku mau membayar lunas untukmu dan engkau akan aku merdekakan. Namun wala'-mu untukku,"jawab Aisyah atas permintaan Barirah. Wala' adalah hak orang yang memerdekakan seorang sahaya untuk mendapatkan warisan dari sahaya tersebut apabila si sahaya meninggal dunia.


Maka pergilah Barirah untuk menyampaikan hal tersebut pada majikannya. Namun dengan licik sang majikan mengemukakan keinginannya, "kalau dia memang mau membantumu karena ALLAH, lakukan saja. Namun wala'-mu tetap untukku."


Barirah pun kembali kepada Aisyah untuk mengadukan hal tersebut. Rasulullah yang mendengar percakapan tersebut kemudian bertanya kepada Aisyah tentang persoalan ini. "Belilah dia dan merdekakan. Sesungguhnya wala' untuk orang yang memerdekakan," ucap Rasul setelah mendapat penjelasan dari 'Aisyah. Kemudian Rasul pun bangkit untuk berkhutbah di hadapan kaum Muslimin. "Bagaimana bisa suatu kaum mengajukan syarat yang tidak ada dalam Kitabullah? Seratus kali pun syarat itu tetap batil karena tidak ada dalam Kitabullah," Rasul berwasiat.


Bagi Barirah,wasiat Rasul itu menjadi kunci kebebasannya. Sekrang, ia adalah wanita merdeka, setelah dimerdekakan Aisyah. Kini ia bukan lagi seorang budak, ia pun memutuskan untuk tidak lagi bersama suaminya, seorang sahaya bernama Mughits milik Bani Al Mughirah, yang sebenarnya dibencinya.


Ketika Rasul mengatakan agar sebaiknya Barirah rujuk dengan suaminya, Barirah bertanya, "Apakah engkau menyuruhku, ya Rasulullah?" Maksud Barirah adalah apakah Rasulullah memerintahkan dirinya utk rujuk dg suaminya. "Tidak." jawab Rasul, "Aku mengatakan itu hanya untuk menolong, bukan untuk mewajibkanmu." Maka Barirah menjawab, "Kalau begitu, aku tidak membutuhkannya." Bagi Barirah, keputusan hidupnya ada di tangannya sendiri. Lain hal bila Rasul mewajibkan hal itu atas dirinya, maka suka atau tidak, Barirah akan taat. Itulah prinsip hidupnya.


Hubungan Barirah dengan keluarga Rasulullah terjalin makin erat sejak peristiwa pembebasan Barirah oleh Aisyah. Sebelum dimerdekakan, Barirah kerap bertandang ke rumah Aisyah untuk membantu Aisyah. Kedekatan Barirah dengan Aisyah ini membuat Rasulullah, atas saran Ali Bin Abi Thalib R'A bertanya pada Barirah ketika terjadi peristiwa fitnah atas Aisyah. Fitnah tersebut digembar-gemborkan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul, seorang munafik.


"Wahai Barirah, apakh engkau pernah melihat sesuatu pada Aisyah yang membuatmu bimbang?" tanya Rasulullah. "Demi Zat Yang Mengutusmu dengan yang haq, tidak ada suatu pun yang pantas kucela darinya, kecuali ia masih sangat muda sehingga kadang tertidur di sebelah adonan makanan untuk keluarganya, sehingga hewan datang untuk memakan adonan tersebut," jawab Barirah mantap.


Selama hidupnya, Barirah mengalami beberapa kali pergantian kepemimpinan kaum Muslimin. Barirah berpulang ke rahmatullah pada masa Khalifah Mu'awiyah bin Abi Sufyan.


Sumber: Majalah Ummi...

No comments:

Post a Comment