Allah telah menetapkan kewajiban puasa pada bulan Ramadhan yang disitimewakan oleh Allah dengan banyak kebaikan sebagai penghormatan atas turunnya Al-Quran pada bulan tersebut. Bahkan Allah telah menjadikan malam turunnya Al-Quran sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Puasa bukan hanya sekadar mencegah diri dari pemuasan syahwat perut dan kemaluan beberapa saat dalam sehari, tetapi puasa adalah kehidupan yang total bersama Allah dengan hati dan semua anggota badan. Menyadari pengawasan Allah dan perjuangan melawan nafsu serta komitmen untuk berpegang teguh dengan adab dan akhlak Islam, dan penjagaan diri secara total dari semua ucapan dan tindakan yang dilarang oleh Islam. Begitulah kita melihat bahwa bulan puasa sebagai karantina bagi seorang muslim yang memasukinya selama sebulan penuh untuk diterapi dan disembuhkan dari berbagai penyakit dan kelemahan sehingga bisa keluar dari karantina itu pada hari Raya Idul Fitri dalam keadaan sehat dan bebas dari segala penyakit sehingga bisa bergembira dengan puasa dan kesembuhannya.
Puasa menundukkan semua anggota badan untuk meraih ridha Allah, sehingga mata, telinga, lisan, tangan, kaki, mulut, dan kemaluan ikut berpuasa dengan menjauhkan diri dari semua yang diharamkan oleh Allah. Puasa akan memberi sifat hilm (mudah memaafkan) terhadap sikap orang-orang yang jahil, mampu menahan amarah dan menolak perbuatan jahil orang lain dengan ucapan, "Aku sedang berpuasa". Alangkah butuhnya seseorang pejuang kepada sikap berlapang dada, kelemah lembutan dan ketiadaan amarah untuk diri sendiri.
Puasa menumbuhkan sifat belas kasih dalam hati orang yang melakukannya. Orang yang berpuasa akan merasakan kasih sayang kepada orang faqir dan membutuhkan, sehingga di tengah kaum muslimin akan muncul sikap saling mengasihi dan memberikan pertolongan.
Puasa juga membiasakan seorang agar selalu teliti dalam semua waktunya, di mana ketika berpuasa ia harus memperhatikan waktu imsak (menahan diri dari makan) dan waktu berbuka agar puasanya tidak batal. Sebagaimana puasa juga memiliki manfaat medis yang signifikan.
Sumber: Buku Fiqh Dakwah
Saturday, June 17, 2017
Friday, June 16, 2017
Ambisi VS Motivasi
Di salah satu update-an status fb teman, ybs menulis kurang lebih seperti ini: "Terkadang kemurahan hati merupakan bentuk ambisi terselubung". Saya jadi teringat beberapa bulan lalu, eh, mungkin hampir setahun yang lalu, saya pernah ngobrol dengan seorang teman tentang efek bersedekah. Saya mengutip kata-kata ust.Yusuf Mansur bahwa sedekah dapat melipat gandakan harta, bahwa sedekah itu ajaib. Saya kembali ceritakan bahwa saya mulai menerapkan prinsip sedekah ini sejak masa-masa kuliah S1, sedekah pada siapa pun, orang susah atau orang berduit, saya gak pilih-pilih kalo insting memberi itu lagi kuat, saya sedekahkan sebagian rejeki saya tanpa banyak pertimbangan. Dan alhamdulillah hingga saat ini, saya belum pernah merasakan kekurangan rezeki secara signifikan. Mengalami masa-masa sulit pasti pernah, tapi paling hanya sehari-dua hari, selanjutnya rezeki kembali mengalir lancar. Meskipun pas-pasan, tapi entah karena efek sedekah atau apa, saya selalu merasa pas butuh pas ada.
Nah, kembali ke status fb teman tadi, dia menyebut 'kemurahan hati', identik dengan sedekah. Entah ada kaitannya dengan ceramah UYM atau tidak, Mungkin maksudnya si teman ini 'sedikit menyindir' orang yang murah hati/dermawan/suka bersedekah, bahwa orang-orang yang murah hati cenderung memiliki ambisi terselubung yakni ingin dilipat gandakan hartanya. Hm, saya sih gak nyalahin statusnya itu, cuma pengen ngelurusin aja, harusnya kata-katanya 'kemurahan hati memiliki motivasi tersendiri' itu baru benar. 'Ambisi terselubung' koq rada berlebihan ya menurut saya.
Dalam bersedekah, sebenarnya kita sedang bertransaksi dengan Allah, terkoneksi dengan Allah. Mungkin ada orang yang sedang membutuhkan, lalu dia meminta kepada Allah, kebetulan kita yang dipilih Allah untuk titipan rejekinya. Jadi kalo kita tahan rejeki itu, bayangkan betapa kecewanya Allah dengan sikap kita. Di masa depan Allah akan mencari orang lain untuk dititipi rejeki dan bukan kita. Beda kalo kita murah hati, Allah akan semakin percaya untuk menitipkan banyak rejeki lewat tangan kita. Allah yakin, ketika kita yang diberi kelancaran rejeki, akan membantu distribusi rejeki pada orang-orang di sekitar kita. Jadi semakin berlipat-lipatlah rejeki kita.
