Thursday, December 11, 2014
Behind The Screen ~ Speech Contest...
Pada rapat DWP Dinas ESDM dalam rangka persiapan Lomba dan penentuan delegasi berbagai Lomba dari DWP ESDM beberapa waktu lalu, Ibu Ketua DWP ESDM secara langsung di forum tersebut, meminta saya untuk membuatkan sebuah naskah pidato. Sesuai dengan tema yang disiapkan oleh panitia lomba, yakni: 'Peran Ibu dalam Pembangunan Menuju Keluarga Sejahtera', maka saya memberi judul naskah pidato tersebut: “Peran Ibu Profesional dalam Pembangunan Sumber Daya Manusia, Menuju Keluarga Bahagia dan Sejahtera.”
Lomba dilaksanakan pada tanggal yang telah ditentukan. Untuk menjaga agar Lomba tetap fair, maka pengumuman pemenang dibacakan segera setelah peserta dengan nomor undian 53 tampil (ada 53 peserta yang mengikuti Lomba Pidato tahun ini). Alhamdulillah meski belum berhasil meraih 3 besar, ibu ketua DWP ESDM diumumkan sebagai Juara Harapan III (baca: Peringkat 6 dari 53 peserta). Lumayan lah, hehehe, meski behind the screen, saya ikut happy dengan hasil ini, berarti saya gak kalah jauh dibanding para penulis naskah pidato yang udah lebih senior dan berada di balik para Ketua yang meraih 5 besar. Berikut ini saya posting pidato sederhana yang saya susun untuk ibu Ketua DWP Dinas ESDM Kabupaten Batang Hari:
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
PIDATO KETUA DHARMA WANITA PERSATUAN DINAS ESDM
PADA LOMBA PIDATO TINGKAT KABUPATEN BATANG HARI
PERINGATAN HARI ULANG TAHUN DHARMA WANITA PERSATUAN
KE-15 TAHUN 2014
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh,
Yang terhormat, Ibu Ketua Gabungan Organisasi Wanita Kabupaten Batang Hari
Yang terhormat, Dewan Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Batang Hari,
Yang terhormat, Ibu Ketua Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Batang Hari,
Yang terhormat, Ibu-ibu Ketua Organisasi Wanita se-Kabupaten Batang Hari,
Para pengurus Dharma Wanita Persatuan, dan Anggota Dharma Wanita Persatuan pada semua tingkat kepengurusan...
Pada kesempatan yang berbahagia dan penuh berkah ini, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kita masih diberi kesempatan, kekuatan, kesehatan untuk melanjutkan ibadah dan sekelumit aktivitas bermanfaat di negeri Serentak Bak Regam, Kabupaten Batang Hari tercinta ini. Tak lupa pula sholawat serta salam teruntuk Nabi Muhammad S’AW yang telah memuliakan para ibu, sehingga dapat mengoptimalkan perannya dalam keluarga.
Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-sebesarnya atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya, untuk menyampaikan sepatah dua kata, sebuah pidato singkat yang berjudul, “Peran Ibu Profesional dalam Pembangunan Sumber Daya Manusia, Menuju Keluarga Bahagia dan Sejahtera*.”
Hadirin yang berbahagia...
Dalam era kemerdekaan yang dimulai dengan perjuangan kebangkitan bangsa, hingga semakin terasanya era globalisasi dewasa ini, membuka peluang lebar bagi setiap warga negara untuk memperoleh kesempatan yang sama dalam berperan untuk kepentingan bangsa. Termasuk kaum perempuan sebagai Ibu, atau pun calon ibu, serta tak menutup kemungkinan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga sekaligus wanita dengan karier cemerlang serta kemandirian finansial.
Ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh kaum perempuan. Banyak karya, sumbangsih, dan berbagai perbuatan baik yang dapat diberikan kepada bangsa, banyak kesempatan yang dapat ditunjukkan oleh kaum perempuan dalam pembangunan, salah satunya dengan menjadi ibu profesional.
Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa salah satu definisi kata “profesional” adalah memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya. Sehingga bukan hal yang mustahil apabila muncul seorang ibu yang bangga akan profesinya sebagai ibu serta menjalankan aktivitas mendidik anak dan mengelola keluarganya karena ia melakukannya berlandaskan sebuah ilmu. Ada satu kalimat dahsyat, “Jangan biarkan sesuatu berjalan tanpa ilmu, apabila itu terjadi, tunggulah titik kehancurannya.”
Ibu profesional digambarkan sebagai sosok ibu pembelajar yang penuh percaya diri dan berwawasan ke depan, membanggakan bagi keluarganya, serta memprioritaskan partisipasinya dalam pembangunan sumber daya manusia, dalam hal ini anak-anaknya, dengan menitik beratkan pada HOW TO EDUCATE CHILDREN, atau ilmu dasar mendidik anak.
Seorang ibu profesional akan berusaha untuk memahami perkembangan anak-anaknya secara fisik dan psikologis, memahami ilmu tentang keterampilan dasar anak, baik secara emosi maupun spiritual, melatih kemandirian dan life skill anak sejak dini, serta memahami bahwa semua anak adalah cerdas. Dengan demikian setiap anak dalam keluarga dengan peran ibu profesional, akan menjadi bintang, terwujud tunas-tunas bangsa berkualitas, sumber daya manusia yang tak hanya cerdas dan mandiri, namun menjadi anak bangsa yang sukses. Ibu profesional yang berhasil, akan mengantarkan anak-anaknya menjadi para pelaku pembangunan di masa depan. Sehingga terwujud keluarga bahagia karena peningkatan kesejahteraan yang pesat, di masa kini, dan nanti.
Ibu-Ibu, dan hadirin yang saya muliakan....
Sebagaimana kita tahu, untuk menjadi seorang sarjana, kita butuh waktu 6 tahun untuk menamatkan SD, 3 tahun SMP, 3 tahun SMA, dan minimal 4 tahun kuliah, untuk mendapatkan gelar sarjananya. Serta Untuk menjadi apoteker, akuntan, psikolog, dokter, dan gelar profesi lainnya, kita butuh 2 tahun lagi mengikuti sekolah profesi, pegabdian, dan sebagainya. Tetapi untuk menjadi seorang ibu profesional? dikumpulkan seluruh pendidikan tersebut, ditambah lagi bertahun-tahun, bertahun-tahun, bertahun-tahun kemudian, tetap tidak akan cukup untuk bisa memastikan seseorang berhak menyandang predikat sebagai ibu profesional. Karena panjang dan pentingnya proses pendidikan seorang ibu. Apalagi jika ibu tersebut ingin menjadi profesional dalam perannya sebagai ibu yang membawa keluarganya menuju kebahagiaan dan kesejahteraan.
Nah, hadirin yang berbahagia, jika semua orang ingin sekolah tinggi-tinggi demi gelar, profesi, pekerjaan, dan sebagainya, maka sungguh mengherankan, mengapa kebanyakan orang begitu menyepelekan pendidikan super tinggi untuk menjadi seorang ibu profesional? Dengan kata lain, profesional sebagai ibu bagi anak-anaknya, bagi keluarganya, dan bagi masyarakatnya. Padahal memiliki anak yang berakhlak baik, keluarga yang bahagia, jauh lebih penting dibandingkan kesuksesan karier dan lain sebagainya.
Pada kesempatan yang sangat berharga ini, mari kita tilik penggalan puisi goresan Kahlil Gibran tentang anak...
“Anakmu bukan milikmu, ia adalah milik zamannya,
Kau boleh berikan rumah untuk raganya,
Tapi tidak untuk jiwanya,
Karena jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
walaupun dalam impian,”
Penggalan puisi di atas mengingatkan kepada kita bahwa tugas orang tua, terutama Ibu, adalah menghantarkan anak-anak untuk siap menghadapi masa depannya. Meskipun anak-anak adalah pribadi yang suka bermain di masa kecil mereka, tetapi dalam hal mendidik mereka, tidak bisa “main-main”. Butuh keseriusan orang tua untuk mempersiapkan anak tersebut mencapai gerbang mimpinya. Butuh profesionalitas ibu dalam mendidik mereka.
