Showing posts with label Ringkasan Buku.... Show all posts
Showing posts with label Ringkasan Buku.... Show all posts

Wednesday, June 2, 2010

Menyia-nyiakan Waktu...

Perkara yang akan paling banyak menghalangi seorang hamba meraih derajat yang tinggi di surga adalah tindakan menyia-nyiakan waktu, atau menggunakannya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Sebab, membuang waktu itu membuat kita tidak sempat mengerjakan amal-amal sholeh yang dapat meninggikan derajat di surga. Renungkanlah!

Banyak pekerjaan yang tergolong sebagai menyia-nyiakan waktu. Dan umumnya, termasuk perbuatan maksiat kepada ALLAH. Misalnya, bersenda gurau sambil mengolok-olok orang lain, duduk menonton film-film minim manfaat di depan televisi, berlama-lama menyaksikan saluran televisi dari satu acara ke acara yang lain, dan melihat gambar-gambar bernuansa negatif di majalah. Ingat: setiap perbuatan dan pandangan mata, kelak akan dimintai pertanggung jawaban.

Biasanya, orang-orang yang senang menyia-nyiakan waktunya itu, bila kita nasehati untuk berlomba-lomba dalam beramal sholeh dan meninggikan derajat mereka di dalam syurga, mereka akan berkata, "Kami masih berharap semoga ALLAH memasukkan kami ke surga, meskipun hanya di pintunya saja, atau di surga paling rendah."

Tampak bahwa semangat mereka untuk meraih derajat tertinggi surga sangat rendah dan tidak sebanding dengan semangat mereka dalam meraih kesenangan dunia yang fana. Padahal, Rasulullah S'AW memerintahkan umatnya agar berlomba-lomba meraih derajat tertinggi di surga, bukan berlomba-lomba meraih kehormatan dunia yang pasti akan binasa. Rasulullah S'AW bersabda, "Jika kalian berdo'a kepada ALLAH, mintalah surga firdaus, karena ia merupakan surga yang paling luas dan paling tinggi, yang di atasnya adalah Arsy Ar-Rahman serta darinya memancar sungai-sungai surga." (HR. Ahmad)

Derajat orang yang beramal tidak sama dengan orang yang tidak beramal. Demikian halnya, tidak sama pula derajat orang yang menghabiskan waktunya dalam ketaatan kepada ALLAH dengan orang yang menghabiskan waktunya untuk urusan-urusan remeh, apalagi untuk bermaksiat kepada ALLAH. Maka, apakah kita akan mencari derajat tanpa beramal sholeh? Dengarkanlah firman ALLAH berikut ini:

"Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang sholeh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka. Amat buruklah apa yang mereka sangka itu." (QS. Al-Jatsiyah: 21)

Muhammad bin An-Nadhar berkata, "Tidak ada seorang pun yang beramal di dunia ini kecuali tersedia baginya (para malaikat yang senantiasa berdo'a memohonkan kenaikan derajat baginya di akhirat. Jika dia berhenti, maka mereka pun berhenti. Sehingga, ketika mereka ditanya, "Mengapa kamu tidak bekerja?" Mereka menjawab, "Karena sahabat juga telah berhenti berbuat." (HR. Baihaqi)

Ibnul Qayyim al-Jauziyah berkata, "Orang yang selalu memelihara waktunya untuk beramal sholeh, ia akan terus naik menuju derajat kesempurnaan. Dan jika suatu saat ia menghambur-hamburkan waktu, sama sekali ia tidak akan tetap berada pada tempatnya yang tinggi, tetapi ia akan turun menuju tingkatan yang lebih rendah. Jika tidak naik, ia akan turun. Ini sebuah kepastian. Dan seorang hamba akan terus berjalan dan tidak akan pernah berhenti, dia pasti akan naik ke atas, atau turun ke bawah, atau mundur ke belakang.

Tak ada istilah berhenti bagi manusia dalam kehidupan ini. Demikian halnya dalam syariat; tak ada yang mengalami kemandegan sama sekali. Kehidupan ini tidak lain merupakan fase-fase yang ditempuh untuk menuju syurga, atau neraka. Tentu saja, dalam menjalani fase tersebut ada yang cepat dan ada yang lambat, ada yang maju atau mundur di tengah perjalanan. Semuanya bergerak; tidak ada yang berhenti sama sekali. Yang ada hanyalah perbedaan dalam cara berjalan, dalam kecepatan dan kelambanan.

"Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur." (QS. Al Muddatstsir: 35-37)

ALLAH tidak menyebut kata berhenti, karena tidak ada tempat yang ada di antara surga dan neraka. Tidak ada jalan bagi yang menempuh perjalanan selain dunia dan akhirat. Barangsiapa tidak maju dengan amal sholeh, maka dia akan mundur dengan amal yang buruk. (Tabdzib Madaarijus Saalikin, Ibnul Qayyim al-Jauziyah, hal 155)

Taken From: Buku Amalan-amalan untuk Meraih Tingkatan Tinggi Surga

Saturday, July 4, 2009

Tarbiyah Ruhiyah

RUHIYAH SEORANG DA’I

• Iman, ikhlas, sabar, dan optimisme adalah sifat-sifat fundamental dalam mencetak seorang da’I dlm persiapannya membekali diri dengan bekal dakwah.
• Sifat-sifat tersebut hanya dapat dimililiki oleh seorang mukmin yang telah merasakan nikmatnya iman, menyatukan diri dengan Islam, dan terus melangkah menuju tujuannya.
• Manakala seorang da’I tidak memiliki sifat-sifat rohani yang lengkap, maka hidupnya akan hampa dari nilai, dan pengaruh. Ia akan terperangkap dalam sifat ujub, nifaq, dan riya’. Terjerumus ke dalam lumpur kebanggaan, kesombongan dan egoisme. Ia akan berdakwah untuk dirinya, bukan untuk ALLAH. Akan membangun kejayaan bagi dirinya bukan untuk Islam. Ia akan bekerja untuk kebahagiaan di dunia dan bukan untuk kehidupan akhirat kelak…..Dari sinilah timbulnya penyimpangan, keruntuhan, dan kehancuran.


JALAN MEMPEROLEH KETINGGIAN RUHIYAH

• Takwa kepada ALLAH Azza wa Jalla adalah modal kekayaan inspirasi, sumber cahaya, dan karunia yang melimpah (al-Anfal:29, al-Hadid:28, ath-Thalaq:2-3).
• Orang yang bertakwa akan selalu mendapatkan jalan keluar yang menentramkan batinnya walau bagaimana besar dan rumitnya problema yang ia hadapi.
• Takwa kepada ALLAH menumbuhkan furqan dalam hati. Furqan yang bisa menyingkap jalan kehidupan.
• Dengan takwa pikiran menjadi terang, al-Haq tampak jelas, jalan lurus terbentang lebar, hati terasa tentram, batin begitu damai dan kaki terpancang teguh dalam menapaki perjalanan.