Jadi sah sah saja kita bersedekah dengan motivasi agar Allah melipat gandakan rejeki. Itu bukan ambisi kalo menurut saya. Sangat boleh kita mengharapkan rejeki kepada Allah. Daripada kita berambisi melipat gandakan rejeki lewat meja judi online misalnya, atau mengharap pelipat gandaan rejeki lewat riba, mana yang lebih baik? Sebagaimana janji Allah, bahwa Allah mengharamkan riba dan menyuburkan shodaqoh. riba semakin ditanam semakin merugikan praktisinya, rejeki itu akan keluar misalkan melalui sakit yang penyembuhannya butuh biaya mahal, ketidak tenangan hati karena makan uang hasil riba, dan lain sebagainya. Sedangkan shodaqoh, Allah janjikan akan tumbuh subur, semakin di tanam, akan semakin rimbun. Dan sedekah juga dapat menghapus dosa dan memanjangkan umur, itu diketahui dengan membaca riwayat para sahabat rasulullah di masa lalu yang gemar bersedekah, sedekahnya gak tanggung-tanggung pula, kadang sedekah kebun kurma, kadang sedekah onta, dan lain sebagainya. Subhanallah.
Wallahu a'lam bish showwab....
Nah, kembali ke status fb teman tadi, dia menyebut 'kemurahan hati', identik dengan sedekah. Entah ada kaitannya dengan ceramah UYM atau tidak, Mungkin maksudnya si teman ini 'sedikit menyindir' orang yang murah hati/dermawan/suka bersedekah, bahwa orang-orang yang murah hati cenderung memiliki ambisi terselubung yakni ingin dilipat gandakan hartanya. Hm, saya sih gak nyalahin statusnya itu, cuma pengen ngelurusin aja, harusnya kata-katanya 'kemurahan hati memiliki motivasi tersendiri' itu baru benar. 'Ambisi terselubung' koq rada berlebihan ya menurut saya.
Dalam bersedekah, sebenarnya kita sedang bertransaksi dengan Allah, terkoneksi dengan Allah. Mungkin ada orang yang sedang membutuhkan, lalu dia meminta kepada Allah, kebetulan kita yang dipilih Allah untuk titipan rejekinya. Jadi kalo kita tahan rejeki itu, bayangkan betapa kecewanya Allah dengan sikap kita. Di masa depan Allah akan mencari orang lain untuk dititipi rejeki dan bukan kita. Beda kalo kita murah hati, Allah akan semakin percaya untuk menitipkan banyak rejeki lewat tangan kita. Allah yakin, ketika kita yang diberi kelancaran rejeki, akan membantu distribusi rejeki pada orang-orang di sekitar kita. Jadi semakin berlipat-lipatlah rejeki kita.
Jadi sah sah saja kita bersedekah dengan motivasi agar Allah melipat gandakan rejeki. Itu bukan ambisi kalo menurut saya. Sangat boleh kita mengharapkan rejeki kepada Allah. Daripada kita berambisi melipat gandakan rejeki lewat meja judi online misalnya, atau mengharap pelipat gandaan rejeki lewat riba, mana yang lebih baik? Sebagaimana janji Allah, bahwa Allah mengharamkan riba dan menyuburkan shodaqoh. riba semakin ditanam semakin merugikan praktisinya, rejeki itu akan keluar misalkan melalui sakit yang penyembuhannya butuh biaya mahal, ketidak tenangan hati karena makan uang hasil riba, dan lain sebagainya. Sedangkan shodaqoh, Allah janjikan akan tumbuh subur, semakin di tanam, akan semakin rimbun. Dan sedekah juga dapat menghapus dosa dan memanjangkan umur, itu diketahui dengan membaca riwayat para sahabat rasulullah di masa lalu yang gemar bersedekah, sedekahnya gak tanggung-tanggung pula, kadang sedekah kebun kurma, kadang sedekah onta, dan lain sebagainya. Subhanallah.
Wallahu a'lam bish showwab....
Hidup Ini Unik...
Hidup ini begitu unik. Apa yang awalnya aku anggap kesedihan, ternyata ujungnya adalah kebaikan. Ketika telah tiba pada suatu kondisi, seringkali aku baru menyadari makna-makna terselubung dari kondisi-kondisi sebelumnya karena aku tidak banyak mengerti tentang hidup ini. Aku tidak mau memberikan cap tertentu kepada hidup ini karena aku tidak banyak mengerti. Sama seperti ketika aku tidak mengerti seseorang, aku tidak boleh men-cap orang itu baik atau buruk, karena itu bukan hakku. Bahkan ketika aku sudah tahu persis orang itu seperti apa, hidup ini seperti apa, aku pun tidak boleh memberikan cap karena aku hanyalah insan yang di dunia ini hanya sebagai pengunjung.
Terkadang kebahagiaan malah muncul ketika aku rela menjalani apa yang ada. Memang benar bila terlalu ingin dibahagiakan oleh orang lain, ini justru membuat tidak bahagia pada akhirnya. Terkadang Allah swt ingin menguji kesabaran kita, sanggupkah kita terus menjalani hidup ketika kita tidak mengerti mengapa itu terjadi dan kita tidak menyalahkan siapa-siapa. Sanggupkah kita seperti itu? Keindahan inilah, kemuliaan inilah, yang Allah swt inginkan dari kita untuk kita persembahkan kepada-Nya. Orang ikhlas itu sangat disegani, orang ikhlas itu mulia, orang ikhlas itu harum, dan orang ikhlas itu indah...
