Sunday, July 19, 2020

JURNALISTIK DAN PUBLIK

~Artikel yang Memuat Opini Sederhana

Oleh: Bunga Mardhotillah

Jurnalis atau yang lebih populer disebut wartawan/pewarta, adalah sebutan untuk orang/person yang melakukan kegiatan jurnalistik seperti menulis, menganalisis, dan melaporkan peristiwa kepada publik melalui media massa, dan hal tersebut dilakukan secara teratur, sehingga menjadi suatu profesi yang melekat.

Publik identik dengan masyarakat, massa, atau khalayak ramai. Jurnalis melakukan tugas-tugas jurnalistik tidak lain salah satunya adalah untuk memberikan informasi yang mungkin saja belum diketahui oleh publik, sehingga dengan memberitakan atau memuat informasi tersebut pada suatu media, maka publik mendapatkan wawasan baru dari wadah yang dapat dipertanggung jawabkan. Dengan demikian, secara tidak langsung, jika dijalani dengan kredibilitas dan integritas tinggi, jurnalis dapat mencerdaskan publik.

Sebelum istilah jurnalistik menjadi populer, dikenal istilah publisistik untuk menggambarkan dunia kewartawanan, yang juga digunakan untuk membahas ilmu komunikasi. Ini menunjukkan bahwa jurnalistik dan publik merupakan dua hal yang berkaitan erat, serta dijembatani oleh ilmu komunikasi. Karena jurnalis tanpa publik, ibarat artis tanpa panggung dan penonton.

Sebagaimana kita ketahui, jurnalis umumnya bekerja pada sebuah industri berupa media, baik cetak maupun online. Media-media ini di berbagai negara termasuk Indonesia, diharapkan dapat menjembatani komunikasi antara pemerintah dan rakyatnya. Dewasa ini kita dapati fenomena dunia jurnalistik yang semakin kompleks karena setiap pelaku media bersaing untuk mendapatkan informasi yang cepat dan akurat, serta berupaya keras mendapat viewers terbanyak dalam penyajian beritanya kepada publik.

Terlepas dari deskripsi umum terkait jurnalistik dan publik di atas, disadari bersama bahwa setiap profesi pasti mempunyai etika-etika tersendiri untuk mengendalikan diri dan rasa hormat satu sama lain, yang diatur dalam Kode Etik. Ini bermakna bahwa kendati pun saat ini dunia jurnalistik menghadapi persaingan yang cukup tinggi, baik media cetak atau pun online, para jurnalis diharapkan tetap menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik (KEJ), yang di negeri tercinta ini ditetapkan oleh Dewan Pers melalui Peraturan Dewan Pers Nomor: 6/Peraturan-DP/V/2008 tentang Pengesahan Surat Keputusan Dewan Pers Nomor 03/SK-DP/III/2006 tentang Kode Etik Jurnalistik sebagai Peraturan Dewan Pers (ingatkan saya jika ada revisi KEJ terbaru setelah KEJ tahun 2008 ini).

Selain Etika berjurnalistik di atas, para jurnalis diharapkan untuk mampu peka terhadap berbagai issue publik. Ini penting, mengingat jurnalis membutuhkan publik sebagai pembaca berita, dan demikian pula sebaliknya, publik membutuhkan jurnalis untuk mengetahui berbagai peristiwa, terutama kronologis dan detail peristiwa yang beredar dalam bentuk issue dalam kehidupan mereka. Publik membutuhkan fakta untuk mengupas berbagai issue. Terkait kepekaan jurnalis ini, saya teringat pengalaman menjadi wartawan sekolah pada tahun 2002, yang kala itu asuhan Harian Jambi Independent. Sebagai pembimbing kami adalah beberapa senior di media tersebut. Kami juga diberi pengalaman Rapat Redaksi layaknya jurnalis profesional. Pesan para pembimbing kami, dalam meliput, kita harus memahami psikologis publik, serta hal-hal apa saja yang menjadi euforia. Di sini ada penekanan bahwa seorang jurnalis harus alias wajib memahami publik atau pembacanya. Kebutuhan pembacanya dan bagaimana menumbuhkan minat baca publik akan media, terutama koran. Kala itu tentunya bagaimana trik kami sebagai wartawan sekolah, agar teman-teman kami berminat untuk membaca koran. Sehingga poin ini berhubungan dengan KEJ, bahwa jurnalis harus senantiasa menjaga komunikasi dengan publik dan orang-orang di sekitar, mau mendengar dan mau berupaya untuk terus memperbaiki diri.