HAKIKAT TAKWA

• Takwa lahir sebagai konsekuensi logis dari keimanan yang kokoh, keimanan yang selalu dipupuk dengan muroqobatullah, merasa takut terhadap murka dan adzab-Nya, dan selalu berharap limpahan karunia dan maghfirah-Nya.
• Takwa adalah hendaklah ALLAH tidak melihat kamu berada dalam larangan-larangan-Nya dan Melihat kamu dalam menaati perintah-perintah-Nya.
• Takwa adalah mencegah diri dari adzab ALLAH dengan membuat amal Sholeh dan takut kepada-Nya di kala sepi atau terang-terangan.
• Takwa adalah kepekaan batin, kelembutan perasaan, rasa takut terus-menerus, selalu waspada dan hati-hati jangan sampai kena duri jalanan….jalan kehidupan yang selalu ditaburi duri-duri godaan dan syahwat, kerakusan, dan angan-angan, kekhawatiran dan keraguan, harapan semu atas segala sesuatu yang tidak bisa diharapkan. Ketakutan palsu dari sesuatu yang tidak pantas untuk ditakuti…dan masih banyak duri-duri yang lainnya.
• Keutamaan dan pengaruh takwa merupakan sumber segala kebaikan di masyarakat, sebagai satu-satunya cara untuk mencegah kerusakan, kejahatan, dan perbuatan dosa.
• Takwa merupakan pilar utama dalam pembinaan jiwa dan akhlak seseorang dalam menghadapi fenomena kehidupan. Agar ia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dan agar ia bersabar atas segala ujian dan cobaan.


JALAN MENCAPAI SIFAT TAKWA

• Mu’ahadah (Mengingat Perjanjian)
“Dan tepatilah perjanjian dengan ALLAH apabila kamu berjanji…” (An-Nahl[16]:91)
• Muroqobah (Merasakan Kesertaan ALLAH) → asy-Syu’araa [26]: 218-219. Hadits Rasulullah: ”Hendaklah kamu beribadah kepada ALLAH seolah-olah kamu melihat-Nya, dan jika memang kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya ALLAH Melihat kamu.
Muroqobah bermakna merasakan keagungan ALLAH Azza wa Jalla di setiap waktu dan keadaan serta merasakan kebersamaan-Nya di kala sepi ataupun ramai. Cara Muroqobah: sebelum memulai suatu pekerjaan dan di saat mengerjakannya, hendaklah seorang mukmin memeriksa dirinya....Apakah setiap gerak dalam melaksanakan amal dan ketaatannya dimaksudkan untuk kepentingan pribadi dan mencari popularitas, ataukah karena dorongan ridha ALLAH dan menghendaki pahala-Nya?
Macam-macam muroqobah: Muroqobah dalam melaksanakan ketaatan adalah dengan ikhlas kepada-Nya. Muroqobah dalam kemaksiatan adalah dengan taubat, penyesalan, dan meninggalkannya secara total. Muroqobah dalam hal-hal yang mubah adalah dengan menjaga adab-adab thd ALLAH dan bersyukur atas segala nikmat-Nya. Muroqobah dalam musibah adalah dengan ridha kepada ketentuan ALLAH serta memohon pertolongan-Nya dengan penuh kesabaran.
• Muhasabah (Introspeksi Diri) → al-Hasyr[59]:18. Makna muhasabah adalah hendaknya seorang mukmin menghisab dirinya ketika selesai melakukan amal perbuatan...apakah tujuan amalnya untuk mendapatkan ridha ALLAH? Atau apakah amalnya dirembesi sifat riya’? Apakah dia sudah memenuhi hak-hak ALLAH dan hak-hak manusia?... Semoga ALLAH Meridhai Umar al-Faruq R.’A yang berkata, ”Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk pertunjukan yang agung (hari kiamat). Di hari itu kamu dihadapkan kepada pemeriksaan. Tiada yang tersembunyi dari amal kalian barang satu pun. Hakikat Muhasabah → Jika sebagai da’i kita telah menghisab diri dalam urusan yang besar maupun yang kecil, dan berusaha keras melakukan khalwat di malam hari dengan ALLAH untuk melihat apa yang akan dipersembahkan di hari Kiamat nanti...maka dengan demikian kita telah melangkah menuju takwa dan menapaki perjalanan rohani bahkan akhirnya kita akan sampai ke derajat para muttaqin (Aamiin).
• Mu’aqobah (Pemberian Sanksi) → apabila seorang mukmin menemukan kesalahan maka tak pantas baginya untuk membiarkannya. Sebab membiarkan diri dalam kesalahan akan mempermudah terlanggarnya kesalahan-kesalahan yang lain dan akan semakin sulit untuk meninggalkannya. Sanksi ini harus dengan sesuatu yang mubah. Contoh: Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Umar bin Khattab R.’A pergi ke kebunnya. Ketika pulang didapatinya orang-orang sudah selesai melaksanakan sholat Ashar. Maka beliau berkata, ”Aku pergi hanya untuk sebuah kebun, aku pulang orang-orang sudah sholat Ashar!... kini kebunku aku jadikan shadaqah untuk orang-orang miskin. Menanggapi masalah ini al-Laits berkata, ”Padahal beliau hanya ketinggalan sholat berjama’ah!”
Suatu ketika Umar R.’A. pernah disibukkan oleh suatu urusan sehingga waktu Maghrib lewat sampai muncul dua bintang. Maka setelah melaksanakan sholat Maghrib beliau memerdekakan dua orang budak. Ketika Abu Thalhah sedang sholat, di depannya lewat seekor burung lalu beliau pun melihatnya dan lalai dari sholatnya sehingga lupa sudah berapa raka’at beliau sholat. Karena kejadian tersebut beliau mensedekahkan kebunnya untuk kepentingan orang-orang miskin sebagai sanksi atas kelalaian dan ketidakkhusyu’annya. Hasan bin Hannan pernah melewati sebuah rumah yang selesai dibangun. Beliau berkata, ”Kapan rumah ini dibangun?” kemudian beliau menegur dirinya, ”Kenapa kau tanyakan sesuatu yang tidak berguna untuk dirimu?! Akan kujatuhkan sanksi padaku dengan puasa setahun!” Dan beliau pun berpuasa satu tahun sebagai sanksi atas campur tangan dalam sesuatu yang tidak berguna baginya. Ada baiknya bila setiap da’i mengikuti jejak generasi salaf dalam muhasabah diri dan menjatuhkan sanksi; jika ia menemukan kelalaiannya dalam memikul tanggung jawab atau meninggalkan kewajiban terhadap ALLAH dan sesama manusia. Misalnya dengan menginfakkan sejumlah uang tatkala meninggalkan sholat berjama’ah, atau dengan mengerjakan beberapa rakaat sholat sunnah ketika tidak berziarah ke tempat ikhwah.
• Mujahadah (optimalisasi) → al-Ankabut [29]: 69. Makna mujahadah adalah apabila seorang mukmin terseret dalam kemalasan, santai, cinta dunia, dan tidak lagi melaksanakan amal-amal sunnah serta ketaatan yang lainnya tepat pada waktunya, maka ia harus memaksa dirinya melakukan amal-amal sunnah lebih banyak dari sebelumnya. Dalam hal ini harus tegas, serius, dan penuh semangat sehingga pada akhirnya ketaatan merupakan kebiasaan yang mulia bagi dirinya dan menjadi sikap yang melekat pada dirinya. Diriwayatkan oleh Aisyah R.’A., ”Rasulullah S’AW melaksanakan sholat malam hingga kedua tumitnya bengkak. Ketika Aisyah R.’A. bertanya, ”Mengapa engkau lakukan hal itu? Bukankah ALLAH sudah mengampuni dosamu yang sudah lalu dan yang akan datang?” Rasulullah menjawab, ”Bukankah sepantasnya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?!” (H.R. Bukhari dan muslim). Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, Aisyah R.’A. berkata, ”Apabila Rasulullah memasuki sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, beliau menghidupkan malam (dengan ibadah), membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh dan mengencangkan ikat pinggang”. Imam Turmudzi meriwayatkan dari Abu Sofwan, beliau berkata, ”Rasulullah S.’AW bersabda, ”Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya.” Setiap kali kita menemukan kemalasan atau kelalaian dalam melaksanakan hak-hak ALLAH walau hanya berupa sunnah, mereka bangkit dari kelalaiannya dengan serius dan tekad yang bulat kemudian kembali ke jalan ALLAH dengan penuh kekhusyu’an. Sehingga mereka sampai ke puncak derajat yaqin. Hati mereka merasakan hembusan keimanan dan di relung jiwa mereka terasakan manisnya ibadah dan nikmatnya munajat. Contoh: Abu Muhammad al-Jahiri bermukim di Makkah selama satu tahun. Beliau tidak tidur, tidak berbicara, tidak bersandar ke dinding dan tidak duduk melonjorkan kaki. Abu Bakar al-Kitani bertanya kepada beliau, ”Bagaimana anda bisa kuat seperti ini?” Beliau menjawab, ”ALLAH Maha Mengetahui ketulusan batin saya sehingga dengan demikian Dia Menolong kekuatan lahiriyah saya.” Ketika orang-orang mengunjungi Zahlah al-Abidah, mereka mengungkapkan kekhawatiran mereka atas kesehatan dirinya. Tetapi Zahlah berkata, ”Hidup ini hanyalah hari-hari untuk bersegera melakukan amal. Siapa yang ketinggalan hari ini maka dia tak bisa menyusulnya di hari esok. Selanjutnya bagi orang-orang yang ingin bersungguh-sungguh dalam ibadah dan membawa dirinya untuk bermujahadah harus memperhatikan dua sisi penting dalam amal-amalnya, pertama, hendaklah amal-amal yang sunnah tidak membuatnya lupa akan kewajiban-kewajiban yang lainnya. Kedua, tidak memaksakan diri dengan amal-amal sunnah yang di luar kemampuannya.
Dengan mu’ahadah kita dapat beristiqamah di atas syari’at ALLAH dan dengan muroqobah kita dapat merasakan keagungan ALLAH, baik di kala sembunyi ataupun di kala ramai. Dengan muhasabah kita bisa terbebas dari kebusukan hawa nafsu yang selalu berontak, dan bisa memenuhi hak-hak ALLAH dan hak-hak sesama manusia. Dengan mu’aqobah kita bisa memisahkan diri dari penyimpangan. Dengan mujahadah kita dapat memperbaiki aktivitas diri sekaligus menumpas kemalasan dan kelalaian.