Terkadang kebahagiaan malah muncul ketika aku rela menjalani apa yang ada. Memang benar bila terlalu ingin dibahagiakan oleh orang lain, ini justru membuat tidak bahagia pada akhirnya. Terkadang Allah swt ingin menguji kesabaran kita, sanggupkah kita terus menjalani hidup ketika kita tidak mengerti mengapa itu terjadi dan kita tidak menyalahkan siapa-siapa. Sanggupkah kita seperti itu? Keindahan inilah, kemuliaan inilah, yang Allah swt inginkan dari kita untuk kita persembahkan kepada-Nya. Orang ikhlas itu sangat disegani, orang ikhlas itu mulia, orang ikhlas itu harum, dan orang ikhlas itu indah...
Perspektif Kehampaan...
Selama ini kita menganggap kehampaan hati yang kita alami pada saat tertentu sebagai hal yang tidak wajar atau tidak normal. Batin kita berteriak, "Mengapa ini harus terjadi?" ini justru tambah menyakiti, karena kita sudah punya standar bahwa apa pun yang kosong harus diisi. Apa pun yang hampa harusnya terisi segera agar bahagia itu datang. Bagimana kalau kita balik perspektifnya? Andaikata yang kosong itu tetap tak terisi, yang hampa itu tidak diisi, tetap hampa dan kosong seperti itu, namun mengajari kita arti ketegaran hidup? Kalau kehampaan itu mengajari kita makna ketegaran hidup, sebenarnya ini adalah kebermaknaan. Ini hidup yang bermakna bila sanggup memaknai sedemikian rupa.
Saya berharap anda yang sedang membaca ini, bila anda sedang merasa kehilangan, hampa dan kosong serta ketiadaan harapan, tetaplah percaya bahwa bahkan dalam kekosongan sekalipun, Allah swt mendatangkan makna yang berharga bagi hidup, yaitu ketegaran. Tegar itu sebenarnya lebih mulia, lebih mahal dari sekadar bahagia. Orang yang tegar itu lebih mahal, lebih mulia daripada orang yang bahagia.
Orang yang bahagia belum tentu tegar, siapa tahu kebahagiaannya bersyarat. Berbeda dengan orang yang tegar, kondisi yang tidak bahagia pun dia sanggup tegar, bisa berdiri tegap, berdiri teguh dan kokoh.
Ada kondisi ketika memang jelas-jelas hidup ini tidak indah, baik secara indrawi maupun secara persepsi. Namun, kalau dalam ketidak indahan itu kita sanggup menemukan kesempatan emas, Allah swt ternyata mendidik kita untuk sederhana dalam pengharapan, bisa kokoh dalam berdiri. Ketika itu sudah terjadi, nikmatnya luar biasa. Kenikmatan itu luar biasa karena kita sanggup merasakan tuntunan Allah pada kondisi yang buruk. Orang yang tidak mengalami, tidak akan merasakan seperti ini.
Tidak selalu jiwa itu bekerja seperti matematika, 2+3 harus 5, 1x0 harus 0. Jiwa itu sangat kualitatif, tidak dapat diperlakukan dan dianggap kuantitatif. Parahnya, banyak orang yang menempatkan kebahagiaannya sebagai sesuatu yang kuantitatif, "Kalau aku punya uang 10 juta aku bahagia", "Kalau aku dapat proyek, aku bahagia". Itu kan kuantitatif, artinya, kita menentukan kebahagiaan berupa angka, bahagia juga sih akhirnya, tapi kita jadi terbiasa ke arah situ.
Mengapa dihubungkan dengan matematika? Sebenarnya saya ingin mengaitkan bahwa otak kita ini terbiasa memenuhi sebuah aturan, aturan yang umum dan mendunia. Dengan begitu barulah kita merasa nyaman dan bahagia. Kalau kita melihat jiwa kita kosong dan hampa, tanpa disadari kita menetapkan target-target (umum dan standar ketetapan manusia) yang diinginkan. Kita ingin yang hampa menjadi hilang dan digantikan dengan kebahagiaan. Dengan keinginan seperti ini, diri kita malah bertambah galau. Karena itu, sebagai solusi, lihatlah kehampaan dari perspektif berbeda, terimalah rasa hampa sebagai hal yang wajar dan lumrah, juga sebagai masa-masa emas untuk belajar ketegaran dari Allah swt. Yakinlah bahwa rasanya akan sangat luar biasa dan galau jadi hilang selamanya.... ^_^
Sumber inspiratif: Sebuah Buku Keren
Saya berharap anda yang sedang membaca ini, bila anda sedang merasa kehilangan, hampa dan kosong serta ketiadaan harapan, tetaplah percaya bahwa bahkan dalam kekosongan sekalipun, Allah swt mendatangkan makna yang berharga bagi hidup, yaitu ketegaran. Tegar itu sebenarnya lebih mulia, lebih mahal dari sekadar bahagia. Orang yang tegar itu lebih mahal, lebih mulia daripada orang yang bahagia.
Orang yang bahagia belum tentu tegar, siapa tahu kebahagiaannya bersyarat. Berbeda dengan orang yang tegar, kondisi yang tidak bahagia pun dia sanggup tegar, bisa berdiri tegap, berdiri teguh dan kokoh.
Ada kondisi ketika memang jelas-jelas hidup ini tidak indah, baik secara indrawi maupun secara persepsi. Namun, kalau dalam ketidak indahan itu kita sanggup menemukan kesempatan emas, Allah swt ternyata mendidik kita untuk sederhana dalam pengharapan, bisa kokoh dalam berdiri. Ketika itu sudah terjadi, nikmatnya luar biasa. Kenikmatan itu luar biasa karena kita sanggup merasakan tuntunan Allah pada kondisi yang buruk. Orang yang tidak mengalami, tidak akan merasakan seperti ini.
