Monday, April 27, 2015

Hasan Al Bashri (Sufi Agung yang Cerdas)


Hasan Al Bashri adalah seorang ulama yang jami’, tinggi nilainya, tsiqah, ‘abid, fasih, dan tampan rupanya.

Nama lengkap Hasan Al Bashri ialah Abu Said al Hasan bin Yasir al Bashri. Ibunya bernama Khairah. Ia dilahirkan pada tahun 21 Hijriyah, pada akhir masa pemerintahan Umar, dibesarkan di Wadil Qura dan wafat pada tahun 110 Hijriyah atau 728 Masehi, pada usia 89 tahun.
Awalnya beliau adalah pembantu Ummu Salamah yang telah dimerdekakan. Ia menjadi imam ternama di Bashrah, kota yang gemilang dengan ilmu-ilmu Islam di masanya. Ia merupakan salah seorang fuqaha yang berani berkata benar dan menyeru kepada kebenaran di hadapan para pembesar negeri dan seorang yang sukar diperoleh tandingannya dalam hal beribadah. Beliau besar dalam asuhan Ali Bin Abi Thalib.
Setelah dimerdekakan, Hasan Al Bashri sangat rajin/tekun belajar. Daya ingatnya yang luar biasa digunakannya untuk menghafalkan Al Quran dan Hadits sebanyak-banyaknya. Kemampuannya berpidato dan mempengaruhi orang lain, digunakannya untuk menyerukan kalimat-kalimat Allah. Khutbah-khutbahnya sangat disukai orang, karena mengingatkan orang kepada Sayyidina Ali yang piawai dalam berorasi dengan menggunakan kalimat-kalimat yang bernilai sastra tinggi. Hasan Al Bashri menerima hadits dari Abu Bakrah Imran bin Husain, Jundub al Bajali, Mu’awiyah, Anas, dan Jabir. Serta meriwayatkan hadits dari Ubay Bin Ka’ab, Sa’ad bin Ubadah, dan Umar bin Khattab, walaupun tidak mendengar sendiri dari mereka. Juga dari Usman, Ali, Abu Musa, Ibnu Abbas, Ibnu Amir, dan lain-lain. Hadits-haditsnya diriwayatkan oleh Humaid ath-Thawil, Yazid bin Abi Maryam, Jabir bin Abi Hazim, Abu al Asyhab, Samma’ bin Harb, Atha’ bin Abi as Sa’ib, Hisyam bin Hasan, Ma’bad bin Hilal, dan lain sebagainya.
Hasan al Bashri merupakan ahli ibadah yang sebanding dengan sufi wanita terkenal, Rabi’ah al Adawiyah. Hingga akhir hayatnya, Imam Hasan al Bashri memutuskan untuk tidak menikah. Suatu ketika, ia didorong oleh teman-temannya untuk menikahi Rabi’ah. Untuk menghargai teman-temannya, Hasan al Bashri lalu bertanya pada Rabi’ah:
“Wahai Rabi’ah, maukah engkau menikah denganku?”
“Boleh. Tapi ada syaratnya, wahai Tuan Hasan!” jawab Rabi’ah.
“Sebutkanlah syaratmu. Mudah-mudahan atas izin Allah aku bisa memenuhinya”, jawab Hasan al Bashri tanpa kurang tawadhu.
“Harap kamu bisa menjawab pertanyaanku ini dengan pasti. Jika tidak, jangan berharap kamu bisa menikahiku. Karena jika pertanyaan ini tidak terjawab, hilang seleraku untuk menikah”.
“Sebutkanlah pertanyaanmu! Kata Hasan al Bashri.
“Pertama, tahukah kamu kitab catatan amalku kelak di hari kiamat disampaikan dari arah mana, kanan atau kiri?”
Wallahu a’lam, sahut Hasan al Bashri.
“Kedua, tahukah kamu, di hadapan Allah ta’ala, aku nanti termasuk ahli surga ataukah ahli neraka?”
“wallahu a’lam”, kata Hasan al Bashri.
“Ketiga, tahukah kamu, banyak manakah antara ahli surga dan ahli neraka kelak?” tanya Rabi’ah.
“Wallahu a’lam waha Rabi’ah, mana ada manusia yang bisa menjawab pertanyaanmu. Hanya Allah Yang Tahu”.
“Kalau begitu, pergilah dariku. Jangan berharap aku akan menggubris dirimu lagi”, kata Rabi’ah, sang sahabat Hasan al Bashri di bidang keilmuan dan kesufian.

Sumber: Buku ‘Kisah Para Sahabat dalam Menulis & Mewartakan Sabda Sang Nabi’

No comments:

Post a Comment