FAKTOR-FAKTOR YANG MENUMBUH SUBURKAN RUHIYAH
1. Faktor-faktor yang Berkaitan dengan Kepekaan Jiwa.
• Senantiasa bermuroqobah kepada ALLAH. (Merasakan kesertaan ALLAH)
• Mengingat kematian dan kehidupan sesudahnya.
• Membayangkan kehidupan akhirat beserta seluruh peristiwanya. (Semua manusia dikumpulkan dengan telanjang bulat dan tanpa alas kaki, matahari sangat dekat di atas kepala, bumi menjadi saksi atas apa yang dilakukan seorang hamba di atas permukaannya, ada beberapa tempat dimana seseorang tak lagi mengingat siapa pun selain dirinya, anggota badan menjadi saksi atas perbuatan pemiliknya, tentang kegelapan neraka yang sangat pekat, tentang lembah-lembah Jahannam, tentang gada-gada neraka, tentang keburukan ahli neraka, tentang minuman ahli neraka, tentang makanan ahli neraka, tentang tangisan ahli neraka, mengenal ukuran ahli neraka yg membesar shg gusinya mjd lebih besar dari gunung Uhud, keadaan ahli surga/cukuplah mereka bangga dan mulia dengan apa yang ALLAH siapkan untuk mereka di dalamnya. Dan cukuplah mereka berbangga dengan keabadian yang tak berkesudahan di dalamnya, tidak sakit, tidak pikun.
2. Faktor-faktor Amaliyah yang Menumbuhkan Ruhiyah.
• Memperbanyak tilawah Al-Qur’an dengan tadabbur.
• Hidup bersama Rasulullah melalui shirohnya yang harum semerbak. (Mencontoh ibadah, kezuhudan, ketakwaan Nabi, keteguhan Nabi dalam mempertahankan prinsip, mencontoh kekuatan fisik nabi, serta meneladani keberanian Rasulullah S.’AW.).
• Selalu menyertai orang-orang pilihan, yakni mereka yang berhati bersih dan mengenal ALLAH. Orang-orang pilihan yang mengenal ALLAH memiliki ciri-ciri di antaranya: Komitmen terhadap syariat Islam dengan niat yang ikhlas dan jujur dalam ketaatan dan kontinu dalam beramal, dalam diri mereka tidak tampak adanya kemaksiatan, bid’ah, atau apa pun yang menyalahi syari’at. Sebab mereka adalah orang-orang yang bersih, memiliki komitmen, dan menjadi teladan. Mereka menyibukkan diri dengan kelemahan dan aib yang ada pada dirinya. Mereka tidak pernah sibuk dengan kesalahan-kesalahan orang lain. Mereka melaksankan tugas amar ma’ruf nahi munkar dengan kekuatan iman dan keberanian jiwa. Di wajah mereka tampak adanya cahaya keimanan dan takwa. Mereka memperhatikan umat Islam dan bersemangat menghadapai segala permasalahan yang dihadapi umat. Bergerak secara jujur demi tanggung jawab dakwah dan punya semangat yang ikhlas dalam perbaikan umat dan jihad.
• Dzikir kepada ALLAH di setiap waktu dan keadaan.
• Menangis karena takut kepada ALLAH di saat berkhalwat (menyendiri).
Beberapa keutamaan menangis karena takut kepada ALLAH: Berada di bawah naungan ALLAH di hari kiamat, terbebas dari adzab ALLAH, berada dalam limpahan cinta kasih Ilahi, berada dalam ampunan dan maghfiroh-Nya,
• Bersungguh-sungguh membekali diri dengan ibadah-ibadah Nafilah (Sunnah). Sholat Nafilah: Sholat Dhuha, sholat Awwabin, sholat sunnah Tahiyatul Masjid, sholat sunnah wudlu, sholat malam, sholat tarawih. Shaum Nafilah: Puasa ’Arafah, Puasa ’Asyuro dan Tasu’a, Shaum 6 hari pada bulan Syawal, Shaum tiga hari bidh (tanggal 13, 14, 15 penanggalan qomariyah), Shaum hari senin dan kamis, Shaum sehari dan buka sehari (Puasa Daud). Shodaqoh Nafilah: sifat berkorban, berinfaq, dan itsar. Ibadah Haji dan Umroh Nafilah: Dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah R.’A. bahwa Rasulullah S’AW bersabda, ”Antara satu umrah dan umrah yang lainnya menghapuskan dosa di antara keduanya, dan haji mabrur balasannya adalah surga.”