Karena itu saya menghimbau para Ibu, untuk bersemangat menjadi ibu profesional. Jika memiliki anak perempuan, berikan pendidikan kepada anak-anak perempuan kita setinggi mungkin, agar kelak saat mereka menjadi ibu, sungguh berguna semua ilmunya. Satu ibu yang baik, akan melahirkan suatu keluarga yang sejahtera. Satu generasi ibu yang baik, maka akan memberikan kesuksesan dalam pembangunan karena para penerusnya berkualitas.
Para Ibu Profesional, Calon Ibu Profesional, dan Hadirin yang berbahagia..
Di akhir pidato singkat saya ini, saya berharap kita semua dapat sama-sama bersemangat dan mengerahkan upaya terbaik kita untuk mengembalikan fungsi ibu sebagai pendidik utama dan pertama untuk anak dan keluarganya, bisa berperan sebagai manager keluarga, menjadi pribadi yang mandiri secara finansial, tanpa harus melalaikan kewajiban dalam mendidik anak. Senantiasa meningkatkan budi pekerti mulia dalam keluarganya, serta menjadi teladan bagi keluarga dan masyarakat sekitarnya. Jika hal itu terwujud, saya yakin, dalam setiap keluarga, akan maksimal dan optimal Peran Ibu Profesional dalam Pembangunan Sumber Daya Manusia Menuju Keluarga Sejahtera di Kabupaten Batang Hari tercinta ini.
Mengakhiri pidato ini, saya mengucapkan Selamat Hari Ibu dan Selamat Hari Ulang Tahun ke-15 Dharma Wanita Persatuan; semoga organisasi Dharma Wanita Persatuan semakin kokoh dalam mengemban visi dan misinya. Mohon maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan...
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Muara Bulian, November 2014
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
*Dikutip, dikembangkan, dan disusun dari beberapa bahan bacaan (kata-kata adalah buah dari membaca) dan dari berbagai sumber oleh Bunga Mardhotillah, S.Si, M.Stat ^_^
Intermezzo: Ternyata statistisi juga bisa bikin naskah pidato lho. (emang sih, di Bappeda pas jaman Kabid lama, sempat 2 kali diminta untuk membuat naskah pidato (expose & Pidato Sambutan suatu Acara). Pas pergantian Kabid baru, gak pernah diminta bikin naskah pidato lagi, sebenarnya jadi kurang terasah kemampuan saya karenanya. Dan....Alhamdulillah Nov-Des 2014 ini teruji kembali skill tersebut, asssiiikk :D ). Selanjutnya saya akan mencoba menyiapkan naskah pidato Ketua Panitia Musda Salimah Batang Hari yang insyaAllah akan diselenggarakan beberapa hari lagi, meski bukan saya ketua panitianya. Hm, behind the screen lagi dehhh... :)
Saturday, December 21, 2013
Bicara tentang Ibu dengan Untaian yang Sedikit Berbeda dan Tak Biasa
Aku memanggil ibuku dengan sebutan mama...
Hari ini aku tuliskan untaian kata untuk mama...
Tak seperti biasa, kali ini aku tuliskan tanpa kacamata...
Dan kuingin bicara tentang mama dengan narasi yang sedikit berbeda...
Mama adalah sosok wanita cerdas yang kecerdasannya terasa di kalangannya...
Karena itulah ia sejatinya adalah guru dari para guru...
Mendalami profesinya sebagai tenaga pengajar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan...
di sebuah Universitas Negeri di Negeri Sepucuk Jambi Sembilan Lurah....
Hingga usianya di lembaran tahun ini...
Ia masih bersemangat menuntut ilmu dan memperluas wawasan...
Mengikuti Program Doktoral di sebuah Universitas Negeri di Ibukota...
Mama adalah cerminan pribadi unik...
ia tak mau disamakan pun dibanding-bandingkan dengan orang lain...