Tidak selalu jiwa itu bekerja seperti matematika, 2+3 harus 5, 1x0 harus 0. Jiwa itu sangat kualitatif, tidak dapat diperlakukan dan dianggap kuantitatif. Parahnya, banyak orang yang menempatkan kebahagiaannya sebagai sesuatu yang kuantitatif, "Kalau aku punya uang 10 juta aku bahagia", "Kalau aku dapat proyek, aku bahagia". Itu kan kuantitatif, artinya, kita menentukan kebahagiaan berupa angka, bahagia juga sih akhirnya, tapi kita jadi terbiasa ke arah situ.
Mengapa dihubungkan dengan matematika? Sebenarnya saya ingin mengaitkan bahwa otak kita ini terbiasa memenuhi sebuah aturan, aturan yang umum dan mendunia. Dengan begitu barulah kita merasa nyaman dan bahagia. Kalau kita melihat jiwa kita kosong dan hampa, tanpa disadari kita menetapkan target-target (umum dan standar ketetapan manusia) yang diinginkan. Kita ingin yang hampa menjadi hilang dan digantikan dengan kebahagiaan. Dengan keinginan seperti ini, diri kita malah bertambah galau. Karena itu, sebagai solusi, lihatlah kehampaan dari perspektif berbeda, terimalah rasa hampa sebagai hal yang wajar dan lumrah, juga sebagai masa-masa emas untuk belajar ketegaran dari Allah swt. Yakinlah bahwa rasanya akan sangat luar biasa dan galau jadi hilang selamanya.... ^_^
Sumber inspiratif: Sebuah Buku Keren
Thursday, June 15, 2017
Iman dan Pergaulan....
"Injak kepalaku ini, hai Bilal! Demi Allah, kumohon injaklah!" Abu Dzar Al-Ghifari meletakkan kepalanya di tanah berdebu. Dilumurkannya pasir ke wajahnya dan dia menunggu penuh harap terompah Bilal Ibn Rabah segera mendarat di pelipisnya.
"Kumohon Bilal Saudaraku," rintihnya, "injaklah wajahku. Demi Allah aku berharap dengannya Allah akan mengampuniku dan menghapus sifat jahiliyah dari jiwaku." Abu Dzar ingin sekali menangis. Isi hatinya bergumul campur aduk. Dia menyesal. Dia sedih. Dia takut. Dia marah pada dirinya sendirinya sendiri.
Sayangnya Bilal terus menggeleng dengan mata berkaca-kaca. Peristiwa itu memang berawal dari kekesalan Abu Dzar pada Bilal hingga lisannya melontarkan kata-kata kasar, "Hai anak budak hitam!"
Rasulullah yang mendengar hardikan Abu Dzar pada Bilal itu memerah wajahnya. Dengan bergegas bagai petir menyambar, beliau menghampiri dan menegurnya. "Engkau!" sabda beliau dengan telunjuk mengarah ke wajah Abu Dzar, "sungguh dalam dirimu masih terdapat jahiliyah!"
Maka Abu Dzar yang dikejutkan hakikat dan disergap rasa bersalah itu serta-merta bersujud dan memohon Bilal menginjak kepalanya. Berulang-ulang dia memohon, tapi Bilal tegak mematung. Dia marah, sekaligus haru. "Aku memaafkan Abu Dzar Ya Rasulullah," Kata Bilal. "Dan biarlah urusan ini tersimpan di sisi Allah, menjadi kebaikan bagiku kelak."
Hati Abu Dzar perih mendengar itu. Alangkah lebih ringan andai semua bisa ditebusnya di dunia. Alangkah tak nyaman menelusuri sisa umur dengan rasa bersalah yang tak terlupakan. Demikianlah Abu Dzar, sahabat Rasulullah yang mulia. Adapun kita, dengan segala kelemahan dan kealpaan dalam menjaga hubungan dengan sesama, mungkin tak hanya satu jari yang harus ditelunjukkan ke wajah kita???
Kemampuan berhubungan baik dengan sesama manusia rupanya bukan akibat serta-merta dari iman yang kokoh menjulang. Baik iman maupun kemampuan adalah dua hal yang memang seharusnya bersesuaian. Agama ini menuntut kita beriman, tapi juga berakhlak mulia. Dan puncaknya, kemanfaatan serta mendahulukan hajat sesama meski diri sendiri lebih memerlukan, menjadikan kita mulia. Dia yang berjuang agar menjadi peyakin sejati yang sempurna imannya, seharusnya juga berjuang untuk menjadi pribadi yang baik akhlaknya." Begitulah, Iman maupun daya kita untuk menjalin hubungan baik adalah hal yang sama-sama harus diikhtiarkan sengan segenap kemampuan.
Sumber: Tulisan Salim A. Fillah dalam Rubrik Tazkiyatun Nafs Majalah Ummi No.04/XXIX Tahun 2017
"Kumohon Bilal Saudaraku," rintihnya, "injaklah wajahku. Demi Allah aku berharap dengannya Allah akan mengampuniku dan menghapus sifat jahiliyah dari jiwaku." Abu Dzar ingin sekali menangis. Isi hatinya bergumul campur aduk. Dia menyesal. Dia sedih. Dia takut. Dia marah pada dirinya sendirinya sendiri.
Sayangnya Bilal terus menggeleng dengan mata berkaca-kaca. Peristiwa itu memang berawal dari kekesalan Abu Dzar pada Bilal hingga lisannya melontarkan kata-kata kasar, "Hai anak budak hitam!"