PENGARUH TARBIYAH RUHIYAH
(Dalam Pembinaan, Perbaikan, dan Pembaruan Umat)

Untuk apakah ”terminal ruhiyah” ini? Jawabannya adalah agar kita mampu mengalahkan nafsu amarah ketika ia membisikkan kemaksiatan. Untuk menggagalkan tipu daya ketika ia menggoda kita dengan memperindah kemungkinan. Untuk menjaga diri agar tidak tertipu oleh dunia, ketika merasa tertarik kepadanya. Agar kita selamat dari jurang nifaq, riya’, dan ‘ujub ketika kita berada di dekatnya. Agar kita selalu mengingat kematian tatkala kita lupa atau di saat kita akrab dengan dunia. Agar kita bisa menjauhkan diri dari hal-hal yang haram atau yang syubhat sekalipun. Agar kita beristiqomah dalam menjalani syariat ALLAH, baik dalam keadaan sembunyi-sembunyi, atau terang-terangan. Agar orang percaya kepada kita dan siap menerima kita. Agar kita dapat memberi petunjuk dan kebaikan kepada orang yang kita dakwahi. Agar orang-orang menemukan sifat-sifat para sholihin dan Rabbaniyyin dalam diri kita. Agar kita meninggalkan kenangan untuk umat dan suri teladan untuk generasi-generasi yang akan datang.

Terminal Ruhiyah adalah sumber aspirasi dan perbendaharaan kita. Khazanah dan pemahaman dan tempat muhasabah. Bahkan ia merupakan motor penggerak yang melahirkan kekuatan iman, pancaran rohani, muhasabah batin, moroqobah robbaniyah, dan melahirkan semangat untuk berangkat ke medan dakwah. Wallahu a’lam bish showwab


PS: Jangan berpuas hati dengan hanya membaca ringkasan ini. Sebaiknya memang membaca langsung bukunya karena di dalam buku Tarbiyah Ruhiyah tersebut banyak kisah-kisah teladan Rasulullah, para sahabat, dan para sholihin yang tidak dimuat dalam ringkasan sederhana ini.

Tuesday, March 17, 2009

Tazkiyatun Nafs (4)

MENSUCIKAN JIWA (PART 4)
(SA’ID HAWA)

DZIKIR

Al-Ghazali Rahimahullah berkata:
Ketahuilah bahwa orang-orang yang memandang dengan cahaya bashirah mengetahui bahwa tidak ada keselamatan kecuali dengan pertemuan dengan Allah ta’ala, dan tidak ada jalan untuk bertemu Allah SWT kecuali dengan kematian hamba dalam keadaan mencintai dan mengenal Allah SWT. Sesungguhnya cinta dan keakraban tidak akan tercapai kecuali dengan selalu mengingat yang dicintai. Sesungguhnya pengenalan kepada-Nya tidak akan tercapai kecuali dengan senantiasa berpikir tentang berbagai penciptaan, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya. Di alam wujud ini yang ada hanyalah Allah dan perbuatan-perbuatan-Nya. Sementara itu, tidak akan bisa senantiasa dzikir dan pikir kecuali dengan berpisah dari dunia berikut syahwat-syahwatnya dan mencukupkan diri dengannya sesuai keperluan. Tetapi itu semua tidak akan tercapai kecuali dengan mengoptimalkan waktu-waktu malam dan siang dalam tugas-tugas dzikir dan pikir.

Barangsiapa yang ingin masuk surga tanpa hisab maka hendaklah ia mengoptimalkan waktunya untuk keta’atan, dan barangsiapa ingin daun timbangan kebaikan dan kebajikannya lebih berat maka hendaklah ia menggunakan sebagian besar waktunya untuk keta’atan. Jika ia mencampur aduk amal sholeh dengan amal keburukan maka ia berada dalam bahaya, tetapi harapan tidak pernah terputus dan ampunan dari kedermawanan Allah senantiasa dinantikan: semoga Allah berkenan mengampuninya dengan kedermawanan-Nya.

Allah Berfirman kepada hamba-Nya yang paling dekat dan paling tinggi derajatnya di sisi-Nya:

”Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” (al-Muzzammil: 7-8)

”Dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam.” (Qaaf: 39-40)

”Dan bertasbihlah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang.” (Thaha: 130)

Sa’id Hawwa berkata: Orang yang menghendaki akhirat harus membuat program rutin untuk dirinya berupa bacaan istighfar, tahlil, sholawat atas Rasulullah S’AW dan dzikir-dzikir ma’tsur lainnya, sebagaimana ia harus membiasakan lisannya untuk dzikir terus menerus seperti tasbih, istighfar, tahlil, takbir, atau hauqalah (laa haula walaa quwwata "dan amalan-amalan lainnya. Kesucian dan ketinggian jiwanya akan sangat ditentukan oleh sejauh mana ia telah melaksanakan sarana-sarana tazkiyah, baik ia merasakannya ataupun tidak.


TAFAKKUR

Allah SWT Berfirman:
”Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah?” (al-A’raf:185)

”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.” (Ali Imran: 190-191)

Dari nash kedua kita mengetahui bahwa kesempurnaan akal tidak akan tercapai kecuali dengan bertemunya dzikir dan pikir manusia.


MENGINGAT KEMATIAN DAN PENDEK ANGAN-ANGAN

Sesungguhnya di antara hal yang membuat jiwa melantur dan mendorongnya kepada berbagai pertarungan yang merugikan dan syahwat yang tercela adalah panjang angan-angan dan lupa akan kematian. Oleh karenanya, di antara hal yang dapat mengobati jiwa adalah mengingat kematian yang notabene merupakan konsekuensi dari kesadaran akan keniscayaan keputusan Ilahi, an pendek angan-angan yang merupakan dampak dari mengingat kematian.

Sesungguhnya pendek angan-angan dan mengingat kematian dapat memindahkan manusia dari tingkatan kedua ke tingkatan pertama.