Bagaikan gadget canggih dan ultrabook super dengan harddisk kapasitas megaterra....
mama memiliki ide, memori, pengalaman, dan prestasi segudang dalam dirinya...
Lakunya adalah teladan yang amat baik dan memotivasi...
Waktunya ia alokasikan untuk mendengar aneka curhatan anak-anaknya...
Sensitivitasnya malah menambah daya tahannya terhadap berbagai cobaan kehidupan...
Mama tak pelit untuk mencurahkan waktu, tenaga, dan bahkan biaya...
untuk mendukung pekerjaan dan kehidupan sosialnya...
Tak pernah mama mengeluh membantu orang lain...
Tak pernah mama pamrih pada orang-orang yang telah dibantunya...
Mama dengan leluasa dan bebasnya menginspirasi dan mengekpersikan dirinya...
Sebagai Insan Berpengaruh di bidang pendidikan....
Dan juga sebagai pribadi penyuka warna ungu...
Mama selalu memberi pengertian kepada anak-anaknya...
Bahwa mama mereka mengurus segalanya sendiri...
Maka mereka juga harus memahami...
dan ikut membantu mamanya bila suatu ketika diperlukan...hehehe ^_^
Mama selalu menyadari bahwa Tangan Tuhanlah yang memberinya jalan mewujudkan mimpi...
Meniti karir dari titik terendah...
Berjuang signifikan untuk pendidikan anak-anaknya...
Mengantarkan anaknya ke jenjang pernikahan...
dan masih peduli hingga sejauh ini akan keberhasilan anak-anak dan bahkan menantunya...
Mama...sebetulnya banyak yang ingin Bunga tuliskan dalam bait-bait puisi yang tak biasanya ini...
untuk mama baca di moment peringatan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember tahun ini...
Semoga mama senang dan penuh binar membaca tulisan ini...
Wednesday, December 2, 2009
Pengorbanan Seorang Ibu.....
Terkisah di suatu desa ada seorang ibu yg sudah tua hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Anak satu-satunya suka mencuri, berjudi, mengadu ayam, dan banyak lagi yg membuat si ibu sering bersedih dan menangis.
Begitupun ibu tua itu selalu berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tidak berbuat dosa lebih banyak lagi. Aku sudah tua dan aku ingin menyaksikan dia bertobat, sebelum aku mati."
Perbuatan jahatnya sangat keterlaluan dan sudah sangat sering ia keluar masuk bui karena kejahatan yang dilakukannya. Suatu hari ia kembali mencuri di sebuah rumah penduduk desa. Malang nasibnya akhirnya ia tertangkap oleh penduduk yg kebetulan lewat. Kemudian ia dibawa ke hadapan raja utk diadili sesuai dengan kebiasaan di kerajaan tersebut.
Setelah ditimbang berdasarkan sudah seringnya ia mencuri, maka tanpa ampun lagi si anak tersebut dijatuhi hukuman pancung dan akan dilakukan esok harinya tepat pada saat lonceng jam kota berdentang menandakan pukul enam pagi. Berita hukuman itu sampai juga ke telinga si ibu. Dia menangis, meratapi anak yang dikasihinya.
Sembari berlutut ia berdoa kepada Tuhan. "Tuhan, ampunilah anak hamba. Biarlah hamba-Mu yang sudah tua renta ini yang menanggung dosa dan kesalahannya." Lalu dengan tertatih-tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan, tapi keputusan sudah bulat, si anak tetap harus menjalani hukuman. Dengan hati hancur si Ibu kembali ke rumah.
Tidak berhenti dia menangis dan berdoa, akhirnya tertidur dan bermimpi bertemu dengan Tuhan.
Keesokan harinya, di tempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong-bondong untuk menyaksikan hukuman pancung tersebut. Sang algojo sudah siap dengan pancungnya, dan si anak tadi sudah pasrah menantikan saat ajal menjemputnya. Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, tanpa terasa dia menangis dan menyesali perbuatannya.
Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Sampai waktu yang ditentukan, lonceng jam di menara kota belum juga berdentang. Suasana mulai berisik. Sudah lima menit lewat dari waktunya. Akhirnya datang petugas yang membunyikan lonceng. Dia juga mengaku heran, karena sudah sedari tadi dia menarik lonceng tapi, suara dentangnya tidak ada.
Ketika mereka sedang terheran-heran, tiba-tiba dari tali yang dipegangnya mengalir darah. Ternyata darah segar tersebut datang dari atas, berasal dari tempat dimana lonceng diikat.
Dengan jantung berdebar-debar, seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah itu.
Tahukah apa yang terjadi? Ternyata di dalam lonceng besar itu ditemukan tubuh si ibu tua dengan kepala berlumuran darah. Dia memeluk bandul di dalam lonceng yg mengakibatkan lonceng tidak berbunyi, sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur ke dinding lonceng.
Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara si anak meraung-raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan. Dia menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya.
Rupanya, malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng tersebut serta memeluk besi di dalam lonceng agar lonceng itu tidak berbunyi, untuk menghindari hukuman pancung anaknya.
Demikianlah, sangat jelas kasih sayang seorang ibu untuk anaknya, betapa pun jahatnya si anak. Marilah kita mengasihi orang tua kita masing-masing, selagi kita masih mampu karena mereka adalah sumber kasih Tuhan bagi kita di dunia ini...
Dikutip dari buku: Kisah-kisah Mengharukan tentang Ibu
Saturday, June 13, 2009
MAAFKAN IBU, ANAKKU ( PUISI SEORANG IBU )
sungguh anakku, ibu mencintaimu
Maafkan ibu, anakku ketika tadi siang
engkau kubentak karena adik baru tidur dalam pelukanku
sedangkan badanku penat bukan main lantas engkau menjauh
sambil tetap memandangku
Maafkan ibu, anakku ketika jari ibu
meninggalkan bekas merah di pahamu
hanya karena engkau makan sembari bermain-main
lalu nasimu tumpah ke lantai tapi engkau tak menangis,
hanya mata beningmu menatapku dengan takut-takut
Maafkan ibu, anakku yang menolak bercerita saat engkau ingin mendengar kisah
yang bisa membuatmu tertawa gembiraatau menitikkan air mata,
hanya karena ibu sedang lelah....
atau ibu sedang sibuk dengan pekerjaan lainnya
Maafkan ibu, anakku yang tidak lebih awal menjumpaimu untuk sekedar
duduk dan bermain bersama hanya karena ibu ingin
melakukan sesuatu untuk diri ibu...
anakku,
betapa ibu merasa bersalah
begitu ibu tahu engkau sangat dan sangat rindu duduk dipangkuanku
Maafkan ibu, anakku yang marah kepadamu
hanya karena kesalahan yang sebenarnya bukan kesalahanmu...
ibu marah hanya karena ibu letih mengerjakan pekerjaan seorang ibu
Maafkan ibu, anakku
terkadang ibu ingin bisa membagi tubuhku agar segala keinginanmu terpenuhi...
sedang sebagian tubuhku yang lain mengerjakan tugas dan pekerjaan yang lain lagi..
Maafkan ibu, anakku
yang tidak mampu memberikan seluruh waktuku untukmu...
andai engkau tahu sayangku...
betapa ibu sangat mencintaimu,
betapa ibu terkadang bisa begitu ketakutan akan kehilanganmu,
betapa ibu bisa tertawa hanya karena tingkahmu,
betapa ibu bisa menangis tatkala melihatmu kecewa,
betapa ibu khawatir ketika engkau sakit..
Anakku,
sungguh ibu tak mengharap apa-apa
tatkala ibu berjuang menghadirkanmu ke dunia,
mendengar engkau sehat... itu saja telah mampu
menghilangkan seluruh derita
Sering ibu bertanya,
marahkah engkau pada ibu yang telah
marah kepadamu..
gelengan kepalamu membuat ibu lega,
walau tetap tak akan mampu menghapus rasa sesal dihatiku
Sungguh anakku,
cinta ibu padamu hanya Tuhan yang tahu...
tak pernah seseorang bisa mengukur dalamnya
cinta seorang ibu pada anaknya,
sampai ia kelak menjadi seorang ibu.