Rasulullah yang mendengar hardikan Abu Dzar pada Bilal itu memerah wajahnya. Dengan bergegas bagai petir menyambar, beliau menghampiri dan menegurnya. "Engkau!" sabda beliau dengan telunjuk mengarah ke wajah Abu Dzar, "sungguh dalam dirimu masih terdapat jahiliyah!"
Maka Abu Dzar yang dikejutkan hakikat dan disergap rasa bersalah itu serta-merta bersujud dan memohon Bilal menginjak kepalanya. Berulang-ulang dia memohon, tapi Bilal tegak mematung. Dia marah, sekaligus haru. "Aku memaafkan Abu Dzar Ya Rasulullah," Kata Bilal. "Dan biarlah urusan ini tersimpan di sisi Allah, menjadi kebaikan bagiku kelak."
Hati Abu Dzar perih mendengar itu. Alangkah lebih ringan andai semua bisa ditebusnya di dunia. Alangkah tak nyaman menelusuri sisa umur dengan rasa bersalah yang tak terlupakan. Demikianlah Abu Dzar, sahabat Rasulullah yang mulia. Adapun kita, dengan segala kelemahan dan kealpaan dalam menjaga hubungan dengan sesama, mungkin tak hanya satu jari yang harus ditelunjukkan ke wajah kita???
Kemampuan berhubungan baik dengan sesama manusia rupanya bukan akibat serta-merta dari iman yang kokoh menjulang. Baik iman maupun kemampuan adalah dua hal yang memang seharusnya bersesuaian. Agama ini menuntut kita beriman, tapi juga berakhlak mulia. Dan puncaknya, kemanfaatan serta mendahulukan hajat sesama meski diri sendiri lebih memerlukan, menjadikan kita mulia. Dia yang berjuang agar menjadi peyakin sejati yang sempurna imannya, seharusnya juga berjuang untuk menjadi pribadi yang baik akhlaknya." Begitulah, Iman maupun daya kita untuk menjalin hubungan baik adalah hal yang sama-sama harus diikhtiarkan sengan segenap kemampuan.
Sumber: Tulisan Salim A. Fillah dalam Rubrik Tazkiyatun Nafs Majalah Ummi No.04/XXIX Tahun 2017
Friday, May 26, 2017
Statistik Sektoral Daerah di Kabupaten Batang Hari (Part 2)

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah menetapkan klasifikasi urusan pemerintahan. Klasifikasi urusan pemerintahan terdiri dari 3 (tiga) urusan yakni Urusan Pemerintahan Absolut, Urusan Pemerintahan Konkuren, dan Urusan Pemerintahan Umum. Urusan Pemerintahan Absolut adalah urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah Pusat. Urusan Pemerintahan Konkuren adalah urusan pemerintahan yang dibagi antara Pemerintah Pusat dan Daerah Provinsi serta Daerah Kabupaten/Kota. Sedangkan Urusan Pemerintahan Umum adalah Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Presiden sebagai Kepala Pemerintahan. Pembagian urusan pemerintahan konkuren antara Pemerintah Pusat dan Daerah Provinsi serta Daerah Kabupaten/Kota sebagaimana disebutkan sebelumnya, didasarkan pada prinsip akuntabilitas, efisiensi, dan eksternalitas, serta kepentingan strategis nasional.
Dengan adanya klasifikasi urusan pemerintahan tersebut, diuraikan Sektor-sektor Pembangunan terdiri atas 6 (enam) Urusan Pemerintahan Daerah Absolut, 6 (enam) Urusan Wajib Pelayanan Dasar, 17 (tujuh belas) Urusan Wajib Non Pelayanan Dasar, dan 8 (delapan) Urusan Pilihan.
Sektor-sektor Pembangunan Daerah berdasarkan pembagian urusan pemerintahan dapat dirinci sebagai berikut:
Urusan Pemerintahan Daerah Absolut:
1) Pertahanan
2) Keamanan
3) Agama
4) Yustisi
5) Politik Luar Negeri
6) Moneter dan Fiskal
Urusan Wajib Pelayanan Dasar:
1) Pendidikan
2) Kesehatan
3) Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang
4) Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman
5) Ketentraman, Ketertiban Umum, dan Perlindungan Masyarakat
6) Sosial
Urusan Wajib Non Pelayanan Dasar:
1) Tenaga Kerja
2) Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
3) Pangan
4) Pertanahan
5) Lingkungan Hidup
6) Administrasi, Kependudukan, dan Pencatatan Sipil
7) Pemberdayaan Masyarakat dan Desa
8) Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana
9) Perhubungan
10) Komunikasi dan Informatika
11) Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah.
12) Penanaman Modal
13) Kepemudaan dan Olahraga
14) Statistik
15) Persandian
16) Kebudayaan
17) Perpustakaan
Urusan Pilihan:
1) Kelautan dan Perikanan
2) Pariwisata
3) Pertanian
4) Kehutanan
5) Energi dan Sumber Daya Mineral
6) Perdagangan
7) Perindustrian
8) Transmigrasi
Statistik merupakan salah satu Urusan Wajib Non Pelayanan Dasar. Di Kabupaten Batang Hari, berdasarkan Peraturan Bupati Nomor 47 Tahun 2016, Urusan Statistik bergabung dengan Urusan Persandian, Komunikasi dan Informatika berada pada bidang kerja yang berbeda pada Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Batang Hari, yang merupakan salah satu Organisasi Perangkat Daerah (OPD) baru dan aktif melaksanakan berbagai kegiatan dan urusan pemerintahannya di tahun 2017 ini.