Rasulullah S’AW bersabda:
”Orang yang cerdas ialah orang yang mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan ia meng-hasan-kannya)

Monday, March 16, 2009

Tazkiyatun Nafs (3)

MENSUCIKAN JIWA (PART 3)
(SA’ID HAWA)

TILAWAH AL-QUR’AN

Tilawah Al-Qur’an dapat menghaluskan jiwa dari beberapa segi. Ia mengenalkan manusia kepada tuntutan yang harus dilakukannya, membangkitkan berbagai nilai yang dimaksudkan dalam tazkiyatun-nafs, menerangi hati, mengingatkannya, menyempurnakan fungsi sholat, zakat, puasa, dan haji dalam mencapai maqam ‘ubudiyah kepada Allah ‘azza wa jalla. Tilawah Al-Qur’an memerlukan penguasaan yang baik tentang hokum-hukum tajwid dan komitmen harian dengan wirid dari Al-Qur’an.

Al-Qur’an dapat berfungsi dengan baik apabila dalam tilawahnya disertai adab-adab batin dalam perenungan, khusyu’, dan tadabbur.

Sepuluh Amalan dalam Tilawah: Memahami sumber firman, ta’zhim, kehadiran hati, tadabbur, tafahhum, menghindari hambatan-hambatan kefahaman, takhsish, ta’atstsur, taraqqi, dan tabarriy.

Pertama: Memahami keagungan dan ketinggian firman, karunia ALLAH SWT dan kasih sayang-Nya kepada makhluk dalam menurunkan al-Qur’an dari ’Arsy kemuliaan-Nya ke derajat pemahaman makhluk-Nya.

Kedua: Mengagungkan Mutakallim (Allah). Pada permulaan tilawah Al-Qur’an, seorang pembaca harus menghadirkan di dalam hatinya keagungan Allah (al-Mutakallim) dan mengetahui bahwa apa yang dibacanya bukanlah pembicaraan manusia, dan bahwa membaca kalam Allah sangat penting, karena itu Dia berfirman: “Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” (al-Waqi’ah:79)

Ketiga: Kehadiran hati dan meninggalkan bisikan jiwa. Mengambilnya dengan serius yaitu dengan berkonsentrasi penuh dalam membacanya, dan mengarahkan perhatian hanya kepadanya.
Keempat: Tadabbur. Tadabbur adalah sesuatu di luar ’kehadiran hati’, karena bisa jadi ia tidak berpikir selain al-Qur’an tetapi hanya mendengarkan al-Qur’an dari dirinya sendiri padahal ia tidak mentadabburkannya. Tujuan membaca adalah tadabbur, oleh karena itu disunnahkan membaca dengan tartil sebab di dalam tartil secara zhahir memungkinkan tadabbur dengan bathin. Ali R.’A berkata:
”Tidak ada kebaikan pada ibadah tanpa pemahaman di dalamnya, dan tidak ada kebaikan pada bacaan tanpa tadabbur di dalamnya.”

Kelima: Tafahhum (memahami secara mendalam). Yaitu mencari kejelasan dari setiap ayat secara tepat, karena al-Qur’an meliputi berbagai masalah tentang sifat-sifat Allah, perbuatan-perbuatan-Nya, ihwal para Nabi, ihwal para pendusta dan bagaimana mereka dihancurkan, perintah-perintah-Nya, larangan-larangan-Nya, sorga dan neraka. Karena itu, hendaklah selalu berusaha mencari pemahaman tersebut. Ibnu Mas’ud berkata: Barangsiapa menghendaki ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang terkemudian, maka hendaklah ia mendalami al-Qur’an.

Keenam: Meninggalkan hal-hal yang dapat menghalangi pemahaman. Penghalang pemahaman ada empat: (1) Perhatiannya tertuju kepada penunaian bacaan huruf-hurufnya saja, (2) taqlid kepada mazhab yang didengarnya, (3) berterus-menerus dalam dosa atau sikap sombong atau secara umum terjangkiti oleh penyakit hawa nafsu kepada dunia yang diperturutkan, (4) karena telah membaca ‘tafsir zhahir’ dan meyakini bahwa tidak ada makna lain bagi kalimat-kalimat al-Qur’an kecuali apa yang disebutkan dalam nukilan dari Ibnu Abbas, Mujahid, dan lainnya.

Ketujuh, Takhshish. Yaitu menyadari bahwa dirinya merupakan sasaran yang dituju oleh setiap khithab (nash) yang ada dalam al-Qur’an.

Kedelapan: Ta’atstsur (Mengimbas ke dalam hati). Yaitu hatinya terimbas dengan berbagai imbasan yang berbeda sesuai dengan beragamnya ayat yang dihayatinya. Sesuai dengan pemahaman yang dicapainya demikian pula keadaan dan imbasan yang dirasakan oleh hati berupa rasa sedih, takut, harap, dan lain sebagainya.

Kesembilan: Taraqqi. Yakni meningkatkan penghayatan sampai ke tingkat mendengarkan kalam dari Allah SWT bukan dari dirinya sendiri. Karena derajat bacaan ada tiga: (1) derajat yang paling rendah, yaitu seorang hamba merasakan seolah-olah dia membacanya kepada Allah, berdiri di hadapan-Nya, sementara itu Dia menyaksikan dan mendengarkannya. (2) menyaksikan dengan hatinya seolah-olah Allah melihatnya dan mengajaknya bicara dengan berbagai taufiq-Nya, memanggilnya dengan berbagai ni’mat dan kebaikan-Nya. (3) melihat mutakallim dalam setiap kalam yang dibacanya.

Kesepuluh: Tabarriy. Yakni melepaskan diri dari daya dan kekuatannya, dan memandang kepada dirinya dengan pandangan ridha dan tazkiyah

Friday, March 13, 2009

Tazkiyatun Nafs (2)

MENSUCIKAN JIWA (PART 2)
(SA’ID HAWA)

Urgensi puasa dalam tazkiyatun-nafs (Mensucikan Jiwa) menduduki derajat ketiga (setelah sholat dan zakat), karena di antara syahwat besar yang bisa membuat manusia menyimpang adalah syahwat perut dan kemaluan. Sedangkan puasa merupakan pembiasaan terhadap jiwa untuk mengendalikan kedua syahwat tersebut. Jika kesabaran termasuk kedudukan jiwa yang tertinggi maka puasa merupakan pembiasaan jiwa untuk bersabar. Oleh sebab itu disebutkan dalam sebuah hadits: “Puasa adalah separuh kesabaran.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah, hadits hasan). Allah SWT telah menjadikan puasa sebagai sarana untuk mencapai derajat taqwa. (al-Baqarah: 183)

Puasa memiliki tiga tingkatan: Puasa orang awam, puasa orang khusus dan puasa orang super khusus.