Maafkan ibu, anakku...
yang tak mampu menjadi ibu sebagaimana
seharusnya seorang ibu yang sempurna
Anakku...
ridha ibu adalah milikmu
agar kelak engkau mudah memasuki surga-Nya
(hanya itu mungkin, yang mampu ibu berikan untukmu, duhai permata hatiku......)
taen from: 9695 artikel Islami
Wednesday, May 27, 2009
Anugerah Terindah Milik Kita
Jemari itu memang tak lagi lentik, namun selalu fasih menyulam kata pinta, membaluri sekujur tubuh dengan do'a-do'a. Kaki tampak payah, tak mampu menopang tubuhnya. Telapak tempat surga itu pun penuh bekas darah bernanah, simbol perjuangan menapak sulitnya kehidupan.
Ibunda...
Adakah saat ini kita terenyuh mengenangkannya? Ia adalah sebuah anugerah terindah yang dimiliki setiap manusia. Sejak dalam rahim, betapa cinta itu tak putus-putusnya mengalirkan kasih yang tak bertepi. Hingga kerelaan, keikhlasan dan kesabaran selama 9 bulan pun bagai menuai pahala seorang prajurit yang sedang berpuasa, namun tetap berperang di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Polesannya adalah warna dasar pada diri kita. Menggores sebuah kanvas putih nan suci, hingga tercipta lukisan Yahudi, Musyrik atau Nasrani. Namun, goresan yang diselimuti untaian ayat suci Al Qur'an, zikir, tasbih serta tahmid, tentu akan melahirkan syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam) pada jiwa. Ibunda pun berharap tercipta jundullah (tentara Allah) dari sebuah madrasah keluarga.
Selaksa cinta ibunda yang dibaluri tsaqofah Islamiyah (wawasan keislaman) telah menyemai banyak pahlawan Islam. Teladan Asma' binti Abu Bakar Ash-Shidiq melahirkan pahlawan Abdullah bin Zubair, yang dengan cintanya masih berdoa agar dirinya tidak mati sebelum mengurus jenazah anaknya yang disalib Hajaj bin Yusuf, antek Bani Umaiyah. Polesan warna seorang ibunda, Al Khansa, melahirkan putra-putra kebanggaan Islam yang berani dan luhur akhlaqnya, hingga satu persatu syahid pada perang Qodisyiah. Di sela kesedihannya, ibunda masih berucap, "Alhamdulillah... Allah telah mengutamakan dan memberikan karunia padaku dengan kematian anak-anakku sebagai syuhada. Aku berharap semoga Allah mengumpulkan aku dengan mereka dalam rahmat-Nya kelak."
Banyak... sungguh teramat banyak cinta ibunda yang melahirkan kisah-kisah teladan. Yatim seorang anak pun tidaklah menghalangi ibunda untuk merangkai sejarah dengan tinta emas, terbukti dengan mekar harumnya para mujtahid Imam Abu Hanifah, Imam Syafi'i, Imam Ahmad bin Hambal serta Imam Bukhari. Didikan ibunda mereka telah mampu mendidiknya hingga menjadi anak-anak yang gemar menuntut ilmu tanpa kenal lelah, bahkan mandiri dalam kemiskinan.
Kita mungkin dilahirkan dari rahim seorang perempuan biasa. Bahkan kita pun tidak dilahirkan untuk menjadi seorang pahlawan. Namun, ibunda kita dan mereka adalah sama, sebuah anugerah terindah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Saat dewasa, tapak kaki telah kuat menjejak tanah dan tangan pun terkepal ke angkasa, masihkah selalu ingat ibunda? Cita-cita telah tergenggam di tangan, popularitas, kemewahan hingga dunia pun telah takluk menyerah kalah, tunduk karena ketekunan, jerih payah serta kerja keras tiada hentinya. Haruskah sombong dan angkuh hingga kata-kata menyakitkan begitu gampang terlontar?