Kemudian yang tak kalah penting dalam menjaga stabilitas komunikasi antara jurnalis dan publik adalah attitude jurnalis, berbagai effort peningkatan wawasan dan skill jurnalis (tata bahasa, plotting, teknik pengembangan issue, dsb) serta mengkaitkan berbagai tulisan dengan sains untuk menguatkan artikel yang disajikan. Untuk poin ketiga ini, merupakan pengalaman saya ketika menjadi reporter mahasiswa pada Koran Logis Fakultas MIPA Unpad. Ketika kita meliput, pembaca akan lebih mengingat informasi jika disertai dengan sentuhan sains atau keilmiahan. Contoh di masa sekarang adalah pemberitaan terkait covid 19. Jika tidak disertai dukungan sains, maka info covid 19 akan dikategorikan sebagai hoaks.

Terakhir pada tulisan kali ini, jurnalis seyogiyanya dengan lapang dada menerima berbagai masukan dari publik. Karena suka atau tidak suka, setiap orang di luar media kita, merupakan orang-orang yang berpotensi untuk membaca tulisan kita. Ketika mereka memberi masukan, artinya mereka adalah pembaca, mereka adalah customer, mereka adalah pelanggan, mereka juga berpotensi untuk membagikan informasi dari media kita kepada orang lainnya lagi, seperti keluarga mereka, teman, rekan, serta kolega mereka. Hal Ini saya pelajari ketika menjadi Kadiv Humas dan Jurnalistik pada salah satu ormas di Kabupaten Batang Hari. Dan saya terapkan dalam membuat buletin ormas tersebut. Banyak sekali masukan bahkan kritikan, sebut saja kritik terkait judul, revisi informasi, revisi isi artikel dari segi bahasa, ralat nama dan gelar, serta berbagai kritikan lainnya. Namun menyikapi hal tersebut, saya tidak pernah berkecil hati atau malah marah dengan si pemberi masukan. Karena artinya si pemberi masukan membaca tulisan saya. Demikian pula ketika saya berpengalaman mengelola majalah Media Batang Hari di Dinas Kominfo, bahkan saya meminta masukan ke seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Batang Hari untuk peningkatan kualitas Media Batang Hari edisi selanjutnya.

Simpulan dari tulisan saya atau katakan lah ini sekadar opini kecil dari seorang yang dari usia belia telah menjadi pelaku jurnalistik meskipun bukan jurnalis tetap dari suatu media, juga sekaligus saya menjadi bagian dari Pemerintah, yang pada saat ini diamanahi di Dinas Kominfo, adalah bahwa Jurnalis tidak dapat mengabaikan publik dalam kinerjanya. Serta tetap menjaga komunikasi dengan publik, siapa pun itu. Publik pasti akan sangat menghargai profesi jurnalis/wartawan jika jurnalis tersebut juga berupaya menghargai dirinya sendiri melalui attitude yang baik, serta menghargai keberadaan orang lain. Wallahu a'lam bishshowwab, segala kebenaran milik Allah, dan jika terdapat kesalahan dan hal-hal yang kurang berkenan pada tulisan ini, kepada Allah saya mohon ampun, dan kepada pembaca saya mohon maaf.

Jambi, 15 Juli 2020

Saturday, April 11, 2020

INFO KARTU PRAKERJA



Rekan2 Program Prakerja, 

Rencananya, pendaftaran prakerja akan dibuka hari ini jam 7 malam oleh pak Menko melalui press briefing singkat via a) youtube live stream dan b) zoom conference dengan media dari kediaman beliau.

Persiapan:
1. Undangan link youtube/zoom akan disebarkan ke publik dan media di kisaran jam 5 sore.
2. Rilis pers dari Kemenko Perekonomian dan IG feed bahwa pendaftaran telah dibuka segera setelahnya.

Mohon bantuan dari rekan2 untuk:
- Menyebarkan info ttg press briefing dan link youtube utk publik di channel sosmed masing2. Nanti bisa repost feed dr IG Prakerja
- Membuat konten pengumuman di channel sosmed masing2, bahwa pendaftaran prakerja telah dibuka *setelah* press briefing selesai

Script Guideline:
- situs resmi telah menerima pendaftaran kartu prakerja (dan pendaftaran hanya di situs resmi)
- mee-recall syarat peserta kartu prakerja (WNI, 18, tidak sedang sekolah/kuliah formal)
- siapkan email, data diri spt NIK, foto ktp dan selfi dg foto KTP agar bisa sukses mendaftar (selengkapnya lihat prakerja.go.id/faq atau infografis di IG/situs)

Saturday, April 4, 2020

TIPS PERKULIAHAN ONLINE HEMAT KUOTA INTERNET BAGI DOSEN DAN MAHASISWA MILLENIAL


Dengan adanya Pandemi Covid-19 yang mulai mewabah di Indonesia pada Februari 2020, seluruh Perguruan Tinggi di Indonesia mengadakan kuliah Daring (Online). Demikian pula hal nya dengan Universitas Jambi (Unja).