Puasa orang awam ialah menahan perut dan kemaluan dari memperturutkan syahwat. Puasa orang khusus ialah menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan semua anggota badan dari berbagai dosa. Puasa super khusus adalah puasa hati dari berbagai keinginan yang rendah dan pikiran-pikiran yang tidak berharga; juga menahan hati dari selain Allah secara total, dan puasa ini menjadi ”batal” karena fikiran tentang selain Allah dan hari akhir; karena fikiran tentang dunia kecuali dunia yang dimaksudkan untuk agama (karena dunia yang dimaksudkan untuk agama tersebut sudah termasuk bekal akhirat dan tidak lagi dikatakan sebagai dunia). Ini merupakan tingkatan para Nabi, Rasul, Shiddiqin, dan Muqarrabin.

Puasa orang khusus ialah puasa orang-orang sholeh yaitu menahan anggota badan dari berbagai dosa. Sedangkan kesempurnaannya ialah dengan enam perkara:
1. Menundukkan pandangan dan menahannya dari berkeliaran memandang ke setiap hal yang dicela dan dibenci, ke setiap hal yang bisa menyibukkan hati dan melalaikan dari mengingat Allah ’azza wajalla.
2. Menjaga lisan dari bualan, dusta, ghibah, gunjingan, kekejian, perkataan kasar, pertengkaran, dan perdebatan. Mengendalikannya dengan diam, menyibukkannya dengan dzikrullah dan tilawah al-Qur’an. Itulah puasa lisan.
3. Menahan pendengaran dari mendengarkan setiap hal yang dibenci (makruh) karena setiap yang diharamkan perkataannya diharamkan pula mendengarkannya.
4. Menahan berbagai anggota badan lainnya dari berbagai dosa, seperti menahan tangan dan kaki dari hal-hal yang dibenci, menahan perut dari berbagai syubhat pada waktu tidak puasa.
5. Tidak memperbanyak makanan halal pada saat berbuka puasa sampai penuh perutnya. Karena tidak ada wadah yang paling dibenci oleh Allah swt selain perut yang penuh dengan makanan halal.
6. Hendaknya setelah ifthar hatinya tergantung dan terguncang antara cemas dan harap, sebab ia tidak tahu apakah puasanya diterima sehingga termasuk golongan Muqarrabin atau ditolak sehingga termasuk orang-orang yang dimurkai? Hendaklah hatinya dalam keadaan demikian di akhir setiap ibadah yang baru saja dilaksanakan.

Sebagian ulama’ berkata: Berapa banyak orang yang berpuasa sesungguhnya dia tidak berpuasa dan berapa banyak orang yang tidak berpuasa tetapi sesungguhnya ia berpuasa. Nabi S’AW bersabda:
”Puasa adalah amanah maka hendaklah salah seorang di antara kamu menjaga amanahnya.” (Diriwayatkan oleh al-Khara’ithi dan sanadnya hasan).


HAJI

”Barang siapa menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh berkata kotor, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji...” (al-Baqarah: 197)

”Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati.” (al-Hajj:32)


Haji adalah pembiasaan jiwa untuk melakukan sejumlah nilai, seperti istislam, taslim, mengerahkan jerih payah dan harta di jalan Allah, ta’awun, ta’aruf, dan melaksanakan syi’ar-syi’ar ’ubudiyah kepada Allah SWT. Semua itu memiliki pengaruh dalam tazkiyatun-nafs, sebagaimana merupakan bukti telah merealisasikan kesucian jiwa.

Rincian Adab dan Amal-amal Batin Ibadah Haji

1. Rincian Adab

a) Finansialnya hendaknya halal.

b) Memperbanyak bekal dan ridha mengeluarkan (bekal) dan berinfaq tanpa pelit dan pemborosan, tetapi ekonomis.

c) Meninggalkan rafats, fusuq, dan jidal, sebagaimana diungkapkan Al-Qur’an.
Rafats ialah sebutan bagi setiap kesia-siaan dan kemesuman dan perkataan yang jorok. Termasuk ke dalam kategori rafats ialah merayu wanita, bercumbu, berbicara seputar masalah jima’ dan pengantarnya. Semua itu dapat membangkitkan dorongan jima’ yang dilarang. Pendorong hal yang dilarang adalah dilarang. Fusuq adalah sebutan bagi tiap pelanggaran akan ketaatan kepada ALLAH SWT. Jidal adalah berlebih-lebihan dalam bertengkar dan perbantahan sehingga dapat menimbulkan antipati dan mengacaukan perhatian.

d) Hendaknya berhaji dengan berjalan kaki, jika mampu, karena hal ini lebih utama, terutama perjalanan dari Mekkah ke Arafah dan Mina.

e) Hendaknya berpenampilan lusuh, berdebu, dan dekil; tidak banyak memakai perhiasan dan tidak cenderung kepada berbagai sarana kemewahan dan kemegahan. At-tafats ialah dekil dan berdebu yang pembersihannya dilakukan dengan mencukur, menggunting kumis dan kuku, yaitu pada saat tahallul dan ihram.

f) Hendaknya ber-taqarrub dengan menyembelih binatang qurban sekalipun ia tidak berkewajiban melakukannya dan berusaha agar binatang qurbannya termasuk yang mahal dan berharga, kemudian memakan sebagian dagingnya jika qurban itu sebagai tathawwu’, dan tidak memakan dagingnya jika qurban itu sebagai kewajiban [kecuali dengan fatwa Imam].
Al-‘Ajju ialah mengucapkan talbiyah dengan suara keras. Ats-Tsajju ialah penyembelihan unta.

g) Hendaknya merasa senang dan ridha dalam mengeluarkan semua biaya baik nafkah ataupun pembelian binatang qurban, juga terhadap kerugian dan musibah yang mungkin menimpa harta atau badannya, karena yang demikian itu termasuk tanda-tanda diterimanya haji. Dikatakan, di antara diterimanya haji adalah meninggalkan kemaksiatan yang pernah menjadi kebiasaan sebelumnya, mengganti teman-temannya yang durhaka menjadi teman-teman yang shalih, meninggalkan majelis-majelis permainan dan kelalaian lalu menggantinya dengan majelis-majelis dzikir dan kesadaran.