Duhai jiwa, sekiranya engkau sadar bahwa tanpa do'a ibunda, niscaya semua masih angan-angan belaka.
Astaghfirullah... ampuni diri ini ya Allah.
Duhai ibunda...
Maafkan jika mata ini pernah sinis memandang, dan lidah yang pernah terucap kata makian hingga membuat luka hatimu. Maafkanlah pula kalau kesibukan menghalangi untaian do'a terhatur untukmu. Ampuni diri ananda yang tak pernah bisa membahagiakanmu, ibunda.
Sungguh, jiwa dan jasad ini ingin terbang ke angkasa lalu luruh di pangkuan, mendekap tubuh sepuh, serta menangis di pangkuanmu. Hingga terhapuskan kerinduan dalam riak anak-anak sungai di ujung mata. Rengkuhlah ananda dengan belai kasih sayangmu bagai masa kecil dulu. Mengenangkan indahnya setiap detik dalam rahimmu dan hangatnya dekapanmu. Buailah dengan do'a-do'a hingga ananda pun lelap tertidur di sampingmu.
Duhai ibunda...
Keindahan dunia tak akan tergantikan dengan keindahan dirimu.
Sorak-sorai pesona dunia pun tak dapat menggantikan gemuruh haru detak jantung saat engkau memelukku.
Indah... semua begitu indah dalam alunan cintamu, menelisik lembut, membasahi lorong hati dan jiwa yang rindu kasih sayangmu.
Duhai ibunda...
Bukakanlah pintu ridhomu, hingga Allah pun meridhoiku.
Wallahua'lam bi showab.
*IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA*
Al-Hubb Fillah wa Lillah,
sumber: 9695 Artikel Islami
Wednesday, December 24, 2008
Ambilkan Bulan

Ambilkan bulan bu...
Ambilkan bulan bu...
yang slalu bersinar di langit
di langit bulan benderang
cahyanya sampai ke bintang
ambilkan bulan bu...
untuk menerangi tidurku yang lelap di malam gelap
(mama nangis pas bunga nyanyiin lagu ini di milad bunga yg ke-10,,,moment hari ibu jadi pengen nyanyiin lagu ini lagi...)
Tuesday, December 2, 2008
Catatan Hati untuk Mama...

Aku sayang mama….
Mama adalah wanita terhebat di dunia….
Wanita yang paling tegar yang pernah kukenal…
Wanita paling sabar...
Wanita yang paling lembut hatinya...
Mama adalah pahlawan bagi anaknya...
Bagi keluarganya...
Jarang sekali kudengar mama menyalahkan orang lain...
Tak pernah kudengar mama mengeluh akan taqdir...
Mama adalah wanita terpintar yang pernah kutahu...
Yang dengan kepintarannya ia rendah hati...
Dengan kepintarannya ia mendidik kami...
Dengan kepintarannya ia mengabdi pada suaminya...
Dengan kepintarannya ia menanamkan kebaikan dalam keluarga...
Mama tak pernah marah...
Kecuali dengan cara yang bisa membuat kami kembali sadar...
Dari kesalahan-kesalahan yang selalu kami buat...
Dari usia kecil kami hingga beranjak dewasa...
Aku sayang mama...
Aku ingin membahagiakan mama...
Namun aku tak tahu apakah aku mampu...
memenuhi hati mama dengan kegembiraan...
Sementara aku sering membicarakan masalah-masalahku pada mama....
Saat ini aku hanya mampu menangis...
Saat ini aku belum mampu menghadirkan kebahagiaan seutuhnya untuk mama...
Saat ini aku hanya bisa berdo’a untuk kebahagiaan mama...
Saat ini aku hanya bisa mendukung setiap keputusan mama...
Saat ini aku hanya bisa memberi semangat dalam setiap langkah mama...
Aku tetap bangga pada mama...