Sebetulnya postingan tentang kuliah online menggunakan Aplikasi Zoom Meeting telah banyak berseliweran di media sosial, baik facebook, blog, hingga youtube.

Berikut saya berbagi sedikit pengalaman mengajar berkuliah daring, dengan fokus pada Tips hemat Kuota. Saya terinspirasi menulis ini, karena pada saat kuliah daring menggunakan aplikasi zoom, beberapa mahasiswa mengeluhkan kondisi paketnya yg terbatas, lalu ada yg susah signal, ada yg lemot/lambat loading, dan ada yg lagi di jalan (padahal udah disuruh diem di rumah aja). Alhasil kuliah kurang kondusif, sehingga saya hanya menggunakan aplikasi zoom untuk checklist kehadiran dan membahas/menjelaskan tentang materi serta tanya jawab. Selebihnya untuk pengerjaan soal latihan, saya beri waktu offline, lalu di share kembali beberapa waktu kemudian via WA group saja. Dengan demikian, kuota yang digunakan lebih hemat dan mahasiswa dapat mengerjakan soal latihan dengan fokus. Kebetulan mata kuliah yang saya ajarkan adalah Kalkulus dengan materi Persamaan Diferensial Orde 1, dengan jumlah mahasiswa lebih kurang 40 orang.

Sehingga tips untuk hemat kuota internet pada Kuliah Daring (dalam jaringan/online) dengan aplikasi zoom adalah sbb:
1. Gunakan 5 menit pertama untuk pengkondisian mahasiswa.
2. Gunakan 15 menit berikutnya untuk checklist kehadiran/presensi mahasiswa.
3. 20 menit selanjutnya adalah untuk menjelaskan materi serta tanya jawab. Lalu berikan soal-soal latihan untuk dikerjakan offline. Sepakati waktu share jawaban pada pukul berapa, dan jawaban di share melalui whatsApp group. Materi yang telah dijelaskan tadi, di share kembali pada WhatsApp group agar dapat dijadikan pedoman untuk pengerjaan soal-soal latihan.
4. Pada waktu yang ditentukan, mahasiswa sharing jawaban pada WA group, lalu dosen mengkoreksi/share jawaban yg tepat.
5. Waktu yg tersisa dpt digunakan utk diskusi, tanya jawab, dan penugasan via WA.

Berikut dokumentasi perkuliahan yang saya ampu via aplikasi zoom meeting, dengan materi PDB MK Kalkulus pada salah satu prodi di Unja sebagai contoh perkuliahan hemat kuota kali ini:




































Thursday, April 2, 2020

Prasangka yang Baik...

Prasangka yang baik akan terjadi bersama ihsan (perbuatan yang baik). Seorang muhsin (orang yang suka berbuat baik) tentu mempunyai prasangka yang baik terhadap Tuhannya, yakni bahwa Allah akan memberi ganjaran atas perbuatan baiknya. Dia tidak akan mengingkari janji dan akan menerima permohonan ampun dari hambaNya.
(Sumber: Tulisan Ibnul Qayyim al-Jauziyah)

Ketika Mengharapkan Sesuatu...

Siapa saja yang mengharapkan sesuatu, maka diisyaratkan adanya tiga hal:
Pertama, menyukai apa yang diharapkan.
Kedua, khawatir kehilangan sesuatu yang diharapkan.
Ketiga, berusaha keras untuk mendapatkannya.
Harapan yang tidak dikaitkan dengan sesuatu disebut angan-angan. Harapan berbeda dengan angan-angan. Setiap orang yang berharap pasti disertai rasa khawatir. Seorang yang berjalan di jalan raya bila merasa khawatir kehilangan sesuatu, ia akan mempercepat jalannya. (Sumber: Tulisan Ibnul Qayyim al-Jauziyah)

Tentang Kealpaan...

Amr az-Zahid berkata, "Karena kealpaanmu tentang dirimu dan berpalingnya engkau dari Allah swt, engkau akan melihat hal-hal yang membuat Allah murka. Engkau diam, tidak mengajak kepada kebaikan, dan tidak mencegah kemungkaran. Engkau takut kepada orang yang sebenarnya tidak bisa mendatangkan mudharat atau pun manfaat."

Allah Maha Penyayang...

Allah Maha Penyayang dan menyukai orang yang penyayang. Dia Maha Pemurah dan menyukai orang yang murah hati. Dia Maha Pandai dan menyukai orang yang pandai. Dia Maha Kuat dan menyukai orang yang kuat. Orang yang paling tidak Dia sukai di antara orang mukmin adalah orang yang lemah. Dia amat malu dan menyukai orang yang pemalu. Dia Maha Indah dan menyukai orang yang menyukai keindahan. Dia Tunggal dan menyukai orang yang melakukan sholat ganjil (witir).