2. Amal-amal Batin.

Mengikhlaskan Niat, Mengambil Pelajaran dari Berbagai Tempat yang Mulia, dan Cara Merenungkan Berbagai Rahasia dan Nilai-nilai Haji dari Awal hingga Akhir.
Permulaan haji adalah kefahaman –yakni tentang kedudukan haji dalam agama- kemudian kerinduan terhadapnya, kemudian berazzam untuk melakukannya, kemudian memutuskan berbagai keterkaitan yang menghalanginya, kemudian membeli pakaian ihram, kemudian membeli bekal, kemudian mempersiapkan kendaraan, kemudian keluar, kemudian keberangkatan, kemudian ihram dari miqat dengan talbiyah, kemudian memasuki Mekkah, kemudian menyempurnakan berbagai amalan (pandangan mata pada Baitullah, thawaf di Baitullah, istilam(mencium atau menyentuh Hajar Aswad), bergelantungan dengan kelambu Ka’bah dan menempel di Multazam, sa’i antara Shafa dan Marwah di pelataran Baitullah, wukuf di Arafah, melempar jumrah, menyembelih binatang qurban (hadyu), ziarah ke Madinah). Sedangkan menziarahi Rasulullah S’AW: maka hendaklah engkau berdiri di hadapannya dan menziarahinya seolah-olah engkau menziarahinya ketika masih hidup. Janganlah anda mendekati kuburannya kecuali seperti engkau mendekati pribadinya yang mulia semasa hidup; sebagaimana engkau berpendapat haram menyentuh kuburnya dan menciumnya, tetapi berdirilah dari kejauhan di hadapannya, karena menyentuh kuburan dan menciumnya untuk kesaksian merupakan tradisi kaum Nasrani dan Yahudi. Hadirkanlah keagungan derajatnya di hatimu.
Dalam setiap perkara tersebut di atas terdapat peringatan bagi orang yang mencari peringatan dan pelajaran. Juga terdapat pengenalan dan isyarat bagi orang yang ’cerdas’.



Tuesday, March 10, 2009

Tazkiyatun Nafs (1)

Mensucikan Jiwa (SA’ID HAWA)


Warisan kenabian adalah acuan pembaruan yang benar, karena misi utama para Rasul ‘alaihimus salam adalah tadzkir, ta’lim, dan tazkiyah. Karena itu, pewaris kenabian yang utuh adalah orang yang mampu menjaga hal-hal ini tetap utuh dan sempurna, melaksanakannya, dan menunaikan hak-hak Allah padanya.

Jarang sekali ketiga hal ini berhimpun pada seseorang. Ada seorang yang piawai dalam menyampaikan nasehat tetapi tidak banyak berilmu. Ada seorang yang banyak berilmu tetapi tidak piawai dalam menyampaikan nasehat. Ada seorang yang berilmu dan piawai dalam menyampaikan nasehat tetapi tidak mampu melakukan tazkiyah. Siapa yang memiliki ketiga hal ini maka dia telah memiliki “obat mujarab” kehidupan. Jika tidak, maka proses tajdid tetap harus berlangsung di kalangan mereka yang menginginkan dan yang melaksanakannya.

Hal terpenting yang harus menjadi perhatian nasehat para pemberi nasehat ialah mengingatkan (tadzkir) kepada ayat-ayat Allah di ufuk dan jiwa. Mengingatkan kepada perbuatan dan hari-hari Allah. Mengingatkan kepada berbagai hukuman dan sanksi-Nya. Mengingatkan kepada apa yang dijanjikan, disiapkan dan diancamkan Allah kepada orang yang bermaksiat atau ta’at kepada-Nya.

“Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (Ali Imran: 79)

Hal terpenting yang harus menjadi perhatian tarbiyah para murabbi ialah memperbaiki hati dan perilaku:
“Sebagaimana Kami telah Mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (al-Baqarah: 151)

Pikiran yang terpencar pada berbagai hal yang berserakan adalah seperti sungai kecil yang airnya berpencar kemudian sebagiannya diserap tanah dan sebagian lagi dihisap udara sehingga tidak ada yang terkumpul dan sampai ke ladang tanaman.

Ilmu pengetahuan adalah barang milik kaum Muslimin yang hilang, ia harus memungutnya dimana saja ditemukan, dan merasa berutang budi kepada orang yang membawanya kepada dirinya siapa pun orangnya.

Ilmu enggan terhadap pemuda yang congkak. Seperti banjir enggan terhadap tempat yang tinggi.

Ilmu tidak bisa didapat kecuali dengan tawadhu’ dan menggunakan pendengaran (berkonsentrasi).

Seorang penuntut ilmu tidak boleh meninggalkan suatu cabang ilmu yang terpuji, atau salah satu jenis ilmu, kecuali ia harus mempertimbangkan matang-matang dan memperhatikan tujuan dan maksudnya. Kemudian jika usianya mendukung maka ia berusaha mendalaminya, tetapi jika tidak, maka ia harus menekuni yang paling penting di antaranya dan mencukupkan diri dengannya. Karena ilmu pengetahuan saling mendukung dan saling terkait antara yang satu dengan yang lainnya. Ia juga harus berusaha dengan segera untuk tidak memusuhi ilmu tersebut dikarenakan kebodohannya, sebab manusia memusuhi apa yang tidak diketahuinya. Allah berfirman, ”Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: ’Ini adalah dusta yang lama.’ (al-Ahqaf:11)

Janganlah kamu mengenali kebenaran melalui orang tetapi kenalilah kebenaran pasti kamu akan mengetahui orangnya.

Ilmu yang paling mulia adalah ilmu tentang Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan ilmu tentang jalan yang mengantarkan kepada ilmu-ilmu ini.

Dan barang siapa dengan ilmunya, ilmu apa saja, bermaksud mencari ridha Allah, maka pasti ilmu itu akan bermanfaat baginya dan mengangkat derajatnya.

Jika berprofesi sebagai seorang guru, seharusnya kita tidak merasa berjasa atas para murid, sekalipun jasa itu merka rasakan, tetapi memandang mereka juga memiliki jasa karena mereka telah mengkondisikan hati mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan menanamkan ilmu ke dalamnya.

Kemudian mengingatkan murid bahwa tujuan mencari ilmu adalah taqarrub kepada Allah ta’ala bukan untuk meraih kekuasaan, kedudukan, dan persaingan.

Apa yang diperbaiki oleh guru yang fasiq, tidak lebih banyak dari apa yang dirusaknya.

Guru yang menekuni sebagian ilmu hendaknya tidak mencela ilmu-ilmu yang tidak ditekuninya.

Seorang guru yang hanya menekuni satu ilmu harus memperluas wawasan murid pada orang lain.

Hati orang-orang yang sangat baik (al-abrar) adalah kuburan berbagai rahasia. Takarlah setiap orang dengan takaran akalnya, dan timbanglah dia dengan timbangan pemahamannya, agar engkau selamat darinya dan dia bisa mengambil manfaat darimu.

Memberi ilmu kepada orang bodoh adalah kesia-siaan. Tidak memberikannya kepada orang yang berhak adalah kezhaliman.

Hendaknya guru melaksanakan ilmunya. Yakni perbuatannya tidak mendustakan perkataannya,karena ilmu diketahui dengan mata hati (bashirah) dan amal diketahui dengan mata, sedangkan orang yang memiliki mata jauh lebih banyak. Jika amal perbuatan bertentangan dengan ilmu maka tidak akan memiliki daya bimbing.

Perumpamaan guru pembina terhadap para murid laksana bayangan dengan tongkat; bagaimana bayangan bisa lurus jika tongkatnya bengkok?

Siapa yang memprakarsai suatu tradisi yang buruk maka ia mendapat dosanya dan dosa orang yang melakukannya.

Sholat adalah salah satu sarana tazkiyah dan merupakan wujud tertinggi dari ’ubudiyah dan rasa syukur.