Pada tahun-tahun sebelumnya hingga tahun 2016, urusan statistik sektoral daerah menjadi tanggung jawab Bappeda Kabupaten Batang Hari yang bekerjasama dengan BPS Kabupaten Batang Hari. Selama kurun waktu tersebut, media publikasi yang dihasilkan setiap tahunnya antara lain berupa Buku Batang Hari dalam Angka (BHDA), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Indikator Kesejahteraan Rakyat, dan Indikator Ekonomi.
Terkait dengan hal tersebut di atas, kondisi saat ini di Kabupaten Batang Hari antara lain: terdapat beberapa OPD yang telah lengkap pengumpulan datanya, namun masih belum tersusun dalam suatu laporan. Di sisi lain, ada OPD yang telah lengkap pengumpulan dan penyusunan datanya, namun belum terpublikasi dengan baik, dalam artian aksesibilitasnya terbatas internal OPD yang bersangkutan saja. Padahal data yang ada terkadang merupakan data yang bersifat positif dan cerminan capaian pembangunan daerah yang seharusnya diketahui masyarakat.
Dengan mengevaluasi publikasi statistik yang telah ada di Kabupaten Batang Hari, maka Sektor-Sektor Pembangunan Daerah yang belum optimal pengumpulan, penyusunan, dan atau publikasi data Statistiknya antara lain:
1. Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang
2. Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman
3. Ketentraman, Ketertiban Umum, dan Perlindungan Masyarakat
4. Sosial
5. Tenaga Kerja
6. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
7. Pertanahan
8. Lingkungan Hidup
9. Pemberdayaan Masyarakat dan Desa
10. Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah
11. Penanaman Modal
12. Kepemudaan dan Olaharga
13. Persandian
14. Kebudayaan
15. Perindustrian
16. Transmigrasi
Sementara itu, beberapa sektor yang telah diakomodir pengumpulan datanya melalui kegiatan penyusunan data dan informasi sektoral daerah pada Dinas Komunikasi dan Informatika tahun 2017 ini antara lain Sektor Pertanian yang berada di bawah naungan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, Sektor Perkebunan dan Peternakan, serta sektor perikanan yang menjadi tugas pokok Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan.
Hingga bulan Mei 2017, Dinas Komunikasi dan Informatika telah berupaya mengumpulkan Data dan Informasi Statistik Sektoral Daerah, baik melalui surat permintaan data yang berisi lampiran form isian data, mengumpulkan data sektor pertanian, peternakan, perkebunan dan perikanan, serta mendistribusikan kuesioner dengan berbagai tema.
Salah satu fokus utama dalam pengumpulan data pada 4 (empat sektor) di atas, antara lain Data potensi, produk dan komoditas dominan pada tiap desa per kecamatan. Beberapa data terkait potensi, produk dan komoditas dominan untuk sektor tersebut telah disampaikan oleh Tim Pengumpul Data kepada Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Batang Hari.
Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Batang Hari menyadari bahwa komitmen untuk memperbaiki kualitas publikasi data sangat penting dan membutuhkan kerjasama yang baik dengan berbagai pihak. Tahun 2017 ini menjadi tahun yang penuh tantangan bagi Dinas Kominfo sebagai salah satu OPD baru dan mengemban berbagai tugas dalam penyediaan informasi publik. Kami berupaya untuk menghasilkan data sektoral daerah yang berkualitas serta dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat.
Untuk itu ke depannya, Dinas Kominfo Kabupaten Batang Hari berencana untuk menyajikan publikasi statistik sektoral daerah selain dalam bentuk Buku, juga dalam bentuk majalah, pamflet, leaflet, brosur, serta mengintegrasikannya ke dalam website pemerintah Kabupaten Batang Hari.
Statistik sektoral daerah, pemanfaatannya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan instansi pemerintah dalam rangka penyelenggaraan tugas-tugas pemerintah dan tugas pembangunan (sesuai tugas pokok dan fungsi setiap OPD). Statistik sektoral daerah memerlukan kolaborasi data antar instansi pemerintah untuk kemudian dilakukan penyusunan data dalam rangka menunjang kebijakan pembangunan. Untuk itu kami sangat mengharapkan kerjasama yang baik seluruh OPD /kooperatif terkait data statistik sektoral daerah dan bersedia dimintai datanya untuk dipublikasikan oleh Dinas KOMINFO Kabupaten Batang Hari.
Pada kesempatan ini, kami juga menghimbau seluruh OPD yang ada di Kabupaten Batang Hari untuk berupaya berkoordinasi dengan Dinas KOMINFO dalam meng-update halaman web instansinya, dan semoga di masa yang akan datang web OPD dapat memuat data-data statistik sektoral daerah, terutama data yang mencerminkan prestasi dan capaian pembangunan daerah agar Open Data dengan aksesibilitas tinggi dapat tersedia.

Statistik Sektoral Daerah di Kab. Batang Hari (Part 1)

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, di dalam Lampiran Undang-Undang tersebut dirinci bahwa pada Bidang Komunikasi dan Informatika, Pemerintah Kabupaten/Kota dalam hal ini Dinas KOMINFO Kabupaten Batang Hari, memiliki tugas pokok terkait pengelolaan informasi dan komunikasi publik Pemerintah Kabupaten Batang Hari. Salah satunya adalah urusan statistik.