Aku makin kagum pada mama...
Aku bertambah cinta pada mama...
Dari hari ke hari....
Meski kadang hariku pun terasa berat untuk kujalani...
Aku berjanji...semua itu takkan mengubah baktiku...
Untukmu mama...
Bunga....1 Desember’08
Tuesday, November 18, 2008
IBU....
Ibu.....
Kaulah gua teduh
Tempatku bertapa bersamamu
Sekian lama
Kaulah kawah
Darimana aku meluncur dengan perkasa
Kaulah bumi
Yang tergelar lembut bagiku
Melepas lelah dan nestapa
Gunung yang menjaga mimpiku
Siang dan malam
Mata air yang tak brenti mengalir
Membasahi dahagaku
Telaga tempatku bermain
Berenang dan menyelam
Kaulah ibu, laut dan langit
Yang menjaga lurus horisonku
Kaulah, ibu, mentari dan rembulan
Yang mengawal perjalananku
Mencari jejak sorga
Di telapak kakimu
(Tuhan,
aku bersaksi
ibuku telah melaksanakan amanatMu
menyampaikan kasih sayangMu
maka kasihilah ibuku
seperti Kau Mengasihi
kekasih-kekasihMu
Amin)
Puisi karya K.H.A. mustofa Bisri
Tuesday, November 4, 2008
Ibuku......
Akan kutumpahkan segala rinduku...dan akan kucium wangianmu.
Aku bersimpuh di kedua kakimu dan kudekatkan pipiku pada kakimu.
Akan kubasahi tanah dengan air mataku karena bahagia berdekatan denganmu.
Berapa malam kau terjaga hanya agar aku tertidur nyenyak.
Dan berapa kali kau kehausan untuk menghilangkan dahagaku dengan kebaikanmu.
Dan pada waktu aku sakit, takkan kulupa air matamu yang jatuh seperti hujan.
Dan mata itu yang tak pernah terpejam karena khawatir akan diriku.
Dan waktu perpisahan kita di pagi yang sangat berat dan menyiksakan.
Tidak dapat kugambarkan perasaan yang kulalui tatkala kepergianku.
Dan kau mengatakan kata-kata yang tak pernah aku lupa.
"Tak akan pernah kau temukan hati yang menyayangimu melebihi hatiku."
Dengan berbakti kepadamu-wahai tumpuan hidupku-Tuhan semesta alam berpesan kepadaku
Keridhoanmu adalah rahasia kejayaanku dan mengasihimu adalah tanda kesempurnaan imanku.
Kasih sayangmu takkan tertandingi oleh siapapun di dunia ini.
Bila seseorang menyakitimu berarti ia telah menyakiti hatiku.
Engkau adalah degup jantungku dan engkau adalah cahaya mataku.
Engkau adalah melodi bibirku...dengan memandang wajahmu hilanglah segala kesusahanku.
Wahai ibu, aku akan segera pulang esok untuk beristirahat dari pengembaraanku.
Memulakan hidupku yang baru seperti bunga yang tumbuh di ranting-ranting pohon.
by. noname (dadapat dari seorang saudara)
Mother
Mother How are you today
Here is the note from your daughter
With me everything is okay
Mother how are you today
Mother don’t worry I’m fine
Promise to see you this summer
This time will be no delay
Mother how are you today
I found the man of my dream
Next time you will get to know him
Many things happen while I was away
Mother how are you today....Thursday, October 30, 2008
Ibunda
Duhai Ibunda...
Dengarkan do'a
putrimu yang kini jauh dari sisimu
tunaikan pesan
genggam harapan
ukir senyum bahagia di wajah ibunda
Kesabaranmu asuh imanku
lembut tuturmu bagai udara jiwaku
air matamu biaskan rindu
sujudmu penuh lautan doa untukku
Atas hari yang lelah
dan malam pun kau terjaga untukku
oh ibu
Kasih Alloh smoga
tercurah untukmu
'tuk pengabdian yang kau persembahkan slalu
didik diriku tuk pahami
nilai keikhlasan...