Sholat yang dilakukan secara sempurna merupakan tanda bahwa jiwa dan hati tersucikan.

Tazkiyatun nafs bermakna pembebasan jiwa dari berbagai najis yang mengotorinya, berbagai hawa nafsu yang keliru, berbagai perangai kebinatangannya yang nista, penentangannya terhadap rububiyah, dan berbagai macam kegelapan.

Taklif Ilahi yang terpenting adalah apa yang bisa membersihkan jiwa.

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (al-Fajr: 27-28)

”Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. (al-’ankabut: 69)

”Dan rendahkanlah sayap-sayapmu kepada orang-orang yang beriman.” (al-Hijr: 88)

Ibadah utama dalam Islam akan menerangi dan mensucikan jiwa tergantung kepada sejauh mana nilai-nilai bathiniah tersebut diperhatikan, Ia akan dapat menerangi dan mensucikan jiwa tergantung kepada sejauh mana nilai-nilai bathiniahnya tersebut diperhatikan. Ia akan dapat memberikan pengaruh yang sempurna apabila ditunaikan secara sempurna, yakni amal-amal lahiriyah disertai dengan amal-amal batiniyah. Seperti sholat disertai khusyu’, zakat disertai niat yang baik, tilawah al-Qur’an disertai dengan tadabbur yang baik, dan dzikir disertai kehadiran hati (hudhur).

Sesungguhnya khusyu’ merupakan manifestasi tertinggi dari sehatnya hati. Jika ilmu khusyu’ telah sirna maka berarti hati telah rusak.

Cinta dunia menimbulkan persaingan untuk mendapatkannya, sedangkan persaingan terhadap dunia tidak layak menjadi landasan tegaknya urusan dunia dan agama.
Hilangnya khusyu’ merupakan tanda hilangnya kehidupan dan dinamika hati sehingga membuatnya tidak bisa menerima nasehat dan didominasi oleh hawa nafsu.

Bila kita telah menemukan orang yang khusyu’ yang bisa mengantarkan kita kepadanya maka berpegang teguhlah kepadanya karena sesungguhnya ia orang yang benar-benar berilmu. Sebab itulah tanda ulama’ akhirat.

Sesungguhnya imu khusyu’ berkaitan dengan ilmu pensucian hati dari berbagai penyakit dan upaya merealisasikan kesehatannya. Masalah ini merupakan tema yang sangat luas sehingga para ulama’ akhirat memulainya dengan mengajarkan dzikir dan hikmah kepada orang yang berjalan menuju Allah sehingga hatinya hidup. Bila hatinya telah hidup berarti mereka telah membersihkannya dari berbagai sifat yang tercela dan menunjukkannya kepada sifat-sifat yang terpuji.

”Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (al-A’raf:205)

”Sesungguhnya sholat itu ketetapan hati dan ketundukan diri.” (al-Hadits)

Apa arti permohonan dalam firman-Nya, ”Tunjukilah kami ke jalan yang lurus” (al-Fatihah: 6) jika hati tetap lalai? Jika tidak dimaksudkan sebagai tadharru’ (kerendahan hati) dan do’a, maka betapa mudahnya diucapkan lisan dengan hati yang lalai, terutama bila telah menjadi kebiasaan? Itulah hukum dzikir.

”Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapai-Nya.” (al-Hajj: 37)

Kehadiran hati adalah ruh sholat. Batas minimal keberadaan ruh ini ialah kehadiran hati pada saat takbiratul ihram. Bila kurang dari batas minimal ini berarti kebinasaan. Semakin bertambah kehadiran hati semakin bertambah pula ruh tersebut dalam bagian-bagian sholat. Berapa banyak orang hidup yang tidak punya daya gerak sehingga mirip dengan mayit. Demikian pula sholat orang yang lalai dalam seluruh pelaksanaan sholatnya kecuali pada waktu takbiratul ihram, seperti orang hidup yang tidak punya daya gerak sama sekali. Kita memohon pertolongan yang sebaik-baiknya dari Allah.

Bila hati tidak bisa hadir pada waktu munajat kepada Maha Diraja yang di tangan-Nya segala kerajaan, kekuasaan, manfaat dan bahaya, maka janganlah kita mengira bahwa hal tersebut memiliki sebab lain selain kelemahan iman. Karena itu, mari kita berjuang untuk memperkuat keimanan.

Manusia dalam masalah hati dibagi menjadi:
1. Orang lalai yang mendirikan sholat tetapi hatinya tidak hadir sama sekali.
2. Orang yang mendirikan sholat sedang hatinya tidak pernah lalai sama sekali.
Tipe ke-2, sangat berkonsentrasi dalam sholat, sehingga tidak merasakan apa yang tengah terjadi di hadapannya. Bahkan sebagian orang wajahnya sampai pucat dan dadanya berguncang (karena takut).

“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya.” (al-An’am: 132)

Apa yang diperoleh setiap orang dari sholatnya sesuai dengan kadar rasa takut, khusyu’, dan ta’zhim-nya, karena tempat penilaian Allah adalah hati.

Siapa yang kuat himmahnya (perhatian utama/cita2), maka apa yang terjadi pada panca inderanya tidak akan membuatnya lalai, tetapi orang yang lemah, pasti pikirannya akan berpencar.


Bila kita mengucapkan, ”...Hanifan Musliman” (berlaku lurus dan memberi keselamatan), maka hendaklah terbayang dalam benakmu bahwa orang muslim adalah orang yang kaum muslimin terselamat dari gangguan lidah dan tangannya.

Allah SWT Berfirman: ”Dan jiwa (manusia) itu menurut tabiatnya kikir” (an-Nisa’:128). Infaq fi sabilillah merupakan hal yang akan membersihkan jiwa dari kekikiran sehingga dengan demikian jiwa menjadi bersih.

Allah Berfirman: ”Dan kelak akan dijauhkan orang yang taqwa dari neraka itu, (yaitu mereka) yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan hartanya.” (al-Lail: 17-18).

Allah Berfirman: ”Jika Dia Meminta harta kepadamua lalu Mendesak kamu (supaya memberikan semuanya) niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu.” (Muhammad:37). Makna ”mendesak kamu” yakni menuntut agar memberikannya secara optimal, dan ini merupakan salah satu makna perintah Allah kepada para hamba-Nya agar memberikan harta.

Hendaknya termasuk orang yang menyembunyikan keperluannya; tidak banyak mengeluh; termasuk orang yang menjaga harga diri (muru’ah). Firman Allah: ”Orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan meilhat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak.” (al-Baqarah:273)

Urgensi puasa dalam tazkiyatun-nafs menduduki derajat ke-3 (setelah sholat dan zakat), karena di antara syahwat besar yang bisa membuat manusia menyimpang adalah syahwat perut dan kemaluan. Sedangkan puasa merupakan pembiasaan terhadap jiwa untuk mengendalikan kedua syahwat tersebut. Oleh sebab itu, puasa merupakan pembiasaan jiwa untuk bersabar.