Urusan statistik merupakan urusan wajib non pelayanan dasar. Urusan statistik kemudian dibagi menjadi Statistik Dasar, Statistik Sektoral, dan Statistik Khusus. Statistik dasar pemanfaatannya ditujukan untuk keperluan yang bersifat luas, baik pemerintah maupun masyarakat, yang memiliki ciri-ciri lintas sektoral contoh output statistik dasar adalah Buku Batang Hari dalam Angka dan Buku PDRB. Statistik khusus pemanfaatannya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan intern dari suatu instansi/perusahaan swasta dalam rangka penyelenggaraan riset atau penelitian. Statistik Dasar dan Statistik Khusus menjadi kewenangan BPS. Statistik sektoral daerah pemanfaatannya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan instansi pemerintah dalam rangka penyelenggaraan tugas-tugas pemerintah dan tugas pembangunan (sesuai tugas pokok dan fungsi setiap OPD). Statistik sektoral daerah memerlukan kolaborasi data antar instansi pemerintah untuk kemudian dilakukan penyusunan data dalam rangka menunjang kebijakan pembangunan. Statistik Sektoral Daerah merupakan kewenangan Provinsi/Kabupaten/Kota. Dan sebagaimana kita ketahui, kewenangan statistik sektoral daerah berada di bawah koordinasi Dinas Komunikasi dan informatika Kabupaten Batang Hari.
Pelaksanaan urusan konkuren terkait statistik sektoral daerah ini meliputi pengumpulan, pengolahan, analisis, dan diseminasi data statistik sektoral lingkup Kabupaten. Dinas KOMINFO selanjutnya diharapkan dapat mengoptimalkan urusan statistik di Kabupaten Batang Hari ini, untuk selanjutnya menjadi Tanggung jawab Dinas KOMINFO pula dalam peningkatan efektivitas dan efisiensi statistik sektoral daerah ini melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), terutama dalam mengintegrasikan data yang telah terkumpul ke dalam website pemerintah Kabupaten Batang Hari.
Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Batang Hari selanjutnya dapat meningkatkan kinerja statistik sektoral daerah melalui berbagai kegiatan berupa pengumpulan, pengolahan, analisis, dan diseminasi data statistik sektoral lingkup Kabupaten, penyelenggaraan survey, penyelenggaraan kompilasi produk administrasi, penyediaan peralatan infrastruktur statistik sektoral daerah, dan pengembangan sumber daya manusia bidang statistik, dan lain sebagainya.
Kemudian merujuk kepada Permendagri Nomor 32 Tahun 2017 tentang Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2018, maka pelaksanaan urusan statistik di daerah pada tahun 2018 nanti diharapkan dapat menyelenggarakan survei untuk penyediaan data statistik sektoral, menyelenggarakan kompilasi produk administrasi statistik sektoral daerah dengan memanfaatkan berbagai dokumen produk administrasi dari instansi pemerintah atau masyarakat, melakukan pengolahan hasil statistik sektoral, melakukan analisis data statistik sektoral, melakukan penyajian data statistik sektoral, koordinasi dengan BPS dalam pembakuan konsep, definisi, klasifikasi, serta ukuran-ukuran. Dan poin penting lainnya adalah melaksanakan pembinaan terhadap penyelenggaraan statsitik sektoral, pengguna statistik, responden, dan apresiasi masyarakat terhadap survei statistik sektoral.
Untuk mewujudkan transparansi data khususnya statistik sektoral daerah, Diharapkan kerjasama yang baik seluruh OPD /kooperatif terkait data statistik sektoral daerah dan bersedia dimintai datanya untuk dipublikasikan oleh Dinas KOMINFO. Dengan demikian terwujud kolaborasi dan kemitraan yang mumpuni dalam pengumpulan dan penyajian data statistik sektoral daerah yang dapat diakses oleh masyarakat terutama dalam meningkatkan citra positif Pemerintah Kabupaten Batang Hari.
Wednesday, May 3, 2017
Indikator Suksesnya Kepemimpinan Rasulullah S'AW
Banyak orang mengira Rasulullah S'AW hanya memimpin sebuah negara bernama Madinah. Padahal, jauh lebih besar dari itu.
Sesungguhnya Rasulullah S'AW adalah seorang pemimpin agama dan negara dengan wilayah yang terbentang sepanjang jazirah Arab dan Syam atau Timur Tengah. Yaman, yang kita kenal sebagai sebuah negara, di zaman Rasulullah hanyalah sebuah provinsi. Hal itu terbukti dengan pengangkatan Sahabat Muaz bin Jabal R'A sebagai Gubernur di sana. Begitu juga dengan Syam yang meliputi beberapa negara di zaman kita sekarang, sesungguhnya wilayah itu di zaman Rasulullah hanyalah sebuah Provinsi dengan seorang Gubernur yang bernama Abu Musa Al-Asy'ari.
Dengan kekuasaan yang demikian luas, logiskah jika semua warga yang hidup di wilayah tersebut hanyalah warga muslim? Warga yang berdomisili di seluruh wilayah kekuasaan Rasulullah S'AW menganut agama yang berbeda-beda. Sebagian mereka bergama Yahudi dan sebagian lagi Nasrani, bahkan ada sebagian kecil yang menganut agama Majusi. Rakyat beliau S'AW juga multietnis, mulai dari yang berdarah Arab, Persia, Afrika, hingga Romawi/Eropa. Namun Rasulullah S'AW sukses memimpin seluruh keberagaman itu dalam harmoni.