Sunday, March 29, 2020

EDIFIKASI DALAM BERMEDSOS



Selama ini kebanyakan kita lebih sering mendengar kata edifikasi dalam dunia MLM, atau seorang MC/Moderator sebuah forum ilmiah mengedifikasi Narasumber. Edifikasi memang bermakna bicara positif tentang orang lain, dalam artian memberikan pujian (tentunya juga harus sesuai dengan kenyataan, bukan pujian meng-ada-ada) pada orang lain, agar org tersebut dihargai secara proporsional sebagaimana mestinya. Misalnya menyebutkan riwayat pendidikan, profesi, prestasi, kelebihan, dan hal positif lainnya dari orang yg ingin kita edifikasi. Tujuannya agar apa? Agar yg bersangkutan tidak dianggap sok tahu (baca: sotoy) atau berlebihan (baca: lebay) atau berbicara tdk sesuai keahlian, dan lain sebagainya. Intinya agar orang yg diedifikasi ini mendapat tempat sebagaimana mestinya. Tidak lebih dan tidak kurang. Bukan berarti dia jadi mulia, tidak juga. Hanya agar dia mendapat hak bicara dan hak didengar saja sebetulnya. Tak hanya di MLM atau seminar, Edifikasi ini ternyata sangat penting pula dalam bermedsos, apalagi dalam forum online, group FB, atau pun group WA.

Izinkan saya bercerita sedikit terkait edifikasi ini:

Alkisah sebuah group kumpulan orang-orang cerdas. Di dalamnya udah lengkap bgt berbagai profesi, yg paling banyak tenaga kesehatan, dokter hewan pun jg ada. Dosen ada beberapa, Notaris ada, PNS/ASN yg fungsional ada, yg pegang jabatan struktural pun ada. Pebisnis dan pengusaha ada. LSM dan wiraswasta pun ada, guru? Ada gak ya? Dari Perpajakan jg ada. Yg udah S2 banyak, yg lg S3 ada, bahkan ada yg S3 luar negeri. Polisi ada. TNI? Ada gak ya? OJK? Kayaknya ada. Perusahaan Asuransi/Perbankan? Sepertinya ada, dan lain sebagainya. Komplit deh pokoknya. Hanya ada 1 kekurangan group ini, warganya tidak saling meng-edifikasi. Mungkin ada, tapi dia TIDAK PERNAH di EDIFIKASI balik, sehingga hrs mengedifikasi diri sendiri. Nah, misal kejadian seseorang yg tdk mendapat edifikasi dari teman dekatnya di group itu, lalu berupaya menjelaskan tentang profesinya, prestasinya, skillnya, dll, krn kebanyakan anggota group yg lainnya gak begitu kenal dia, nah, pasti anggota group lain (yg bukan teman dekatnya) yg baca postingan/komentar/penjelasan dia di group itu jd menilai dia gak bagus krn terkesan muji2 diri sendiri. Habis mau gmn lg? posting sesuatu seolah diragukan. Berkomentar, malah diketusin. Sekali lg krn teman dekatnya di group itu yg kenal dia, tahu tentang dia, gak ada satupun yg meng-edifikasinya. Ketika dia mencoba menjelaskan tentang profesi yg tengah ia jalani, malah ada yg ketusin, menekan dan menginterogasi, krn memiliki profesi yg 'hampir sama' namun sang interogator, yg udah diedifikasi oleh temen dekatnya di group itu merasa berada di level yang lebih tinggi. Sementara dia sendiri pada awalnya sama sekali tidak bermaksud untuk mengabaikan profesi temannya alias sang interogator itu. Lagipula sedikit berbeda kondisinya krn dia 'yg tidak diedifikasi' memiliki beban kerja lebih besar krn terpaksa merangkap-rangkap pekerjaan akibat kekurangan personil/SDM di tempatnya bekerja. Melihat itu semua (tragedi diketusin), mungkin temen2 deket nya di group itu membatin, syukurin lo, ada yg ketusin, muji2 diri sendiri sih. Gitu kali ya? Kasian bgt yak? Nah sebenarnya biar hal itu gak kejadian di group2 kamu yg lainnya, apalagi kalo kamu sendiri yg mengalami situasi itu, itulah Pentingnya edifikasi sesama teman, apalagi dalam group yg orang-orangnya hebat-hebat semua. Sangat penting malah menurut saya, untuk menjaga kedamaian di dalam group dan biar gak ada yang memuji-muji diri sendiri, lalu ada yg ketusin dan nyindir2 yg disertai bumbu-bumbu kebencian. Percaya deh teman-teman, ketika kita mengedifikasi orang lain, akan banyak edifikasi dari orang lain juga buat kita.

Wallahu a'lam bishshowwab

Jambi City, di penghujung Maret 2020
Bunga Mardhotillah