Suksesnya kepemimpinan Rasulullah S'AW dapat diukur dengan beberapa indikator, di antaranya:
1. Terciptanya Keamanan secara Luas
Kota Yatsrib (Nama lama dari Kota Madinah), sebelum hijrahnya Rasulullah S'AW ke sana, selalu dilanda kekisruhan politik, ekonomi, dan sosial. Namun lihatlah kondisinya setelah Rasulullah S'AW berhijrah. Madinah menjadi tempat tinggal yang aman dan nyaman bagi semua penduduknya. Perekonomian masyarakat meroket dan terciptalah kesejahteraan yang luas. Dengan demikian, kehidupan sosial mereka terasa sangat harmonis dan penuh cinta kasih antara satu dengan lainnya.
2. Meningkatnya taraf hidup dan ekonomi masyarakat
Sahabat dari kalangan Muhajirin yang dulu berhijrah bersama Nabi S'AW tanpa membawa bekal materi yang cukup, tidak menjadi beban bagi penduduk asli Madinah. Tidak sedikit dari golongan Muhajirin yang di kemudian hari justru menjadi konglomerat dan memiliki kekayaan yang berlimpah. Begitu juga dengan penduduk asli Madinah, Kaum Anshar, mereka memiliki kekayaan yang berlipat ganda setelah Rasulullah S'AW menjadi pemimpin di negeri mereka. Padahal, saat Yahudi mendominasi kehidupan penduduk Madinah, mereka terlilit riba dan kehidupan ekonomi mereka sangatlah buruk.
3. Menyatunya Masyarakat
Awalnya, tawuran antar warga dan antar suku merupakan pemandangan sehari-hari di Kota Yastrib. Namun kondisi tidak nyaman itu segera lenyap dan berganti dengan keharmonisan dan kasih sayang setelah Rasulullah S'AW memimpin mereka. Rasulullah S'AW adalah pemimpin yang sukses secara fakta dan data. Kepemimpinan beliau sangat berkesan positif hingga kini, sehingga sangat layak dan pantas untuk menjadi inspirasi dan petunjuk bagi semua orang yang ingin memilih seseorang untuk menjadi pemimpin atau ingin menjadi pemimpin.
Sumber: Majalah Ummi April 2017
Sesungguhnya Rasulullah S'AW adalah seorang pemimpin agama dan negara dengan wilayah yang terbentang sepanjang jazirah Arab dan Syam atau Timur Tengah. Yaman, yang kita kenal sebagai sebuah negara, di zaman Rasulullah hanyalah sebuah provinsi. Hal itu terbukti dengan pengangkatan Sahabat Muaz bin Jabal R'A sebagai Gubernur di sana. Begitu juga dengan Syam yang meliputi beberapa negara di zaman kita sekarang, sesungguhnya wilayah itu di zaman Rasulullah hanyalah sebuah Provinsi dengan seorang Gubernur yang bernama Abu Musa Al-Asy'ari.
Dengan kekuasaan yang demikian luas, logiskah jika semua warga yang hidup di wilayah tersebut hanyalah warga muslim? Warga yang berdomisili di seluruh wilayah kekuasaan Rasulullah S'AW menganut agama yang berbeda-beda. Sebagian mereka bergama Yahudi dan sebagian lagi Nasrani, bahkan ada sebagian kecil yang menganut agama Majusi. Rakyat beliau S'AW juga multietnis, mulai dari yang berdarah Arab, Persia, Afrika, hingga Romawi/Eropa. Namun Rasulullah S'AW sukses memimpin seluruh keberagaman itu dalam harmoni.
Suksesnya kepemimpinan Rasulullah S'AW dapat diukur dengan beberapa indikator, di antaranya:
1. Terciptanya Keamanan secara Luas
Kota Yatsrib (Nama lama dari Kota Madinah), sebelum hijrahnya Rasulullah S'AW ke sana, selalu dilanda kekisruhan politik, ekonomi, dan sosial. Namun lihatlah kondisinya setelah Rasulullah S'AW berhijrah. Madinah menjadi tempat tinggal yang aman dan nyaman bagi semua penduduknya. Perekonomian masyarakat meroket dan terciptalah kesejahteraan yang luas. Dengan demikian, kehidupan sosial mereka terasa sangat harmonis dan penuh cinta kasih antara satu dengan lainnya.
2. Meningkatnya taraf hidup dan ekonomi masyarakat
Sahabat dari kalangan Muhajirin yang dulu berhijrah bersama Nabi S'AW tanpa membawa bekal materi yang cukup, tidak menjadi beban bagi penduduk asli Madinah. Tidak sedikit dari golongan Muhajirin yang di kemudian hari justru menjadi konglomerat dan memiliki kekayaan yang berlimpah. Begitu juga dengan penduduk asli Madinah, Kaum Anshar, mereka memiliki kekayaan yang berlipat ganda setelah Rasulullah S'AW menjadi pemimpin di negeri mereka. Padahal, saat Yahudi mendominasi kehidupan penduduk Madinah, mereka terlilit riba dan kehidupan ekonomi mereka sangatlah buruk.
3. Menyatunya Masyarakat
Awalnya, tawuran antar warga dan antar suku merupakan pemandangan sehari-hari di Kota Yastrib. Namun kondisi tidak nyaman itu segera lenyap dan berganti dengan keharmonisan dan kasih sayang setelah Rasulullah S'AW memimpin mereka. Rasulullah S'AW adalah pemimpin yang sukses secara fakta dan data. Kepemimpinan beliau sangat berkesan positif hingga kini, sehingga sangat layak dan pantas untuk menjadi inspirasi dan petunjuk bagi semua orang yang ingin memilih seseorang untuk menjadi pemimpin atau ingin menjadi pemimpin.
Sumber: Majalah Ummi April 2017
Subscribe to:
Posts (Atom)